Audisi PB Djarum Hadir di Pekanbaru, Peluang Atlet Muda Sumatera Menuju Kudus Kian Terbuka
M Iqbal July 08, 2026 08:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Peluang atlet bulu tangkis muda asal Sumatera menembus pembinaan PB Djarum kini semakin terbuka. Mereka tak lagi harus langsung datang jauh-jauh ke Kudus, Jawa Tengah untuk mengikuti seleksi awal.

Tahun ini, Audisi Umum PB Djarum 2026 digelar di Pekanbaru sebagai salah satu lokasi pencarian bakat wilayah barat Indonesia. Audisi dilaksanakan selama lima hari, 8-12 Juli 2026, di Angkasa Badminton Centre Jalan Angkasa, Kecamatan Payung Sekaki, Kota Pekanbaru.

Selama kegiatan berlangsung Gor Angkasa ini dipenuhi ratusan pebulu tangkis muda. Mereka datang dari berbagai provinsi untuk memperebutkan kesempatan mengikuti program beasiswa PB Djarum.

Ketua Tim Pencari Bakat Audisi Umum PB Djarum 2026, Sigit Budiarto, mengatakan audisi sengaja dibawa ke daerah agar semakin banyak atlet berbakat mendapat kesempatan.

Menurutnya, potensi pemain tidak hanya lahir dari Pulau Jawa. Karena itu, pencarian bibit atlet juga harus menjangkau berbagai daerah di Indonesia.

"Kami sengaja mendekat ke daerah supaya bisa melihat langsung potensi yang ada. Kami ingin menemukan bibit-bibit istimewa yang nantinya bisa menjadi bagian dari PB Djarum sehingga regenerasi bulu tangkis Indonesia terus berjalan," ujar Sigit, Rabu (8/7/2026).

Ia menilai banyak atlet berbakat terkendala jarak dan biaya saat harus mengikuti seleksi di Pulau Jawa. Kondisi itu membuat sebagian calon atlet kehilangan kesempatan menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Karena itu, PB Djarum memilih mendatangi berbagai daerah. Langkah tersebut diharapkan memberi kesempatan yang lebih merata bagi atlet muda.

"Potensi tidak hanya ada di Pulau Jawa. Dengan kami datang ke sini, teman-teman di daerah mendapat kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan mereka," katanya.

Pekanbaru dipilih karena letaknya strategis. Kota ini lebih mudah dijangkau peserta dari berbagai wilayah Sumatera.

Atlet dari Aceh hingga Sumatera Selatan kini bisa mengikuti audisi dengan biaya perjalanan yang lebih ringan dibanding harus datang langsung ke Kudus.

"Kami ingin mempermudah mereka. Kalau harus datang ke Jawa tentu membutuhkan biaya lebih besar. Dengan audisi di Pekanbaru, mereka bisa lebih mudah berpartisipasi," jelas Sigit.

Antusiasme peserta pada hari pertama juga cukup tinggi. Sebanyak 306 atlet dari 13 provinsi mendaftarkan diri mengikuti audisi.

Dari jumlah tersebut, 181 peserta yang melakukan registrasi ulang berasal dari Riau. Sisanya datang dari Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Kepulauan Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, Papua, dan Sumatera Utara.

Perjalanan menuju program beasiswa tidak berhenti setelah tampil di Pekanbaru. Seluruh peserta lebih dahulu menjalani pertandingan sistem gugur hingga babak final.

Juara setiap kategori akan melaju ke tahap karantina di Kudus. Namun, peluang juga terbuka bagi peserta yang dinilai memiliki kemampuan istimewa.

"Kami juga bisa memberikan super tiket kepada peserta yang mungkin sudah kalah, tetapi menurut tim pencari bakat memiliki potensi yang bagus untuk dikembangkan," ungkap Sigit.

Peserta yang lolos akan menjalani karantina selama satu bulan di Kudus. Mereka akan bergabung bersama atlet terbaik hasil audisi di Jakarta dan Makassar.

Selama karantina, kemampuan peserta terus dipantau secara menyeluruh. Penilaian dilakukan bertahap sebelum ditentukan penerima beasiswa PB Djarum.

"Masuk karantina bukan berarti langsung diterima. Dua minggu pertama ada evaluasi, kemudian dilanjutkan penilaian lagi sampai akhirnya diputuskan siapa yang bergabung dalam program beasiswa," jelasnya.

Dalam proses seleksi, tim pencari bakat tidak hanya melihat hasil pertandingan. Teknik bermain, penguasaan lapangan, daya juang, hingga postur tubuh juga menjadi pertimbangan utama.

Sigit menegaskan kesempatan belum tertutup bagi peserta yang gagal di Pekanbaru. Mereka masih dapat mengikuti audisi di kota lain selama rangkaian Audisi Umum PB Djarum 2026 berlangsung.

"Kalau belum berhasil di Pekanbaru, masih bisa mencoba lagi di Makassar ataupun Kudus. Yang penting terus belajar, jangan patah semangat, dan terus berjuang," tutupnya.

(Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.