TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Menjelang peringatan Hari Koperasi Nasional yang diperingati setiap 12 Juli, Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Swadaya Utama menggelar seminar sehari bertajuk "Reideologisasi, Transformasi, dan Resiliensi: Membangun Koperasi Kredit yang Berkarakter, Adaptif, dan Berkelanjutan" di Maumere, Kabupaten Sikka, Rabu (8/7/2026). Seminar tersebut menghadirkan Robby Tulus, salah satu perintis gerakan koperasi kredit di Indonesia, sebagai pembicara utama.
Seminar sehari itu diikuti perwakilan sekitar 20 koperasi simpan pinjam (KSP) di Kabupaten Sikka, di antaranya KSP Kopdit Obor Mas, KSP Kopdit Pintu Air, serta sejumlah koperasi lainnya. Kegiatan tersebut dimoderatori Manajer Puskopdit Swadaya Utama, Fransiskus de Fransu.
Dalam seminar yang menjadi bagian dari refleksi menjelang Hari Koperasi Nasional tersebut, Robby mengingatkan bahwa pertumbuhan koperasi kredit yang ditandai dengan meningkatnya jumlah anggota, aset, dan layanan keuangan tidak boleh menggeser jati diri gerakan koperasi. Pendidikan anggota, solidaritas, dan partisipasi harus tetap menjadi fondasi agar koperasi tidak berubah menjadi sekadar lembaga bisnis.
Robby bukan nama baru dalam dunia perkoperasian. Bersama Pastor Karl Albrecht, SJ, ia merintis Gerakan Credit Union Indonesia pada akhir 1960-an dan menjadi salah satu pendiri Asian Confederation of Credit Unions (ACCU) pada 1971. Kariernya kemudian berkembang di tingkat internasional melalui berbagai jabatan strategis, antara lain sebagai Regional Director International Co-operative Alliance (ICA) Asia Pacific, serta menjadi konsultan bagi sejumlah lembaga internasional, seperti International Labour Organization (ILO), United Nations Development Programme (UNDP), dan Asian Development Bank (ADB). Hingga kini, ia masih aktif sebagai Penasihat Senior Induk Koperasi Kredit (INKOPDIT).
Baca juga: Menteri Koperasi Soroti Praktik Rentenir, Tengkulak hingga Pinjaman Online yang Jerat Warga
Pesan tersebut disampaikan Robby Tulus, perintis gerakan koperasi kredit sekaligus tokoh koperasi Indonesia, saat menjadi pembicara dalam Seminar Sehari bertajuk "Reideologisasi, Transformasi, dan Resiliensi: Membangun Koperasi Kredit yang Berkarakter, Adaptif, dan Berkelanjutan" yang diselenggarakan Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Swadaya Utama di Maumere, Kabupaten Sikka, Rabu (8/7/2026).
Seminar sehari itu diikuti perwakilan sekitar 20 koperasi simpan pinjam (KSP) di Kabupaten Sikka. Di antaranya KSP Kopdit Obor Mas, KSP Kopdit Pintu Air, serta sejumlah koperasi lainnya. Sesi seminar dipandu oleh Manajer Puskopdit Swadaya Utama, Fransiskus de Fransu, yang memoderatori pemaparan materi dan diskusi bersama peserta.
Menurut Robby, koperasi kredit lahir sebagai gerakan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, pertumbuhan usaha harus berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai dasar koperasi.
"Kita sedang menghadapi krisis ideologi. Pendidikan anggota semakin berkurang, sementara orientasi bisnis semakin menguat. Jika dibiarkan, koperasi akan kehilangan identitasnya," kata Robby.
Ia menjelaskan, pada masa awal perkembangan koperasi kredit di Indonesia, pendidikan menjadi pintu masuk utama bagi setiap anggota. Melalui pendidikan, anggota memahami hak, kewajiban, serta nilai-nilai kebersamaan yang menjadi kekuatan koperasi.
Baca juga: Menteri Koperasi Tiba di Maumere, Disambut Bupati Sikka dan Forkopimda
Namun, dalam perkembangannya, pendidikan mulai bergeser ke posisi yang kurang mendapat perhatian. Banyak anggota bergabung karena tertarik pada layanan simpan pinjam, tanpa memahami filosofi koperasi sebagai gerakan sosial dan ekonomi berbasis solidaritas.
Menurut Robby, kemampuan mengelola bisnis memang penting. Akan tetapi, kemampuan teknis harus selalu berjalan seiring dengan penguatan ideologi koperasi.
"Kalau koperasi hanya menjadi tempat meminjam uang, apa bedanya dengan lembaga keuangan lainnya?" ujarnya.
Untuk itu, ia mengajak seluruh gerakan koperasi melakukan reideologisasi, yakni mengembalikan pendidikan sebagai fondasi utama organisasi.
Robby mengibaratkan koperasi sebagai sebuah pohon. Pohon hanya dapat tumbuh sehat apabila ditopang tanah yang subur. Dalam koperasi, tanah itu adalah pendidikan.
"Pendidikan melahirkan kepercayaan. Kepercayaan melahirkan partisipasi. Partisipasi membuat koperasi terus bertumbuh," katanya.
Ia menambahkan, koperasi berbeda dengan perusahaan yang bertumpu pada modal. Kekuatan koperasi justru terletak pada manusia yang bekerja sama, bukan pada besarnya modal yang dimiliki.
"Koperasi adalah organisasi berbasis anggota. Modal hanyalah alat. Yang paling penting adalah manusianya," ujar Robby.
Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan layanan keuangan digital menjadi tantangan baru bagi koperasi. Namun, menurut dia, koperasi tidak boleh sekadar bersaing dalam aspek teknologi atau layanan.
Keunggulan koperasi, kata Robby, berada pada rasa saling percaya, solidaritas, dan semangat kolektif yang tidak dimiliki lembaga keuangan lain.
Dalam kesempatan itu, Robby memperkenalkan tiga prinsip yang perlu dimiliki setiap insan koperasi, yakni komitmen, konsistensi, dan passion (gairah). Ketiga prinsip tersebut dinilai menjadi modal penting agar koperasi mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan arah.
Menutup paparannya, Robby kembali menggunakan metafora pohon untuk menggambarkan gerakan koperasi.
Menurut dia, pohon tidak pernah tumbuh sendirian, melainkan menjadi bagian dari hutan yang saling menopang. Demikian pula koperasi kredit. Koperasi yang telah berkembang memiliki tanggung jawab moral untuk membantu koperasi lain agar seluruh gerakan tumbuh bersama.
"Jangan menjadi pohon yang berdiri sendiri. Jadilah hutan yang saling menguatkan. Di situlah kekuatan gerakan koperasi," katanya.
Dalam momentum yang sama, Romo Dr. Wilfrid Valiance, Pr., menilai koperasi kredit perlu terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang menjadi fondasinya. Menurutnya, tantangan terbesar koperasi kredit saat ini bukan hanya terletak pada tata kelola kelembagaan, tetapi juga pada penerapan nilai-nilai koperasi dalam kehidupan sehari-hari anggota.
Hal itu disampaikan Wilfrid saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional bertajuk "Koperasi Harian Sebagai Tantangan Koperasi Kredit dan Teori Soft Movement" yang digelar di Maumere.
Dalam paparannya, Wilfrid menyoroti konsep koperasi harian, yakni praktik menerapkan nilai-nilai koperasi dalam aktivitas sehari-hari. Menurut dia, koperasi tidak boleh hanya dipahami sebagai lembaga simpan pinjam atau organisasi yang aktif saat rapat anggota tahunan, tetapi harus menjadi budaya hidup yang tercermin dalam sikap saling percaya, disiplin, gotong royong, dan tanggung jawab.
"Nilai-nilai koperasi harus hidup dalam keseharian anggota, bukan hanya ketika mengikuti rapat atau memanfaatkan layanan koperasi," kata Wilfrid.
Ia menjelaskan, keberhasilan koperasi tidak semata-mata diukur dari besarnya aset, jumlah anggota, maupun pertumbuhan usaha. Yang tidak kalah penting adalah sejauh mana anggota mampu menghayati dan mempraktikkan prinsip-prinsip koperasi dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, Wilfrid menawarkan pendekatan Soft Movement (Gerakan Lunak) sebagai strategi untuk memperkuat gerakan koperasi. Pendekatan tersebut menekankan perubahan yang dilakukan secara bertahap melalui pendidikan, pembiasaan, dan penguatan karakter, bukan melalui cara-cara yang bersifat memaksa atau menimbulkan guncangan sosial.
Menurutnya, transformasi koperasi harus dimulai dari perubahan pola pikir anggotanya. Dengan demikian, koperasi tidak hanya berkembang sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga menjadi gerakan sosial yang mampu membangun kemandirian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Wilfrid juga menekankan pentingnya pendidikan koperasi sejak usia dini. Ia mengatakan, anak-anak perlu diperkenalkan pada budaya menabung, tanggung jawab, dan semangat gotong royong agar nilai-nilai koperasi tumbuh sebagai bagian dari karakter mereka.
Romo Dr. Wilfrid Valiance, Pr., merupakan imam projo Keuskupan Maumere pertama yang meraih gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor di Universitas Indonesia. Selain melayani sebagai imam, ia juga merupakan dosen di Universitas Nusa Nipa Maumere.
Ia dikenal sebagai konsultan transformasi sosial sekaligus pencetus teori Soft Movement, sebuah pendekatan yang menekankan perubahan sosial secara damai, bertahap, dan berkelanjutan melalui penguatan kesadaran masyarakat.
Robby Tulus merupakan salah satu perintis gerakan koperasi kredit (credit union) di Indonesia. Ketertarikannya pada gerakan koperasi tumbuh sejak menjadi mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, pada awal 1960-an. Bersama Pastor Karl Albrecht, SJ, ia kemudian merintis Gerakan Credit Union Indonesia pada akhir 1960-an dan menjadi salah satu pendiri Asian Confederation of Credit Unions (ACCU) pada 1971.
Karier Robby berkembang di tingkat internasional. Ia pernah menjabat sebagai Managing Director Credit Union Counselling Office (CUCO), Training Specialist ACCU, Asia Region Director Canadian Co-operative Association (CCA), Senior Policy Advisor International Co-operative Alliance (ICA), hingga Regional Director ICA Asia Pacific.
Setelah pensiun dari ICA pada 2002, Robby tetap aktif sebagai konsultan berbagai lembaga internasional, antara lain Canadian International Development Agency (CIDA), International Labour Organization (ILO), United Nations Development Programme (UNDP), dan Asian Development Bank (ADB).
Pada 2005, ia dipercaya menjadi Utusan Khusus ICA untuk program rekonstruksi koperasi pascatsunami di Aceh dan Sri Lanka. Ia juga berperan dalam pengembangan sistem keuangan mikro di Aceh serta menjadi salah satu penggagas Aceh International School of Microfinance (AISMF) di Universitas Syiah Kuala.
Di Indonesia, Robby masih aktif sebagai Penasihat Senior Induk Koperasi Kredit (INKOPDIT) dan terlibat dalam pengembangan gerakan koperasi kredit. Ia juga menggagas pembentukan AKSES (Asosiasi Kader Sosial-Ekonomi Strategis) dan Induk Koperasi Usaha Rakyat (INKUR), serta sejak 2016 mengembangkan konsep spin-off koperasi kredit menuju koperasi sektor riil.
Selain dikenal sebagai praktisi, Robby juga aktif di dunia akademik. Ia pernah menjadi editor jurnal internasional manajemen koperasi di Inggris dan menjadi anggota dewan redaksi sejumlah publikasi ilmiah internasional. Tulisannya dimuat dalam buku Perspective of Co-op Law yang diterbitkan Springer pada 2022.
Atas dedikasinya dalam pengembangan koperasi, Robby menerima berbagai penghargaan, di antaranya Hatta Award dan Keling Kumang Award dari Indonesia, SANASA Award dari Sri Lanka, NATCCO Award dari Filipina, CCA Award dari Kanada, serta ACCU Award dari Asia.