Curhat Penyandang Tuli di Job Fair Jaksel: 200 Kali Lamar Kerja, tapi Belum Diterima
Dian Anditya Mutiara July 08, 2026 03:35 PM

 

WARTAKOTALIVE.COM, SETIABUDI — Di tengah ramainya Job Fair Jakarta Selatan di Gedung Nyai Ageng Serang, Setiabudi, seorang perempuan berkemeja batik tampak berpindah dari satu stan perusahaan ke stan lainnya.

Di tangan kirinya tergenggam sebuah iPad dan beberapa lembar selebaran.

Seorang penerjemah bahasa isyarat mendampinginya setiap kali berdialog dengan perekrut.

Perempuan itu adalah Galuh (28), penyandang tuli yang telah merantau dari Semarang ke Jakarta sekitar tiga tahun lalu.

Penyandang Tuli sulit mendapat pekerjaan seperti dialami Galuh yang ditemui di Job Fair Jakarta Selatan 2026 (Kompas.com) 

 

Galuh datang ke Job Fair setelah kontrak kerjanya sebagai desainer grafis berakhir. Ia berharap dapat menemukan pekerjaan baru.

Baca juga: Job Fair Jakarta Selatan 2026 Dibuka Besok, Ada Ribuan Lowongan dari BCA hingga Indomaret

Namun, di lokasi ia mendapati hanya sedikit perusahaan yang secara terbuka menerima pelamar penyandang disabilitas.

"Di sini ada (perusahaan) menerima disabilitas, tapi hanya tiga perusahaan. Tapi, ada perusahaan yang lain di selain tiga itu yang belum menerima disabilitas. Apa mungkin karena kedisabilitasan saya atau seperti apa, itu kesulitan yang saya hadapi," kata Galuh kepada Kompas.com, Rabu (8/7/2026).

Mengaku Sudah Lamar ke Lebih dari 200 Perusahaan

Galuh mengungkapkan perjuangannya mencari pekerjaan sudah berlangsung cukup lama.

Ia memperkirakan telah mengirim lamaran ke lebih dari 200 perusahaan.

Meski beberapa kali lolos hingga tahap tes dan wawancara, ia belum berhasil memperoleh pekerjaan.

"Saya kira-kira udah 200 lebih tempat lamaran kerja yang saya coba. Saya kayak merasa capek karena saya berusaha tapi belum inklusif terkait perusahaan yang menerima disabilitas bekerja di sana," tuturnya.

Baca juga: Job Fair Kota Bekasi 2026 Dibanjiri Pencaker, Tersedia 300 Loker Disabilitas

Menurut Galuh, ia juga pernah menemukan lowongan pekerjaan yang secara terbuka mencantumkan penolakan terhadap pelamar penyandang disabilitas.

"Pernah (ditolak karena disabilitas). Seperti di web, ada tulisan yang langsung penolakan disabilitas. Respons saya pasti merasa kecewa, capek, dan saya nangis ketika itu," ujarnya.

Selain menghadapi tantangan sebagai penyandang disabilitas, Galuh juga merasa harus bersaing dengan pelamar yang lebih muda karena sebagian perusahaan masih menerapkan batas usia dalam proses rekrutmen.

"Ya, saya merasa mendapati karena kadang ada kayak saingan usia gitu sama yang lebih muda," katanya.

Berharap Perusahaan Lebih Inklusif

Meski berkali-kali menghadapi penolakan, Galuh mengaku tidak menyerah mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya di bidang desain grafis.

Ia berharap semakin banyak perusahaan membuka kesempatan kerja yang setara bagi penyandang disabilitas.

"Semoga perusahaan-perusahaan yang akan membuka untuk karyawan bisa sadar disabilitas juga bisa bekerja, bisa berusaha," ucapnya.

Galuh juga berharap pemerintah lebih memperhatikan kebutuhan penyandang disabilitas, terutama dalam memperluas akses terhadap lapangan pekerjaan.

"Pemerintah itu seperti menutup telinga atau tidak mendengar terkait kebutuhan teman-teman disabilitas. Ada, sudah pernah diprotes, sudah pernah dikasih masukan, tapi pemerintah tetap aja tidak mendengarkan masukan yang diberikan teman-teman disabilitas," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.