TRIBUNSTYLE.COM - Liburan sekolah menjadi waktu yang tepat untuk mengunjungi tempat-tempat yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menambah wawasan.
Di tengah deretan destinasi modern di Jakarta, Museum Wayang di kawasan Kota Tua hadir sebagai pilihan wisata edukatif yang memadukan sejarah bangunan tua dengan kekayaan budaya Nusantara. Tempat ini bukan sekadar ruang pamer koleksi wayang, tetapi juga saksi perjalanan panjang Batavia sejak masa kolonial.
Museum Wayang diperkenalkan sebagai salah satu bangunan bersejarah di Kota Tua yang menyimpan kisah panjang sebelum akhirnya menjadi museum. Bangunan tersebut diketahui memiliki fungsi yang terus berubah dari masa ke masa.
Baca juga: Mau Kulineran saat Liburan Sekolah di Jakarta? Bopet Mini Benhil Sajikan Sarapan Minang
Sebelum diresmikan sebagai Museum Wayang pada tahun 1975, lokasi ini pernah menjadi gereja, area pemakaman, gudang, hingga kantor dagang. Latar sejarah itulah yang membuat Museum Wayang terasa berbeda dibanding museum pada umumnya.
Jika ditelusuri lebih jauh, bangunan ini bermula dari sebuah gereja yang didirikan pada tahun 1640 dengan nama Oude Hollandsche Kerk atau Gereja Lama Belanda. Gereja tersebut menjadi salah satu pusat aktivitas keagamaan masyarakat Belanda di Batavia pada masa itu.
Namun, bangunan lama itu mengalami kerusakan akibat gempa bumi pada tahun 1808 dan kemudian dirobohkan. Di atas lahan bekas gereja itulah berdiri bangunan baru yang sempat difungsikan sebagai gudang milik perusahaan dagang Geo Wehry & Co sebelum akhirnya dialihfungsikan menjadi museum.
Jejak masa lalu bangunan ini masih dapat ditemukan hingga sekarang. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah keberadaan prasasti nisan orang-orang Belanda yang masih tersimpan di area museum.
Baca juga: Isi Liburan Sekolah di TMII jakarta, Taman Burung Jagat Satwa Punya Bird Show dan Ratusan Burung
Hal ini tidak lepas dari fungsi kawasan tersebut sebagai area pemakaman atau kerkhof pada masa kolonial. Beberapa nisan ditempel di dinding ruang teater museum dan menjadi pengingat bahwa tempat ini pernah menjadi kompleks pemakaman penting.
Salah satu nama yang paling dikenal dalam sejarah Batavia, yaitu Jan Pieterszoon Coen, juga disebut pernah dimakamkan di kawasan ini. Meski bangunannya kental dengan nuansa kolonial, daya tarik utama Museum Wayang tetap terletak pada koleksinya.
Museum ini menyimpan lebih dari 4.000 koleksi wayang dan boneka, baik dari Indonesia maupun mancanegara. Pengunjung dapat menemukan berbagai jenis wayang Nusantara seperti wayang kulit, wayang golek, wayang beber, hingga wayang klitik.
Tidak hanya itu, museum ini juga menyimpan boneka tradisional dari sejumlah negara seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, Tiongkok, Prancis, dan Inggris. Ragam koleksi tersebut menunjukkan bahwa wayang bukan hanya bagian dari seni pertunjukan, tetapi juga warisan budaya yang memiliki hubungan luas dengan tradisi dunia.
Museum Wayang juga tidak berhenti pada fungsi sebagai ruang penyimpanan koleksi. Tempat ini rutin mengadakan pertunjukan wayang pada waktu-waktu tertentu, terutama pada hari Minggu, sebagai bentuk edukasi sekaligus pelestarian budaya.
Kehadiran pertunjukan ini membuat museum terasa lebih hidup karena pengunjung tidak hanya melihat benda pameran, tetapi juga dapat menyaksikan bagaimana wayang dimainkan sebagai seni pertunjukan.
Berlokasi di Jalan Pintu Besar Utara No. 27, Pinangsia, Taman Sari, Jakarta Barat, Museum Wayang berada tepat di kawasan Kota Tua dan berdekatan dengan Alun-alun Fatahillah.
Museum ini buka setiap Selasa hingga Minggu pukul 09.00 sampai 15.00 WIB, sedangkan hari Senin digunakan untuk perawatan koleksi. Letaknya yang berada di pusat wisata sejarah Jakarta membuat museum ini mudah dijangkau sekaligus dapat dikunjungi bersama destinasi lain di sekitarnya.
Dengan koleksi budaya yang kaya dan latar sejarah bangunan yang panjang, Museum Wayang menjadi pilihan menarik untuk mengisi liburan sekolah.
Bagi pelajar, tempat ini tidak hanya menawarkan pengalaman berwisata, tetapi juga kesempatan untuk mengenal sejarah Jakarta, masa kolonial, serta perkembangan seni wayang sebagai bagian penting dari identitas budaya Indonesia.
(@Kompas.Travel/TribunStyle.com/Farah Aulya)