Ikan Mati Massal di Mali-Mali dan Sungai Arfat Dipicu Rendahnya Oksigen, Ini Penjelasan DKPP Banjar
Ratino Taufik July 08, 2026 04:51 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar memastikan kematian ikan yang terjadi di kawasan Desa Mali-Mali dan Sungai Arfat dipicu menurunnya kualitas air, terutama kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen/DO) yang sudah berada pada tingkat kritis.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKPP Kabupaten Banjar, Bandi Chairullah, Rabu (8/6/2026) mengatakan pihaknya telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi setelah menerima laporan dari para pembudidaya ikan.

"Hasil pengukuran kami menunjukkan kadar oksigen terlarut di Sungai Arfat sekitar 1 mg/liter, sedangkan di Desa Mali-Mali berkisar 0,61 hingga 1,3 mg/liter. Kondisi ini sudah sangat rendah dan menjadi penyebab ikan mengalami stres hingga mati," ujar Bandi Chairullah.

Selain kadar oksigen yang rendah, hasil pemantauan juga menunjukkan suhu air mencapai sekitar 29,7 derajat Celsius dengan pH 6. 

Penurunan debit air selama musim kemarau membuat kedalaman sungai terus berkurang sehingga memperparah kondisi perairan.

Menurut Bandi, sejak Mei hingga Juni lalu DKPP sebenarnya telah mengingatkan para pembudidaya agar mengantisipasi dampak musim kemarau. 

Baca juga: Debit Air Sungai Menurun Karena Kemarau, Ribuan Ikan Milik Petani Keramba di Mali-Mali Banjar Mati

Sosialisasi dilakukan dengan mengimbau pembudidaya mempercepat jadwal panen dan tidak menebar benih ikan secara berlebihan agar kebutuhan oksigen ikan tetap terpenuhi.

"Kami juga sudah sering memberikan himbauan dari bulan Mei sampai Juni dan juga menyurati ke BWS, sekarang kami menunggu jawaban selanjutnya dari BWS," kata Bandi.

Adapun Kepala Seksi Pengelolaan dan Pembudidayaan DKPP Banjar, Apriyan Mindar Waspodo, menambahkan 
terkait air sungai yang menurun pihalnya juga kini berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) agar dilakukan penyesuaian kondisi air karena penurunan debit air turut memengaruhi kondisi sungai yang menjadi lokasi budidaya keramba jala apung.

"DKPP mengimbau para pembudidaya terus memantau perkembangan kualitas air selama musim kemarau. Jika kondisi oksigen terus menurun, panen lebih awal dinilai menjadi langkah terbaik untuk mengurangi risiko kerugian akibat kematian ikan," ujar Apri.

Sebagian lainnya memilih melakukan panen darurat untuk menyelamatkan ikan yang masih hidup sebelum kondisi budidaya ikan jala apungnya semakin memburuk. (banjarmasinpost.co.id/Nurholis Huda)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.