Bibit Babi Asal Denmark Masuk Sulut, Pemasok Lokal Khawatir Jika Perusahaan Kuasai Pasar Supermarket
Ventrico Nonutu July 08, 2026 09:43 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sulawesi Utara mendapat pasokan impor bibit babi dari Denmark.

Ada sekira 546 ekor bibit babi yang masuk melalui Bandara Sam Ratulangi, Manado, Selasa 7 Juli 2026 malam. 

Masuknya bibit babi tersebut diharapkan tidak mengganggu pemasaran para pemasok kecil di Sulut.

Idris Loho salah satu pemasok daging babi di Manado, mengaku memperoleh babi dari para peternak di daerah Minahasa maupun Bolaang Mongondow.

"Sudah ada langganan, tinggal di telepon," katanya saat dihubungi wartawan Tribun Manado via panggilan WhatsApp, Rabu malam (8/7/2026).

Dia mengaku saat ini kerap membeli babi dengan berat rata-rata 90-100 kilogram.

"Saat ini harga umum di timbangan yaitu Rp 51 ribu per kilogram," ujarnya.

Babi yang diperoleh Idris kemudian ditampung di penampungan miliknya.

Kata Idris, ia hanya menyuplai babi ke salah satu supermarket di Manado.

Menurutnya, permintaan dari toko saat ini berbeda dengan dulu.

"Kalau dulu tiap hari ada permintaan dari toko, tapi sekarang tidak lagi. Saat ini dalam seminggu saya potong babi hanya 3-4 kali," katanya.

Kata dia, saat ini dalam sekali potong itu sebanyak dua ekor.

Saat ditanya terkait persoalan yang dihadapinya, Idris mengaku hanya jika babi tidak laku.

"Karena sekarang ekonomi kan melemah, kalau kita mau naikkan harga siapa yang akan membeli," katanya.

Kata dia, stok babi di Manado saat ini kurang.

"Biasanya kan kalau stok kurang harganya mahal, tapi ini tidak. Harga dari peternak masih Rp 50 ribuan, sudah sekitar 6 bulan berjalan," jelasnya.

Idris mengatakan, sebelumnya hanya 2 atau 3 bulan harga akan naik mencapai Rp 55 ribu.

Meski begitu, dia mengatakan tidak menutup kemungkinan harga akan naik jelang hari raya pengucapan syukur.

"Kalau pengucapan Minsel dan Minahasa harga timbang hidup aman, berarti (harga) tidak akan naik sampai Desember," ungkapnya.

Saat ditanya soal masuknya 546 ekor bibit babi asal Denmark di Sulut, Idris mengaku tidak mempersoalkan hal tersebut.

"Asalkan tidak mengganggu peternak lokal dan pengusaha kecil, tidak apa-apa," katanya.

"Kalau kami sebagai tukang potong justru bersyukur, cuma yang penting tidak mengganggu peternakan pengusaha rumahan," tambahnya.

Menurut Idris, saat ini pihaknya belum merasakan dampaknya.

"Yang kami takutkan kalau perusahaan itu mengganggu area pemasaran kami," kata Idris.

"Kalau mereka masuk supermarket, mereka yang punya stok dan kami yang hanya membeli, sudah pasti harganya berbeda," jelasnya.

Idris pun berharap, ekonomi saat ini cepat pulih, sehingga daya beli masyarakat bisa meningkat.

(TribunManado.co.id/Ico)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.