Masyarakat Bolaang Mongondow di Sulawesi Utara memiliki alat musik tradisional gimbal yang konon bisa memanggil roh leluhur dalam prosesi adat.
Alat musik gimbal sering digunakan untuk mengiringi tarian, pertunjukan seni atau upacara adat, misalnya dimainkan untuk mengiringi ritual sakral, memanggil roh leluhur dalam prosesi pengobatan motayok, hingga menghubungkan dunia manusia dengan dunia spiritual.
Alat musik ini berfungsi sebagai patokan ketukan dan ritme selama prosesi ritual berlangsung, serta mengiringi tarian dan lantunan mantra.
Sepintas, gimbal bentuknya mirip gendang, cara memainkannya ditabuh atau dipukul menggunakan alat khusus terbuat dari kayu. Pukulan ini harus diselaraskan dengan alat musik pengiring lainnya untuk menghasilkan harmoni.
Suara yang dihasilkan tidak hanya menambah keindahan acara, tetapi juga mempertegas suasana yang lebih hidup dan penuh semangat.
Proses pembuatan gimbal dimulai dari batang pohon dipotong sesuai ukuran yang diinginkan. Bagian tengah kayu dilubangi dengan dipahat secara hati-hati, karena jika pengrajin tidak konsentrasi maka bagian sisi gimbal akan rusak dan harus mengulang dari awal menggunakan kayu lain.
Setelah proses pelubangan bagian dalam gimbal selesai, maka pengrajin akan beralih ke bagian luar dan mengamplas hingga halus.
Jika gimbal sudah setengah jadi, maka proses selanjutnya adalah memasang kulit hewan di kedua sisi gimbal, umumnya kulit yang digunakan adalah kulit sapi, kerbau, atau anoa.
Kulit hewan tersebut kemudian diikat di salah satu atau kedua sisi gimbal dengan menggunakan tali rotan. Jika dipukul, kulit hewan itu akan menghasilkan suara.
Untuk mengubah tinggi rendahnya suara yang dihasilkan, pemain dapat mengencangkan atau mengendorkan tarikan tali rotan yang mengikat kulit gimbal dengan pasak kayu.
Semakin kencang ikatan maka semakin tinggi suara yang dihasilkan, dan semakin kendur tali ikatan maka semakin rendah suara yang dihasilkan. Penyesuaian tinggi rendahnya suara gimbal biasanya dilakukan sebelum melakukan pertunjukan.





