Korban Bantah Klaim Camat Boyolali, Video Tak Senonoh Disebut Baru Ditarik Setelah 20 Menit
Ryantono Puji Santoso July 08, 2026 07:15 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI – A (19), mantan karyawan yang menerima kiriman video tak senonoh dari seorang camat di Kabupaten Boyolali, membantah pernyataan camat berinisial D.

Sebelumnya, camat tersebut mengatakan langsung menghapus video itu dalam waktu kurang dari 30 detik setelah salah mengirim.

Menurut TA, video justru dikirim sebanyak dua kali dan baru ditarik sekitar 20 menit kemudian.

Selama rentang waktu itu, ia mengaku tidak menerima penjelasan ataupun permintaan maaf dari D.

"Pada tanggal 30 Maret sekitar pukul 11.58 WIB, beliau tiba-tiba mengirimkan video porno sebanyak dua kali. Di situ saya langsung panik. Beliau tidak memberikan penjelasan apa pun mengapa mengirimkan video seperti itu," kata TA.

ILUSTRASI. Penampakan kantor Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Boyolali pada Rabu (8/7/2026). TA mantan karyawan yang mendapatkan kiriman video tak senonoh mendapatkan pendampingan psikologis. (*)
ILUSTRASI. Penampakan kantor Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Boyolali pada Rabu (8/7/2026). TA mantan karyawan yang mendapatkan kiriman video tak senonoh mendapatkan pendampingan psikologis. (*) (TribunSolo.com/Tri Widodo)

Karena panik, TA mengaku berinisiatif mengambil tangkapan layar sebagai bukti. Saat itu, menurutnya, video masih berada di ruang percakapan.

"Karena panik, saya berinisiatif mengambil tangkapan layar (screenshot) pada pukul 12.07 WIB. Saat itu videonya masih ada. Baru sekitar pukul 12.15 atau 12.20 WIB, pesan tersebut ditarik oleh beliau. Jadi, kalau beliau mengklaim video itu ditarik dalam waktu kurang dari 30 detik, itu tidak benar. Saya punya bukti screenshot yang menunjukkan bahwa video tersebut sempat berada di ruang percakapan selama beberapa menit sebelum akhirnya ditarik," ujarnya.

TA menjelaskan, sebelum peristiwa itu terjadi, dirinya bekerja di toko milik D.

Ia mengaku hubungan mereka berjalan baik hingga akhirnya memutuskan mengundurkan diri.

"Awalnya saya bekerja di toko beliau. Hubungan kami awalnya baik-baik saja dan tidak pernah ada masalah. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk berhenti kerja. Pada tanggal 26 Maret, saya berpamitan secara baik-baik. Beliau pun merespons dengan baik. Setelah itu, saya sempat meminta maaf dan tidak ada komunikasi lagi, pesan saya hanya dibaca saja," ungkapnya.

Langsung Lapor ke Pemkab Boyolali

Usai menerima kiriman video tersebut, TA mengaku langsung melaporkan kejadian itu secara lisan ke Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Boyolali.

Selanjutnya, pada pertengahan April 2026, ia mengirimkan surat pengaduan resmi kepada Bupati Boyolali, BKPSDM, dan DPRD Boyolali.

Baca juga: Korban Video Syur Camat Boyolali Jalani Pendampingan, Kondisi Psikologis Masih Terguncang

TA mengatakan baru dipanggil untuk mengikuti proses klarifikasi dan mediasi pada Juni 2026.

Dalam pertemuan itu, D disebut tetap beralasan bahwa video tersebut terkirim karena salah kirim.

"Baru pada bulan Juni, saya dipanggil untuk klarifikasi dan mediasi. Di situlah saya dipertemukan dengan beliau. Saat dikonfirmasi, pembelaan beliau adalah salah kirim yang harusnya video itu dikirimkan ke istrinya. Ketika saya tanya mengapa tidak langsung meminta maaf atau mengklarifikasi hari itu juga, alasannya karena lupa dan sibuk. Padahal saya sengaja tidak memblokir nomornya sampai malam untuk menunggu iktikad baiknya, tetapi sama sekali tidak ada penjelasan," imbuh TA. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.