Sosok Agam Haris Pambudi, Alumni Unair yang Kini Jadi Asisten Pelatih PSIS Semarang
Adrianus Adhi July 08, 2026 07:32 PM

SURYA.co.id, Surabaya - Berasal dari Dusun Singgang, Desa Bakalrejo, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, Agam Haris Pambudi membuktikan bahwa latar belakang bukan penghalang untuk meraih prestasi.

Alumni Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) angkatan 2015 itu kini dipercaya menjadi asisten pelatih PSIS Semarang di Liga 1 Indonesia.

Perjalanan Coach Agam menuju level sepak bola profesional tak lepas dari tekadnya untuk terus belajar. Baginya, mimpi besar harus dibarengi kerja keras

"Kesuksesan tidak ditentukan oleh dari mana kita berasal, tetapi oleh seberapa besar keberanian kita untuk bermimpi, belajar, dan bekerja keras mewujudkannya," ujarnya pada SURYA.CO.ID, Rabu (8/7/2026).

Bekal ilmu yang diperoleh selama menempuh studi di FK Unair menjadi fondasi penting dalam perjalanan kariernya.

Pemegang Lisensi Kepelatihan A Diploma PSSI itu memadukan pengalaman di lapangan dengan pendekatan sport science, analisis pertandingan yang terstruktur, manajemen performa, serta pengembangan karakter pemain.

Kariernya terus berkembang. Ia pernah dipercaya menjadi Head Coach sekaligus Technical Director Al Wehda Club di Arab Saudi, sehingga menjadi pelatih Indonesia pertama yang mengemban tugas tersebut.

Pada 2019, saat berusia 26 tahun, ia juga membawa Perspin Pinrang menjadi juara Liga 3 Zona Sulawesi Selatan.

Prestasi lainnya diraih saat menjadi asisten pelatih tim sepak bola putra Jawa Timur bersama Fakhri Husaini yang sukses mempersembahkan medali emas pada PON XXI Aceh-Sumatera Utara 2024.

Setelah itu, bersama Widodo Cahyono Putro, ia membawa Garudayaksa FC menjuarai Liga 2 musim 2025-2026 sekaligus promosi ke Liga 1. Kini keduanya kembali berkolaborasi menangani PSIS Semarang.

Meski telah menorehkan berbagai prestasi, Agam mengaku tidak pernah melupakan peran almamaternya.

Ia mengenang masa ketika harus berjuang membiayai kuliah S2 secara mandiri hingga memperoleh keringanan biaya operasional kuliah melalui kebijakan Prof. Dr. Muhammad Madyan yang saat itu menjabat Wakil Rektor II Universitas Airlangga.

"Kebaikan Bapak Prof Madyan dan Universitas Airlangga bukan hanya meringankan beban saya saat itu, tetapi juga menumbuhkan keyakinan bahwa kepedulian dapat mengubah masa depan seseorang. Momen tersebut akan selalu saya kenang sebagai amanah untuk terus belajar, bekerja keras, mengabdi, dan membuka jalan bagi orang lain," ungkapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.