Sanggar Seni Puti SaAyun Tampil di Swastamita Coffee Alahan Panjang, Kenalkan Budaya Minangkabau
Rahmadi July 08, 2026 08:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, SOLOK — Kesempatan tampil secara rutin di Swastamita Coffee, Nagari Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, menjadi pengalaman berharga bagi para penari Sanggar Seni Puti SaAyun.

Tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan tari tradisional Minangkabau, panggung di kawasan wisata tersebut juga memberikan pengalaman baru bagi para penari untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat dan wisatawan dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.

Sanggar seni yang berlokasi di Jorong Usak, Alahan Panjang, Kabupaten Solok ini rutin tampil di Swastamita Coffee di akhir pekan.

Salah seorang penari Sanggar Seni Puti SaAyun, Nayla, menceritakan pengalamannya selama tampil secara rutin di Swastamita Coffee.

Saat diwawancarai Rabu (8/7/2026), ia mengaku sempat merasa gugup ketika pertama kali mendapat kesempatan tampil di hadapan para pengunjung.

Baca juga: 5 Tempat Makan Murah Sekitar UNP Selalu Ramai Jam Makan Siang, Harga Mulai Rp11.000

Namun, setelah hampir tiga bulan tampil secara rutin, pengalaman tersebut justru membuatnya semakin percaya diri dan bangga dapat memperkenalkan budaya Minangkabau kepada masyarakat luas.

"Perasaan pertama kali itu campur aduk, senang banget tapi juga deg-degan. Bangga karena bisa ngenalin budaya di tempat yang banyak dikunjungi orang. Sanggar kami sudah sekitar tiga bulan tampil rutin di Swastamita," ujarnya.

Swastamita Coffee merupakan salah satu kafe di tepi Danau Diatas Nagari Alahan Panjang, Solok. 

Daerah ini terletak sekitar 65 KM dari  Padang, ibukota Sumatra Barat. Melewati jalur ekstrem Sitinjau Lauik, perlu waktu sekitar 3,5 Jam untuk tiba di daerah ini. 

Selain kafe di tepi danau ini juga banyak penginapan sehingga menjadi objek wisata andalan. Swastamita Coffee menyediakan panggung papan di atas danau. Secara berkala ditampilkan Kesenian tradisional yang juga disaksikan oleh turis asing.  

Baca juga: Solusi Macet Distribusi BBM, Pemprov Sumbar Siapkan Jembatan Darurat Tambahan di Bungus

Belajar Tampil di Tengah Pengunjung

Menurut Nayla, tampil di kawasan wisata memiliki suasana yang berbeda dibandingkan ketika tampil di acara resmi maupun pesta pernikahan. Jika pada acara formal para penonton memang datang untuk menyaksikan pertunjukan, di Swastamita Coffee sebagian besar pengunjung awalnya hanya ingin menikmati suasana kafe.

Hal itu membuat para penari harus mampu menarik perhatian pengunjung melalui gerakan tari dan alunan musik tradisional yang ditampilkan.

"Kalau di event atau nikahan penontonnya memang khusus nonton kita. Kalau di kafe suasananya lebih santai. Ada yang ngobrol, ada musik, bahkan pelayan yang lalu-lalang mengantar pesanan. Jadi kita harus bisa menarik perhatian mereka. Tapi justru itu yang seru karena rasanya lebih dekat dengan penonton," katanya.

Meski masih merasakan gugup sebelum naik ke panggung, Nayla mengatakan dirinya memiliki cara tersendiri untuk mengatasinya. Ia bersama rekan-rekannya selalu melakukan pemanasan, mengulang gerakan tari, memastikan kostum dan riasan telah siap, kemudian berdoa bersama pelatih sebelum pertunjukan dimulai.

"Biasanya kami tarik napas dulu, fokus ke teman satu tim, lalu berdoa bersama pelatih. Kami anggap saja sedang latihan sambil menyampaikan cerita lewat tarian," ujarnya.

Selain persiapan pribadi, latihan kelompok juga dilakukan sekitar dua minggu sebelum pertunjukan. Menurut Nayla, latihan tidak hanya berfokus pada gerakan tari, tetapi juga menyamakan kekompakan, ekspresi, hingga posisi penari agar sesuai dengan area pertunjukan di kawasan kafe.

Baca juga: Distribusi BBM Sumbar Dikebut, Terminal Teluk Kabung Beroperasi 24 Jam untuk Urai Antrean SPBU

Pengunjung Beri Apresiasi

Pengalaman yang paling membekas bagi Nayla adalah ketika melihat respons positif dari para pengunjung.

Ia mengatakan banyak pengunjung yang awalnya hanya datang untuk bersantai, tetapi kemudian menghentikan aktivitasnya ketika musik tradisional mulai dimainkan. Tidak sedikit yang mengabadikan penampilan mereka menggunakan telepon genggam, memberikan tepuk tangan, hingga bertanya mengenai tarian yang baru saja ditampilkan.

"Banyak yang awalnya cuma mau nongkrong, tapi pas musik mulai mereka malah berhenti ngobrol dan nonton. Ada juga yang merekam video, tepuk tangan, dan bertanya tentang tarian setelah selesai. Itu bikin kami merasa dihargai banget," katanya.

Momen yang paling berkesan baginya terjadi ketika seorang wisatawan mancanegara menghampiri para penari setelah pertunjukan selesai dan mengajak mereka berfoto bersama.

"Dia bilang baru pertama kali melihat tari tradisional secara langsung. Rasanya bangga banget budaya kita bisa sampai ke mereka," ujarnya.

Pengalaman tersebut membuat Nayla semakin menyadari bahwa seni tradisional Minangkabau masih memiliki daya tarik yang kuat, tidak hanya bagi masyarakat lokal tetapi juga wisatawan dari luar negeri.

Baca juga: Bahayakan Pengendara, Dinas PUPR Dharmasraya Bongkar Lantai Jembatan Mamora yang Lapuk dan Berlubang

Sanggar Semakin Dikenal

Selain meningkatkan rasa percaya diri, Nayla mengaku penampilan rutin di Swastamita Coffee juga membawa dampak positif bagi perkembangan Sanggar Seni Puti SaAyun.

Menurutnya, beberapa event organizer hingga pengelola kafe mulai mengenal Sanggar Puti SaAyun setelah melihat penampilan mereka di kawasan wisata tersebut.

"Dulu grogi kalau penontonnya ramai dan dekat. Sekarang sudah lebih pede. Dari tampil di sini beberapa event organizer dan kafe lain jadi tahu sanggar kami. Alhamdulillah job mulai bertambah dari mulut ke mulut," katanya.

Secara pribadi, Nayla juga merasa menjadi lebih disiplin dalam berlatih, lebih berani berbicara di depan umum, serta semakin mencintai budaya Minangkabau yang selama ini dipelajarinya.

"Bisa ketemu orang baru dari berbagai latar belakang juga jadi nambah relasi dan pengalaman. Senang juga karena ternyata budaya kita bisa menarik perhatian banyak orang," tuturnya.

Baca juga: Bukan Kekurangan Stok, Dinas ESDM Jelaskan Pemicu Antrean BBM di Sumbar

Ruang Belajar Melestarikan Budaya

Sementara itu, pendiri, pembina sekaligus pelatih Sanggar Seni Puti SaAyun, Gustin Wulandari, mengatakan kesempatan tampil di Swastamita Coffee berawal dari kepercayaan pengelola terhadap kualitas penampilan dan konsistensi sanggar dalam melestarikan budaya Minangkabau.

Menurut perempuan yang akrab disapa Wulan itu, sejak berdiri pada 4 Januari 2023, Sanggar Seni Puti SaAyun memang dibentuk sebagai wadah pembinaan generasi muda di bidang seni tari dan musik tradisional Minangkabau.

"Kesempatan tampil di Swastamita Coffee dan Cemara Park berawal dari kepercayaan yang diberikan kepada Sanggar Seni Puti SaAyun setelah melihat kualitas penampilan, kedisiplinan, dan konsistensi kami dalam melestarikan budaya Minangkabau," katanya.

Ia menjelaskan, sebelum setiap pertunjukan, sanggar melakukan berbagai persiapan mulai dari menyusun konsep pertunjukan, memilih materi tari dan musik, latihan rutin, gladi bersih, hingga mempersiapkan kostum, tata rias, serta perlengkapan musik.

Menurut Wulan, tampil di ruang publik memberikan pengalaman yang tidak bisa diperoleh anak didiknya hanya melalui latihan di sanggar.

Baca juga: Bahayakan Pengendara, Dinas PUPR Dharmasraya Bongkar Lantai Jembatan Mamora yang Lapuk dan Berlubang

"Bagi kami, panggung terbaik bukan hanya berada di gedung pertunjukan, tetapi juga di tengah masyarakat. Anak-anak belajar membangun rasa percaya diri, disiplin, tanggung jawab, kemampuan beradaptasi, sekaligus berinteraksi langsung dengan penonton dari berbagai daerah bahkan mancanegara," ujarnya.

Ia berharap kolaborasi antara pelaku seni dan pengelola destinasi wisata dapat terus terjalin sehingga semakin banyak ruang bagi generasi muda untuk memperkenalkan budaya Minangkabau kepada masyarakat luas.

"Seni bukan sekadar hiburan, tetapi juga media untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya Minangkabau. Melalui penampilan ini, anak-anak kami menjadi duta budaya yang membawa nama daerah dengan penuh kebanggaan," tutupnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.