Kebocoran Air Capai 30 Persen, Perumda Tirta Kajen Hadapi Tantangan Pipa Tua dan Longsor
raka f pujangga July 08, 2026 06:56 PM

TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Upaya Perumda Air Minum Tirta Kajen Kabupaten Pekalongan dalam meningkatkan kualitas pelayanan air bersih masih dihadapkan pada sejumlah tantangan.

Selain jaringan pipa yang telah berusia tua, bencana tanah longsor juga menjadi penyebab utama tingginya kebocoran air.

Kondisi tersebut mendorong perusahaan terus melakukan revitalisasi jaringan secara bertahap sembari menargetkan penurunan tingkat kehilangan air hingga 25 persen.

Baca juga: PDAM Tirta Kajen Siaga Hadapi Ancaman El Nino, Perkuat Sumber Air dan Tekan Kebocoran

Direktur Perumda Air Minum Tirta Kajen Kabupaten Pekalongan, Nur Wachid, mengatakan tingkat kehilangan air atau kebocoran fisik pada jaringan distribusi sepanjang 2025 masih berada di kisaran 30 persen.

Angka tersebut, masih di atas batas toleransi kinerja perusahaan sehingga berbagai langkah perbaikan terus dilakukan.

"Rata-rata kebocoran pada tahun 2025 masih di angka 30-an persen. Kami terus berupaya menurunkannya hingga mencapai batas toleransi kinerja, yaitu 25 persen," ujarnya, Rabu (8/7/2026).

Menurut Nur Wachid, tantangan terbesar yang dihadapi perusahaan berasal dari kondisi jaringan pipa yang sebagian telah berusia puluhan tahun.

Seiring bertambahnya usia, pipa menjadi lebih rentan mengalami kebocoran maupun pecah sehingga memengaruhi efisiensi distribusi air kepada pelanggan.

Meski demikian, penggantian jaringan tidak dapat dilakukan secara menyeluruh dalam waktu singkat. Revitalisasi harus dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan perusahaan.

"Umur pipa yang sudah tua memang harus direvitalisasi. Namun, pelaksanaannya dilakukan bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan keuangan perusahaan," jelasnya.

Selain usia jaringan, kondisi geografis Kabupaten Pekalongan yang memiliki banyak wilayah perbukitan juga menjadi tantangan tersendiri.

"Bencana tanah longsor beberapa kali menyebabkan jaringan distribusi mengalami kerusakan," ucapnya.

Ia mencontohkan, longsor yang terjadi di wilayah Petung maupun beberapa lokasi lain pada Maret lalu mengakibatkan sejumlah pipa patah sehingga distribusi air kepada pelanggan sempat terganggu.

Tak hanya itu, Perumda Tirta Kajen juga menghadapi tantangan dalam mengelola tekanan air karena sebagian besar sistem distribusi masih mengandalkan sistem gravitasi.

"Berbeda dengan sistem perpompaan yang tekanan airnya dapat diatur secara otomatis, sistem gravitasi membuat tekanan dalam jaringan meningkat ketika konsumsi air menurun, terutama pada malam hari," jelasnya.

Baca juga: Menembus Perbukitan, PDAM Tirta Kajen Antar Kurban untuk Penjaga Sumber Air

Akibatnya, pipa yang kondisinya sudah lemah berpotensi mengalami kebocoran hingga pecah akibat tingginya tekanan di dalam jaringan.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Perumda Tirta Kajen terus memperkuat pengelolaan tekanan jaringan, meningkatkan deteksi dini kebocoran, serta melaksanakan penggantian pipa secara bertahap di titik-titik yang dinilai paling rawan.

"Melalui berbagai langkah tersebut, perusahaan optimistis tingkat kehilangan air dapat ditekan, hingga mencapai target 25 persen sehingga pelayanan air bersih kepada masyarakat Kabupaten Pekalongan semakin andal, efisien, dan berkelanjutan," tambahnya. (Dro)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.