Yogyakarta (ANTARA) - Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dian Azmawati menilai meningkatnya perpindahan kewarganegaraan warga negara Indonesia (WNI) berpotensi memicu hilangnya sumber daya manusia berkualitas (brain drain).
Dian di Yogyakarta, Rabu, mengatakan fenomena hampir 8.000 WNI yang melepaskan kewarganegaraan Indonesia dalam lima tahun terakhir perlu mendapat perhatian karena berpotensi mengurangi talenta yang dibutuhkan untuk pembangunan nasional.
"Yang berpindah adalah orang-orang yang memiliki kemampuan, pendidikan, dan keahlian yang justru dibutuhkan untuk membangun negara. Jika fenomena ini terus meningkat, tentu menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius," ujarnya.
Menurut Dian, meski migrasi merupakan bagian dari dinamika global yang semakin terbuka, perpindahan kewarganegaraan memiliki konsekuensi berbeda karena menyangkut hilangnya talenta terbaik suatu negara.
Ia menjelaskan "brain drain" terjadi ketika individu dengan kompetensi tinggi dan keahlian khusus memilih menetap serta berkarya di negara lain sehingga negara asal berpotensi kehilangan kapasitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.
"'Brain drain' jelas berdampak pada negara asal karena yang pergi bukan orang sembarangan. Mereka adalah individu yang memiliki kompetensi tinggi dan sebenarnya sangat dibutuhkan untuk membangun Indonesia," katanya.
Dian menilai pemerintah perlu merespons fenomena tersebut dengan menciptakan ekosistem yang mampu mempertahankan talenta nasional, antara lain melalui peningkatan kualitas pendidikan, perluasan kesempatan berkarier, serta penguatan iklim riset dan inovasi.
"Pemerintah perlu menciptakan ekosistem yang mampu memberikan ruang berkembang bagi talenta nasional. Ini adalah persaingan global dalam menarik dan mempertahankan sumber daya manusia berkualitas," ujarnya.





