Tugu Zapin Berpeluang Diganti, Pemprov Riau Siapkan Tiga Opsi Ikon Baru Bundaran Kantor Gubernur
Muhammad Ridho July 08, 2026 07:20 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Nasib Tugu Zapin di Bundaran Jalan Jenderal Sudirman, tepat di depan Kantor Gubernur Riau, memasuki babak baru. Pemerintah Provinsi Riau kini tidak hanya mempertimbangkan renovasi, tetapi juga membuka peluang mengganti monumen tersebut dengan ikon baru yang dinilai lebih representatif, mudah dirawat, dan mencerminkan identitas Melayu Riau.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (PUPR PKPP) Provinsi Riau, Zulfahmi, mengatakan ada tiga konsep yang saat ini sedang dikaji sebagai pengganti Tugu Zapin.

Ketiga opsi tersebut yakni tugu berbentuk tanjak, Tugu Lancang Kuning, dan Tugu Titik Nol Pekanbaru.

"Sejauh ini ada tiga opsi yang mengemuka, yaitu tugu tanjak, tugu Lancang Kuning, dan tugu Titik Nol Pekanbaru. Semua itu merupakan hasil masukan dari berbagai pihak yang kami rangkum dalam forum diskusi," kata Zulfahmi, Rabu (8/7/2026).

Menurutnya, ketiga usulan itu muncul setelah Dinas PUPR PKPP Riau menggelar focus group discussion (FGD) dengan berbagai kalangan. 


Forum tersebut melibatkan akademisi dari Universitas Riau, Universitas Islam Riau (UIR), dan Universitas Lancang Kuning (Unilak), Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Riau, hingga konsultan independen.


Zulfahmi menjelaskan, pembahasan dalam FGD tidak hanya menyoroti desain ikon baru. Berbagai pihak juga mengevaluasi kondisi Tugu Zapin yang selama ini mengalami kerusakan cukup parah akibat aksi pencurian.


Ia mengungkapkan, material patung yang menggunakan logam tembaga memiliki nilai jual tinggi sehingga berulang kali menjadi sasaran pencurian. Akibatnya, sebagian besar elemen patung hilang dan hanya menyisakan rangka besi.


"Material tugu lama menggunakan tembaga yang memang memiliki nilai ekonomis tinggi. Itu menjadi salah satu penyebab kenapa berkali-kali dicuri hingga kondisinya rusak seperti sekarang," ujarnya.


Selain persoalan material, proses perawatan Tugu Zapin juga dinilai tidak mudah. Patung tersebut merupakan karya pematung ternama Indonesia, I Nyoman Nuarta, sehingga pemeliharaannya membutuhkan teknik dan material khusus.


"Karya itu dibuat dengan desain dan teknik khusus. Tidak semua orang bisa memperbaikinya. Perawatannya juga harus dilakukan oleh tenaga yang memiliki keahlian khusus sehingga cukup menyulitkan," jelas Zulfahmi.


Karena itu, salah satu pertimbangan dalam penyusunan desain baru adalah menghadirkan ikon karya arsitek lokal. Selain lebih mencerminkan identitas daerah, proses pemeliharaan ke depan juga diharapkan lebih mudah dan tidak bergantung pada pengrajin tertentu.


Dalam pembahasan tersebut, Tugu Zapin juga memunculkan sejumlah masukan dari tokoh adat. Salah satunya berkaitan dengan filosofi Tari Zapin yang dinilai belum sepenuhnya tergambarkan pada patung yang berdiri saat ini.


"Menurut masukan dari LAM Riau, penari Zapin pada dasarnya dimainkan laki-laki dengan laki-laki, bukan berpasangan seperti yang tergambar pada patung sekarang. Tetapi kami tidak sedang memperdebatkan itu. Kami hanya menghimpun berbagai pandangan sebagai bahan pertimbangan," katanya.


Zulfahmi menegaskan, keputusan akhir mengenai ikon yang akan dibangun belum ditetapkan. Seluruh hasil kajian akan disampaikan kepada Gubernur Riau untuk diputuskan setelah mempertimbangkan aspirasi masyarakat.


"Nanti tiga opsi ini akan kami laporkan kepada Bapak Gubernur. Keputusan akhirnya tentu menjadi kewenangan pimpinan setelah melihat hasil kajian dan respons masyarakat," ujarnya.


Ia menambahkan, pergantian ikon di kawasan bundaran tersebut juga merupakan hal yang wajar. Menurutnya, setiap periode kepemimpinan memiliki gagasan masing-masing dalam mempercantik wajah ibu kota provinsi.


"Dulu di lokasi itu pernah berdiri Tugu Pesawat pada masa Gubernur Imam Munandar. Kemudian pada masa Gubernur Rusli Zainal dibangun Tugu Zapin. Jadi setiap pemimpin memiliki gagasan dan ciri tersendiri dalam membangun ikon daerah," kata Zulfahmi.


Untuk saat ini, Pemprov Riau masih memfokuskan pekerjaan pada penyusunan desain dan Detail Engineering Design (DED). Apabila seluruh proses perencanaan selesai, pembangunan fisik monumen baru diperkirakan mulai dilaksanakan pada tahun 2027.


"Tahun ini kami fokus menyelesaikan desain dan DED terlebih dahulu. Kalau seluruh proses berjalan sesuai rencana, pembangunan fisiknya kemungkinan baru dilaksanakan tahun depan," katanya.

(Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.