Status Gunung Anak Krakatau Siaga Level III, Wisatawan Diimbau Tak Mendekat
Noval Andriansyah July 09, 2026 12:19 AM

Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau ( GAK ) yang berdiri kokoh di Perairan Selat Sunda dilaporkan kembali bergejolak dan menunjukkan tren peningkatan tajam.

Baca juga: Gegara Erupsi Gunung Anak Krakatau, Harga Ikan Naik

Hingga Rabu (8/7/2026) siang, gunung api aktif tersebut tercatat sudah memuntahkan material vulkanik lewat saringan tujuh kali erupsi beruntun hanya dalam kurun waktu satu hari.

Kendati intensitas letusan dan gempa tremornya merangkak naik, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan belum ada perubahan zonasi status kedaruratan.

Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau ditegaskan masih tertahan kokoh pada Level III atau berstatus Siaga. Meski statusnya belum dinaikkan ke level tertinggi, pihak berwenang langsung mengeluarkan wanti-wanti keras di lapangan.

Para pelancong, nelayan tradisional, hingga komunitas pencinta alam diimbau untuk menahan diri dan dilarang keras mendekati kawasan lingkar dalam kawah aktif demi menghindari risiko terkena hantaman bom batu pijar.

Kepastian mengenai rentetan erupsi beruntun ini dibeberkan langsung oleh Petugas Penjaga Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suardi.

Berdasarkan rekam digital seismograf, tujuh letusan pada tengah pekan ini pecah mulai dini hari hingga menjelang siang.

"Benar, dari catatan manifes data kami, sejak pukul 00.11 WIB hingga pukul 11.47 WIB pada Rabu ini, sudah terjadi tujuh kali erupsi. Status Gunung Anak Krakatau hingga detik ini masih berada di Level III atau Siaga," terang Andi Suardi saat memberikan keterangan resmi secara berkala, Rabu (8/7/2026).

Grafik Erupsi Sepekan Tembus 11 Kali Letusan

Andi memaparkan bahwa geliat batuknya perut bumi di Selat Sunda ini sebenarnya tidak hanya terjadi dalam kurun waktu 24 jam terakhir.

Jika ditarik garis linier dalam kurun waktu sepekan ke belakang, tepatnya sejak tanggal 2 hingga 8 Juli 2026, kerucut vulkanik tersebut secara akumulatif telah meletus sebanyak 11 kali.

"Erupsi pembuka dari fase peningkatan ini awalnya pecah pada tanggal 2 Juli, lalu berlanjut berturut-turut pada tanggal 3, 4, dan 7 Juli kemarin. Nah, puncaknya memang terjadi pada hari ini dengan frekuensi meletus yang cukup rapat hingga tujuh kali kejadian," urai pria yang sudah malang melintang di dunia vulkanologi tersebut.

Berdasarkan rincian teknis pos pengamatan, letusan pertama pada Rabu dini hari pukul 00.11 WIB tidak dapat dipantau secara visual akibat tertutup pekatnya malam.

Namun, dentuman magma tersebut terekam valid pada sensor seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 24 milimeter berdurasi 40 detik.

Semburan Abu Hitam Pekat Mengarah ke Barat Laut

Geliat magma mulai terlihat jelas saat fajar menyingsing, di mana letusan kedua pada pukul 05.50 WIB sukses menyemburkan kolom abu setinggi 250 meter di atas puncak (sekitar 407 meter di atas permukaan laut).

Kolom abu tersebut berwarna kelabu hingga cokelat pekat mengarah dominan ke utara dan barat laut dengan durasi 44 detik.

Eskalasi kolom abu tertinggi dilaporkan pecah pada letusan ketiga pukul 07.11 WIB dengan amplitudo raksasa mencapai 44,4 milimeter.

Emisi material abu vulkanik berwarna hitam pekat dengan intensitas tebal menyembur tinggi ke langit, bergulung-gulung tertiup angin kencang mengarah ke sektor barat laut.

Rentetan letusan berdurasi pendek berkisar antara 13 hingga 42 detik terus terjadi beruntun pada pukul 08.42 WIB, 09.35 WIB, 09.54 WIB, hingga letusan penutup siang pada pukul 11.47 WIB.

Rata-rata tinggi kolom abu dari sisa letusan tersebut konsisten bermain di angka 100 hingga 200 meter di atas bibir kawah.

Mengantisipasi skenario terburuk, PVMBG melalui Pos Pengamatan Lampung Selatan meminta masyarakat, nelayan yang melaut, serta para pelaku industri wisata bahari untuk mematuhi rekomendasi jarak aman.

Selama status Level III (Siaga) ini belum diturunkan, seluruh aktivitas manusia disterilkan total dalam radius bahaya 5 kilometer dari pusat kawah aktif.

( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.