Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung (FEB Unila), Adhya Shinta Natapunika mengajak masyarakat Lampung untuk hidup sehat dengan microgreen.
Baca juga: Kisah Pedagang Sayur asal Lampung Selatan Naik Haji, Anda 20 Tahun Kumpulkan Uang Koin
Micogreen adalah sayuran muda yang dipanen sangat cepat, biasanya hanya dalam usia tujuh hingga 14 hari setelah semai.
Adhya Shinta Natapunika mengembangkan Greens Lampung supaya bisa hidup sehat dengan mengonsumsi sayuran.
Kehadiran Greens Lampung, menurut dia, merupakan budidaya microgreen atau sayuran mini yang kaya nutrisi.
"Berawal dari kesadaran pribadi akan pentingnya menjaga kesehatan, saya menyulap hobi menanam menjadi ladang bisnis yang menjanjikan di Kota Tapis Berseri," kata Adhya Shinta Natapunika saat diwawancarai Tribun Lampung, Rabu (8/7/2026).
Perempuan yang akrab disapa Dea ini menjelaskan bahwa Greens Lampung adalah sebuah usaha yang bergerak di bidang budidaya microgreen.
Pihaknya bersyukur bisnis yang dijalaninya ini menjadi penyuplai sejumlah hotel dan kafe di Bandar Lampung. Dirinya melakukan usaha tersebut berawal dari mengonsumsi pribadi di rumah.
Dea menceritakan, saat pertama kali merintis Greens Lampung pada tahun 2022 lalu, dirinya hanya menanam beberapa jenis sayuran saja.
"Awalnya hanya menanam sejumlah varian seperti peashoot, green mustard, red radish, green radish, dan red cabbage," kata Dea.
Namun seiring dengan meningkatnya permintaan konsumen, Greens Lampung terus berinovasi.
Kini pilihan variannya jauh lebih beragam, mulai dari centella, red vein sorrel, basil, thyme, rosemary, garlic chiever, hingga berbagai jenis bunga yang dapat dikonsumsi (edible flower).
Menurut Dea, microgreen memiliki prospek bisnis yang sangat cerah seiring dengan meningkatnya tren gaya hidup sehat di masyarakat.
Terlebih bisnis ini tergolong ramah untuk pemula karena tidak melulu membutuhkan modal yang besar.
"Untuk memulai usaha apapun tidak harus punya modal besar. Inovasi, fokus, dan tidak tanggung-tanggung adalah yang paling penting," kata Dea.
Microgreen sendiri merupakan sayuran yang dipanen saat usianya masih sangat muda, yakni sekitar 7 hingga 14 hari setelah masa semai.
Meski benih yang digunakan sama dengan sayuran biasa, kandungan nutrisi microgreen diklaim jauh lebih tinggi karena dipanen di usia emasnya.
Selain kaya nutrisi, budidayanya pun tergolong praktis. Petani tidak membutuhkan lahan yang luas dan cukup menggunakan nampan-nampan kecil di dalam rumah.
Meskipun ukurannya mini, kualitas istimewa dari microgreen membuat nilai jual sayuran ini cukup tinggi di pasaran.
Dea membeberkan kisaran harga produk Greens Lampung yang sangat kompetitif: Rp20.000 per pot,
Rp40.000 sampai Rp50.000 per pack (isi 50 gram), tergantung jenis tanaman.
Dea tak menampik bahwa persaingan bisnis di sektor ini mulai bermunculan. Namun, bagi Dea, kehadiran kompetitor justru menjadi motivasi untuk terus berkembang.
Salah satu strateginya bertahan adalah dengan memperkuat jaringan (networking) dan menjaga kualitas.
"Saat ini Greens Lampung yang masih dikelola secara mandiri keluarga telah sukses menjadi pemasok untuk kebutuhan hotel, kafe, resto, hingga toko retail di Bandar Lampung," ungkap Dea.
Selain bergerak di pasar B2B (Business to Business), Dea juga memanfaatkan marketplace dan media sosial Instagram @greenslampung untuk menjangkau konsumen eceran secara langsung.
"Saran saya buat pelaku usaha yang baru memulai, rajin berdoa dan harus tetap gigih menghadapi pasang surut usaha. Saat di bawah, kita sedang diuji," kata Dea.
Ia berharap, keberadaan Greens Lampung tidak hanya menjadi ladang bisnis, tetapi juga dapat terus mengedukasi masyarakat Lampung tentang pentingnya pangan sehat.
Sekaligus memajukan tren urban farming di Kota Bandar Lampung agar tak kalah dengan kota-kota besar lainnya.
(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)