Melati sang Puspa Bangsa sebagai Bunga Nasional Negara Indonesia
Moh. Habib Asyhad July 08, 2026 03:34 PM

Bunga nasional dari negara Indonesia adalah melati putih salah satunya. Ia disebut sebagai puspa bangsa.

Penulis: Slamet Suseno | Tayang di Majalah Intisari edisi September 1993 dengan judul "Melati Puspa Bangsa"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Bungan nasional dari negara Indonesia adalah yang tercantum dalam Keputusan Presiden Nomor 4 tahun 1993. Ada tiga jumlahnya: melati sebagai puspa bangsa, anggrek bulan sebagai puspa pesona, dan padma raksasa atau Rafflesia arnoldii sebagai puspa langka.

Kali ini kita akan membahas melati putih sebagai puspa bangsa.

Bunga melati telah ditetapkan sebagai puspa bangsa oleh pemerintah. Dari mana bunga ini, dan bagaimana kisahnya sampai ia dijadikan simbol bangsa kita?

Pertama-tama yang kita ingat kalau mendengar nama melati ialah: ia bunga temanten. Dalam musim pengantin seperti bulan Maulud, bertonton bunga melati dihabiskan untuk upacara perkawinan menurut adat Jawa.

Selain dirangkai menjadi untaian penghias sanggul, bunga melati juga dipakai menghias keris mempelai pria, di samping banyak yang dihabiskan untuk pengharum kamar temanten, dan karpet merah di depan kursi pelaminan. Belum lagi yang dipakai untuk siraman (memandikan colon pengantin) dan wiji dadi (mentunaskan benih) pada acara temu temanten.

Harumnya lembut

Bunga yang dipakai selalu yang masih kuncup. Ada kepercayaan penuh, bahwa dalam kuncup itu masih tersekap bau harum seharum-harumnya, ketimbang dalam bunga yang sudah mekar.

Dalam suhu sejuk pagi-pagi itu masih belum banyak minyak asiri biang keladi bau harum itu yang terbang. Dulu minyak seperti itu disebut resmi: minyak terbang. Tapi kemudian nama itu tak dipakai lagi karena sering diolok-olok.

Bau harum minyak itu lembut. Tidak menusuk seperti sedap malam misalnya. Itu gara-gara yasmon, sebuah cis-keton, 3-metil-2- (2-pen tenil)-2-siklopenten-1-on dan indol, 2,3-bensopirol.

Indol ini senyawaan aneh. Kalau dilarutkan encer sekali, baunya harum, tapi kalau pekat, auzubillah! Seperti bau gas yang keluar dari pintu belakang kita di kutub selatan.

“Sedaaaap!” seru seorang teman di dekat pintu itu.

Kadar paling tinggi (yasmon 3% dan indol 2,5%) terkandung dalam bunga yang selain masih kuncup, juga dipetik sebelum fajar menyingsing. Itulah sebabnya, pasar bunga selalu dibuka pada waktu subuh, sebelum suhu udara naik.

Jadi kalau Anda mau mencari bunga melati di pasar, jangan bangun kesiangan. Di pasar bunga Rawabelong misalnya, pasar hanya buka sebelum pukul 06.00. Sesudah itu tutup, dan kita tidak akan dapat membeli melati lagi. Kecuali bunga-bunga yang sudah terbang tadi.

Bunga itu berasal dari para petani kota di daerah Kebayoran Lama, Ciputat, dan Pasar Minggu. Dulu, ketika pasar bunga masih di Tanah Abang, melati dipasok dari Kelurahan Kebon Melati, dekat Kebon Pala dan Kebon Kacang. Tapi kini di Kebon Melati sudah tak ada kebun melatinya sama sekali.

Simbol kesucian

Tanaman bunga melati, Jasminum sambac, dari suku Oleaceae, berupa perdu perambat yang tingginya hanya 50 cm, kalau ditanam sendiri. Pada masa mudanya, ia berupa tanaman tegak, tapi kalau sudah tua, ia berubah menjadi tanaman yang batangnya merambat ke batang tanaman tetangganya, lalu merajalela sepanjang 3 m.

Bunganya seperti terompet kecil dengan mahkota yang terbuka ke segala penjuru kalau sudah mekar. Kalau masih kuncup, mahkota ini saling menutup membentuk semacam kenop yang mungil.

Jauh sebelum bunga itu ditetapkan sebagai puspa bangsa pada tanggal 5 Juli 1990, bentuk kuncupnya sebagai calon 3 mahkota sudah dipakai sebagai tanda pangkat para perwira menengah Angkatan Bersenjata kita. Mayor diberi satu, letnan kolonel dua, dan kolonel tiga kuntum, untuk dipasang di pundaknya.

Tradisi pemakaian kuncup melati sudah dimulai sejak zaman Hindu tahun 200, ketika orang-orang India membawa dagangan mereka ke Jawa Timur. Mereka memakai bunga itu sebagai pengiring sesaji pada upacara-upacara sakral.

Kemudian bunga itu makin banyak dipakai sebagai pengharum istana zaman Airlangga. Bunga itu sangat disukai di kalangan raja-raja Jawa, baik raja besar (seperti Hayam Wuruk dan Sultan Agung), maupun raja kecil (para bupati KDH seperti Menak Jinggo, Aryo Penangsang, Cakraningrat, Cokronegoro, Sosrodiningrat).

Para pujangga istana kemudian ada yang mengabadikan namanya dalam puisi mereka. Dan sebuah desa di sebelah selatan Sleman yang memasok bunga melati sehari-hari untuk Kota Yogyakarta diberi nama Mlati, sampai sekarang.

Belakangan, atas pertimbangan tradisi pemakaian yang merakyat, dan kesepakatan yang diperoleh melalui angket di kalangan pakar sosial budaya, bunga melati asal India itu ditetapkan sebagai puspa bangsa (bunga nasional) Indonesia.

Ia menyisihkan 20 jenis bunga lain yang dicalonkan oleh 27 propinsi.

Warnanya yang putih bersih mendorong orang untuk mengaguminya sebagai bunga suci. Putihnya khas agak kuning gading yang lembut, sampai warna seperti itu disebut putih melati.

Aiabische jasmijn

Sebenarnya tanaman melati hidup asli di Asia Tenggara, tapi tak diketahui pasti dari mana tepatnya ia berasal. Ia sudah dipakai oleh orang Hindu di India Selatan, jauh sebelum ada yang merantau ke Indonesia membawa melati itu ke Jawa Timur.

Oleh para pedagang Parsi yang menyebutnya yasaman, ia diperkenalkan ke Timur Tengah, sampai para pedagang Arab menyebarkannya ke Eropa sebagai yasmin. Orang Inggris yang kemudian mengenalnya dari orang Arab, menulis nama itu sebagai jasmine, sedangkan orang Amerika berabad-abad kemudian menyebutnya jessamine.

Hanya orang Belanda yang memberi nama Arabische jasmijn. Enak aja! Melati puspa bangsa kita disebut Arabische jasmijn!

Di Inggris, yang terkenal pakar botaninya itu, melati Arab kemudian dikembangkan menjadi dua kultivar (varietas kultur). Jasminum sambac "Maid of Orleans" yang bunganya tunggal tidak berlapis-lapis tapi muncul dalam kelompok terdiri atas 12 kuntum dan J. sambac "Grand Duke of Tuscany" yang bunganya ganda dengan mahkota berlapis-lapis sampai tampak seperti bunga gardenia—lalu dikagumi sebagai Gardenia jasmine.

Belakangan bunga yang baunya lebih tajam dari moyangnya ini dinaikkan pangkatnya menjadi spesies baru: Jasminum trifoliatum. Di Indonesia, melati tumpuk yang besar ini dikenal sebagai melati bangkok.

Soalnya, para penggemar bunga menerimanya pertama kali dari Bangkok, bukan dari London.

Karena melati kemudian ternyata banyak jenisnya, maka melati Asia Tenggara yang sudah telanjur salah dipanggil melati Arab itu disebut secara khusus melati putih. Ia memang berbeda dengan melati hutan, J. multiflorum (dulu J. pubescens) yang kuncup bunganya merah gambir.

Jenis ini berasal dari hutan-hutan Indonesia kita sendiri. Tapi tidak dipilih menjadi puspa bangsa.

Bunganya kecil-kecil (cuma 2 cm) tapi banyak (setandan berisi 15 kuntum), sampai disebut multiflorum. Ada 2 varietas yang tersebar di Pulau Jawa.

Varietas yang bunganya putih terus, baik masih kuncup maupun sesudah mekar, dikenal sebagai melati poncosudo. Sedangkan varietas yang kuncup bunganya merah gambir tapi berubah putih sesudah mekar, disebut melati gambir.

Kalau melati poncosudo (yang daun dan batangnya licin) dipakai daunnya sebagai jamu radang usus, melati gambir (yang daun dan batangnya berbulu) dimanfaatkan bunganya untuk mengharumkan daun teh. Teh wangi ini terkenal sebagai jasmine tea.

Yasmin berisi yasmon

Di Indonesia, bunga yang dipakai sebagai pengharum itu bunga segarnya. Ini mengandung risiko, bunga itu cepat rusak kalau diangkut kian kemari.

Bunga yang dipetik pada suatu hari harus laku dijual pada hari itu juga. Kalau tidak, ia menjadi sampah.

Permintaan pasar bagi petani melati tidak menentu. Kadang banyak kalau musim pengantin, kadang sedikit kalau tidak ada yang mantu.

Inilah sebabnya, sampai sekarang belum ada investor yang mau menanam modalnya dalam perkebunan melati Indonesia. Volume permintaan pasarnya tidak pasti.

Di negara-negara industri, bunga yang cepat rusak itu diekstrakkan saja minyak asirinya, lalu diolah menjadi minyak wangi jasmine. Jadi awet disimpan dan bisa dipasarkan kapan saja, dengan harga yang tetap mantap.

Jumlah bunga melati yang diminta selalu pasti, sesuai kapasitas produksi pabrik penyulingan minyak, dan rencana produksi yang ditetapkan sebelumnya. Petani bunga yang menanamnya besar-besaran juga pasti akan dibeli produknya, sesuai rencana itu.

Di daerah pertanian Grasse, wilayah Alpes-Maritimes, Prancis Selatan, bibit yang ditanam untuk pabrik melati semacam itu ialah hasil pemuliaan melati putih asal Cina, Jasminum officinale, sebagai batang bawah (biasanya sudah berumur 2 tahun), dengan melati spanyol asal India, J. officinale var. grandiflorus, sebagai batang atas.

Hasilnya berupa tanaman kombi yang menyemak, dengan bunga besar-besar dan banyak. Baunya juga lebih menyengat, karena kadar minyak yasmon lebih tinggi daripada bunga Jasminum moyangnya asli.

Di pabrik biang minyak wangi (mereka menyebutnya fragrance), bunga yang dipetik pagi-pagi seperti melati kita, cepat-cepat dimasukkan ke dalam panci besar. Setelah diberi eter minyak bumi, panci diputar selama beberapa jam, sampai semua minyak asiri yasmon dari bunga itu "ditarik" oleh eter dan larut bersamanya.

Untuk memisahkan eter pelarut ini, panci direbus kering (tanpa air), sampai semua pelarut menguap ke luar. Hasil rebusan yang menyisa dalam panci berupa residu kental berisi minyak yasmon yang pekat. Indolnya sudah hilang pada proses awal penanganan bunga dalam pabrik.

Minyak itu kemudian dimurnikan di tempat lain dengan etanol. Hasil berupa yasmon-etanol segera dibekukan pada suhu -20°F, untuk mengendapkan kotoran yang nebeng.

Akhirnya, yasmon-etanol yang setelah dipanaskan lagi mengambang di bagian atas, diceraikan dengan penyulingan. Etanolnya menyuling lebih dulu, dan terpisah dari yasmon yang keluar kemudian.

Melati parfum

Minyak yasmon yang diperdagangkan sebagai minyak jasmine dipakai untuk meramu parfum (minyak wangi), yang lazimnya terdiri atas 3 bagian. Nada atas, nada tengah, dan nada dasar.

Begitu parfum diteteskan ke kulit badan, bau pertama yang harus tercium sampai 10 menit berikutnya ialah bau nada atas ini. Ia harus segar dan ringan tapi toh cukup merangsang, sehingga menarik untuk dibeli.

Karena itu, nada atas ini biasanya dibuat dari minyak sitrun atau bergamot, yang berbau jeruk. (Dulu malah minyak sereh wangi). Tapi bau itu sudah samar-samar mengandung bau melati yang membentuk nada tengah.

Sesudah bau nada atas ini habis, parfum sudah merasuk seluruhnya ke kulit badan yang kita tetesi. Bau nada tengah lalu makin tampil dengan seluruh kemegahannya.

Biasanya nada tengah ini berupa kombinasi tertentu dari minyak berbagai macam bunga, atau bagian lain dari tanaman. Melati, mawar, narsis, lavender, ylang-ylang (sejenis kenanga), hiasin, anyelir.

Sesudah 5 jam, bau tengah itu baru habis, dan tinggallah bau dasar yang bertindak sebagai semacam pengikat berbagai minyak asiri yang cepat habis tadi, agar stabil mempertahankan bau kombinasi yang sudah terikat tadi. Karena itu, dasar pengikat ini harus lebih kental dan tidak cepat menguap.

Biasanya dipakai minyak hewan seperti ambergris dari "ikan" paus, atau minyak kayu-kayuan seperti cedar, cendana, nilam. Makin tinggi persentase zat pengikat ini makin lembut parfum itu, sehingga makin awet baunya.

Para parfumear (peramu parfum) mencampur bagian-bagian itu seperti seorang komponis menyusun partitur sebuah simfoni saja. Ada nada tinggi sopran dan tenor, nada tengah mezzo-sopran dan bariton, serta nada rendah alto dan bas.

Semuanya berbunyi karena dipadukan, tapi bunyinya bergilir dengan aturan dan irama tertentu yang serasi.

Hasil perpaduan wangi-wangian ini kemudian diuji-coba oleh panel pakar penciuman. Mereka memilih parfum mana yang paling nyaman, dan inilah yang kemudian dipasarkan dengan promosi besar-besaran sebagai "parfum paling yahud tahun ini".

Karena sedikitnya, minyak melati jadi mahal. Dari 1 ton bunga, hanya dapat diperoleh 1 kg minyak saja.

Untuk memperbesar volume, minyak disubal dengan senyawaan sintetik dihidroyasmon, yang baunya mirip cis-keton melati. Tapi juga minyak pengikatnya sekarang berupa minyak sintetik, seperti musk xylene dan balsam-bensoin misalnya.

Tanpa subal ini, parfum akan mahal sekali jatuhnya sampai tidak terbeli oleh massa rakyat. Parfum mahal biasanya berkadar minyak bunga alami yang tinggi, sampai 40%. Sedangkan yang agak murahan hanya 20%.

Sisanya yang 80% berupa senyawaan lain, seperti minyak pembentuk nada atas dan minyak pengikat yang membuat parfum itu tahan lama baunya.

Itulah riwayat melati, puspa bangsa Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.