BANJARMASINPOST.CO.ID - Perubahan tubuh aktris Marshanda jadi sorotan. Mantan istri Ben Kasyafani itu singgung gangguan bipolar.
Marshanda baru-baru ini membagikan cerita tentang perjuangannya menghadapi kenaikan berat badan.
Dia mengaku kenaikan berat badannya dipengaruhi oleh kondisi kesehatan mental yang sempat memburuk.
Marshanda mengatakan hal itu terjadi setelah kepergian sang ayah.
"Sejak Papa meninggal aku lumayan struggling dengan bipolarku yg berefek juga ke berat badanku," tulis Marhanda di Threads, dikutip Rabu (8/7/2026).
Kini, Marshanda merasa kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya. Ibu satu anak ini bersyukur memiliki orang-orang yang selalu mendukungnya hingga kembali stabil.
Baca juga: Nasib Anak Andika Kangen Band yang Diduga Diintimidasi Orangtua Murid, Kini Pindah Sekolah
"Tapi, aku sudah jauh lebih baik sekarang karena dukungan dari orang-orang hebat di sekitarku yang membantuku menjadi stabil lagi," jelasnya.
Setelah kondisi mentalnya membaik, Marshanda mulai fokus menjalani pola hidup sehat. Perempuan 36 tahun itu bertekad lebih disiplin agar bisa kembali ke berat badan yang diinginkannya.
"Jadi, misiku adalah untuk serius dan disiplin dalam mengonsumsi makanan sehat, menjalani intermittent fasting, badminton rutin, olahraga lainnya rutin," lanjutnya.
Marshanda menargetkan berat badannya kembali menjadi 58 kilogram. Ia optimistis target tersebut bisa tercapai dalam waktu kurang dari enam bulan.
"Goal ku, kurang dari 6 bulan, beratku jadi 58 kg seperti di foto2 ini," tutup Marshanda, merujuk pada foto-foto lamanya.
Unggahan Marshanda mendapat banyak dukungan dari warganet. Kisahnya juga menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan mental dan fisik bisa berjalan beriringan.
Salah satu gangguan kesehatan mental adalah bipolar. Di Indonesia, bipolar lebih sering terdengar dibandingkan gangguan kesehatan mental lainnya.
Dilansir dari American Psychiatric Association, bipolar adalah gangguan otak yang menyebabkan perubahan suasana hati, energi, dan kemampuan seseorang.
Penderita gangguan bipolar akan mengalami keadaan emosional yang intens. Biasanya terjadi selama periode yang berbeda dari hari ke minggu atau disebut dengan episode suasana hati.
Meskipun gangguan bipolar bisa terjadi seumur hidup, penderita dapat mengelola perubahan suasana hati dan gejala lainnya dengan mengikuti rencana perawatan.
Gangguan bipolar adalah kategori yang mencakup tiga diagnosis berbeda, di antaranya bipolar I (mania atau episode campuran), bipolar II (hipomania dan depresi), dan gangguan siklotimik (hipomania dan depresi ringan).
Menurut Healthline, penderita gangguan bipolar akan memiliki dua episode, yaitu mania dan hipomania serta depresi.
Mania adalah kondisi di mana penderita merasa sangat tinggi dan terlalu aktif. Sementara depresi adalah kondisi di mana penderita berada di titik rendah dan lesu.
Gejala gangguan bipolar bergantung pada suasana hati yang dialami dan bisa berlangsung selama berminggu-minggu atau lebih.
Berikut gejala gangguan bipolar dalam dua episode tersebut:
1. Mania dan hipomania
Dalam episode mania dan hipomania, penderita bipolar mungkin melakukan:
Hipomania umumnya berkaitan dengan gangguan bipolar. Kondisi ini mirip, namun tidak separah itu.
Hipomania tidak menyebabkan masalah di tempat kerja, sekolah, atau interaksi sosial.
Penderita dengan hipomania masih memperhatikan perubahan suasana hati mereka.
2. Depresi
Ketika mengalami episode depresi, penderita bipolar mungkin akan mengalami gejala sebagai berikut:
Dilansir dari Cleveland Clinic, para ilmuwan belum mengetahui penyebab pasti gangguan bipolar ini.
Kendati demikian, mereka percaya ada komponen genetik yang kuat. Gangguan bipolar dianggap sebagai salah satu kondisi kejiwaan yang paling mungkin diturunkan.
Lebih dari dua pertiga orang dengan gangguan bipolar memiliki setidaknya satu kerabat biologis yang mengalami kondisi tersebut.
Namun, hanya karena Anda memiliki kerabat biologis dengan gangguan bipolar, bukan berarti Anda juga akan mengalaminya.
Terdapat faktor lain yang berkontribusi memicu gangguan bipolar meliputi, di antaranya:
Para peneliti telah mengidentifikasi perbedaan halus dalam ukuran rata-rata atau aktivasi beberapa struktur otak pada orang dengan gangguan bipolar.
Namun, pemindaian otak tidak dapat mendiagnosis kondisi tersebut.
Peristiwa yang membuat stres, seperti kematian orang yang dicintai, penyakit serius, perceraian, atau masalah keuangan dapat memicu episode manik atau depresi.
Oleh karena itu, stres dan trauma juga berperan dalam perkembangan gangguan bipolar.
Saat ini, para ilmuwan masih melakukan penelitian untuk menentukan hubungan yang dimiliki faktor-faktor tersebut dalam memicu gangguan bipolar dan bagaimana faktor-faktor tersebut dapat membantu mencegah timbulnya sesuatu yang mungkin terjadi dalam pengobatannya.
Meskipun gangguan bipolar bisa terjadi seumur hidup, namun penderita bisa mengelola perubahan suasana hati dan gejala lainnya dengan mengikuti perawatan.
Dalam kebanyakan kasus, gangguan bipolar diobati dengan obat-obatan dan konseling psikologis (psikoterapi).
Berikut pengobatan gangguan bipolar:
Karena gangguan bipolar berlangsung seumur hidup, pengobatan gangguan ini juga memerlukan komitmen seumur hidup.
Terkadang perlu beberapa bulan hingga bertahun-tahun sebelum Anda dan penyedia layanan kesehatan menemukan rencana perawatan komprehensif yang paling sesuai untuk Anda.
Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan, diagnosis, dan penanganan yang tepat.
(Banjarmasinpost.co.id/Grid.id)