Apakah Kartu Merah Jarell Quansah untuk Inggris Akan Dibatalkan?
Agus Firmansyah July 08, 2026 02:13 PM

Pintu kontroversi terbuka lebar setelah intervensi Donald Trump terkait kartu merah yang diterima Folarin Balogun.


Tim nasional Inggris kini dipastikan harus bermain dengan satu pemain lebih sedikit pada laga perempat final Piala Dunia mendatang melawan Norwegia.


Hal itu terjadi setelah dalam laga dramatis di Stadion Azteca melawan Meksiko, Jarell Quansah diusir keluar lapangan karena melakukan tekel tinggi terhadap Jesus Gallardo.


The Three Lions berhasil memenangkan pertandingan tersebut dengan skor 3-2 dan melaju ke babak berikutnya, namun kehilangan satu lagi pemain bertahan.



Situasi ini menjadi masalah bagi Thomas Tuchel, yang sebelumnya memutuskan untuk tidak membawa Trent Alexander-Arnold, sementara Reece James dan Tino Livramento mengalami cedera. Kini hanya tersisa Djed Spence dan Ezri Konsa dengan pengalaman bermain di posisi bek kanan, meski Konsa kemungkinan besar dibutuhkan di lini tengah pertahanan.


Namun, mungkinkah Donald Trump telah membuka jalan bagi solusi?


Presiden Amerika Serikat tersebut secara kontroversial turun tangan dalam kasus skorsing striker tim nasional AS, Folarin Balogun, di babak 16 besar. Ia melakukan panggilan telepon langsung kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino, dan berhasil menunda hukuman satu pertandingan selama 12 bulan dengan menggunakan klausul yang belum pernah diterapkan sebelumnya di ajang Piala Dunia.


Tindakan tersebut menuai banyak kritik dari berbagai pihak di seluruh dunia – termasuk dari UEFA dan Asosiasi Sepak Bola Belgia – meskipun pada akhirnya tim Setan Merah memenangkan pertandingan berikutnya. Namun, langkah ini juga membuka peluang bagi banding serupa di masa mendatang.


Berdasarkan berbagai laporan, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) sedang mempertimbangkan untuk mengajukan banding terhadap kartu merah yang diterima Quansah.


Apakah banding tersebut akan berhasil, dan apakah prosesnya akan selesai tepat waktu agar Quansah bisa tampil melawan Norwegia, masih menjadi tanda tanya besar.


Timnas Prancis juga dikabarkan mempertimbangkan untuk mengajukan banding atas kartu kuning Michael Olise dalam pertandingan mereka melawan Paraguay, yang kemungkinan besar akan membuat FIFA kembali meninjau konsekuensi dari keputusan mereka sebelumnya.



Menurut pandangan FourFourTwo, langkah yang paling mungkin diambil oleh badan pengatur adalah berusaha menutup kembali 'pintu air' tersebut untuk menghindari kekacauan pasca pertandingan di setiap laga.


Mereka mungkin akan mendapatkan kritik atas keputusan itu, tetapi hal tersebut kemungkinan menjadi langkah sulit jangka pendek demi keuntungan jangka panjang, serta cara terbaik untuk keluar dari situasi rumit yang telah mereka ciptakan sendiri.


Jelas, seperti halnya kasus Balogun, pembatalan hukuman tidak sepenuhnya mustahil. Namun, pelanggaran yang dilakukan Quansah tampaknya lebih berat. Selain itu, Inggris tidak memiliki pengaruh sebesar tuan rumah Amerika Serikat, dan FIFA tampaknya ingin mengakhiri polemik yang mereka mulai tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.