Trump Nyatakan Gencatan Senjata Iran Berakhir, AS Hantam 80 Target Militer, IRGC Disebut 'Sampah'
Muhammad Hadi July 08, 2026 05:41 PM

Trump Nyatakan Gencatan Senjata Iran Berakhir, AS Hantam 80 Target Militer, IRGC Disebut "Sampah"

SERAMBINEWS.COM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir setelah meningkatnya kembali ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.

Trump melontarkan pernyataan keras terhadap Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), bahkan menyebut kelompok tersebut sebagai "sampah", "orang jahat", dan "kanker" yang harus disingkirkan.

Dikutip Serambinews.com melalui Al Jazeera, Selasa (8/7/2026), pernyataan tersebut muncul setelah Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran terhadap puluhan target militer Iran sebagai balasan atas serangan yang menyasar kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

Sebelumnya, Washington dan Teheran sempat menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni 2026.

Baca juga: Parah! FIFA Tangguhkan Sanksi Kartu Merah Pemain AS Usai Trump Telepon Infantino

Kesepakatan itu bertujuan menghentikan sementara aksi militer kedua negara sekaligus membuka ruang negosiasi damai selama 60 hari untuk mencapai penyelesaian jangka panjang.

Namun, situasi kembali memanas hanya tiga pekan setelah kesepakatan tersebut berlaku.

Militer AS melancarkan operasi udara besar yang menghantam berbagai fasilitas pertahanan Iran.

Sementara Iran membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk.

Trump Sebut Gencatan Senjata Sudah Berakhir

Saat ditanya wartawan mengenai status gencatan senjata dengan Iran, Donald Trump menyatakan dirinya menganggap kesepakatan tersebut telah berakhir.

Menurut Trump, Iran tidak menunjukkan niat baik untuk mempertahankan perdamaian.

"Mereka adalah sampah. Menurut saya ini sudah berakhir," kata Trump.

Ia mengatakan tetap akan berdiskusi dengan tim negosiator Amerika Serikat.

Namun menurutnya, melanjutkan pembicaraan dengan Iran hanya membuang waktu.

Trump juga menyebut Iran gagal memanfaatkan kesempatan untuk menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi.

Ia bahkan mengatakan Iran seharusnya sudah lama menerima kesepakatan damai.

Baca juga: Hubungan AS-Israel Memanas, Benarkah Trump Mulai Tinggalkan Netanyahu?

Presiden AS itu juga mengklaim operasi militer Amerika dilakukan sebagai respons terhadap tindakan Iran yang kembali melancarkan serangan di Selat Hormuz.

Menurut Trump, sebelumnya Washington telah memberikan ruang agar Iran dapat menggelar prosesi pemakaman nasional tanpa gangguan.

Namun setelah itu, Iran justru kembali meluncurkan roket dan melakukan aksi militer.

"Kami menyerang mereka dengan sangat keras tadi malam," ujarnya.

Trump bahkan menyebut serangan balasan Amerika Serikat "20 kali lebih dahsyat" dibandingkan serangan yang dilakukan Iran.

AS Hantam Lebih dari 80 Target

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi militer tersebut selesai dilakukan pada dini hari.

Dalam keterangannya, CENTCOM menyebut lebih dari 80 target militer Iran berhasil dihantam menggunakan amunisi berpemandu presisi.

Target serangan meliputi sistem pertahanan udara, pusat komando dan kendali, jaringan radar pantai, fasilitas rudal anti-kapal, hingga lebih dari 60 kapal cepat milik IRGC yang berada di sekitar Selat Hormuz.

Menurut militer AS, operasi itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengganggu jalur perdagangan internasional yang melintasi Selat Hormuz.

Washington juga menuduh Iran lebih dahulu melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menyerang tiga kapal tanker komersial yang melintas di kawasan tersebut.

Ketiga kapal itu adalah Al Rekayyat berbendera Kepulauan Marshall, Wedyan berbendera Arab Saudi, serta Cyprus Prosperity berbendera Liberia.

Serangan terhadap kapal-kapal tersebut disebut menjadi alasan utama Amerika Serikat melancarkan operasi militer.

Baca juga: Ulama Berpengaruh Iran Serukan Pembunuhan Trump dan Netanyahu: Kirim Mereka ke Neraka

Iran Balas Serang Pangkalan AS

Tidak lama setelah serangan Amerika berlangsung, IRGC mengumumkan operasi balasan terhadap sejumlah fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Iran mengklaim telah menyerang 85 target militer Amerika sebagai respons atas apa yang disebut sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh Washington.

Beberapa lokasi yang disebut menjadi sasaran antara lain Bandar Salman, markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain, serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait.

Selain itu, Iran juga mengklaim berhasil menembak jatuh sebuah pesawat nirawak MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat yang disebut sedang menjalankan operasi di kawasan tersebut.

Hingga kini, pihak militer AS belum memberikan konfirmasi terkait klaim tersebut.

Baca juga: Ulama Berpengaruh Iran Serukan Pembunuhan Trump dan Netanyahu: Kirim Mereka ke Neraka

Ketegangan Kembali Mengancam Kawasan

Situasi terbaru semakin memperbesar kekhawatiran akan pecahnya kembali konflik terbuka antara Iran dan Amerika Serikat.

Meski sebelumnya kedua negara telah membuka jalur diplomasi, saling tuding terkait pelanggaran gencatan senjata membuat proses negosiasi kembali berada di ujung tanduk.

Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang lebih dahulu melanggar kesepakatan dengan melancarkan serangan militer dan kembali menerapkan tekanan melalui sanksi minyak.

Di sisi lain, Washington menegaskan tindakan militernya dilakukan sebagai respons atas aksi Iran yang dianggap mengancam keamanan pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Dengan meningkatnya eskalasi militer di kawasan Teluk, para pengamat menilai peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat menjadi semakin kecil.

Ketidakpastian tersebut juga berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan regional serta aktivitas perdagangan global yang bergantung pada jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Baca juga: Netanyahu Minta Bertemu di Gedung Putih, Trump: Dia Tahu Siapa Bosnya

(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.