BANJARMASINPOST.CO.ID- PEMBUDIDAYA ikan jala apung di Desa Malimali, dan Sungai Arfat, Kabupaten Banjar, kembali dibuat merugi akibat ikan yang dipeliharanya mati massal.
Tak tanggung-tanggung, jumlahnya bahkan sampai ribuan atau jika dijumlahkan berton-ton ikan yang sebagian besar jenis bawal dan nila, mati.
Dugaan awal kondisi ikan mati massal itu akibat menurunnya debit air sungai seiring musim kemarau yang memengaruhi kualitas air, dan turunnya kadar oksigen di kolam budidaya.
Mau tidak mau, guna mencegah kerugian yang lebih besar, ikan yang masih hidup terpaksa dipanen lebih awal dan segera dipasarkan meski harus dijual di bawah harga normal.
Tentu ini pilihan pahit, namun bisa mencegah kerugian yang lebih besar lagi bagi para pembudidaya ikan.
Bila merunut kasus yang berulang ini, sepertinya antisipasi musim kemarau masih terpaku pada kebakaran hutan lahan (karhutla). Padahal, penurunan debit air di sungai akibat kemarau juga memiliki berbagai dampak ikutan, termasuk pengaruh terhadap budi daya ikan.
Belum lagi kondisi persawahan yang juga mulai mengering. Artinya sektor pangan jelas terpengaruh akibat musim kemarau.
Ini belum lagi berbicara mengenai pasokan air bersih bagi warga yang selama ini tergantung pada pasokan PDAM. Atau secara sederhana, bakal ada ancaman krisis air bersih.
Memprihatinkan lagi saat sama-sama menyadari bahwa kondisi ini terjadi saat Kalimantan Selatan baru mulai memasuki musim kemarau. Bagaimana bila sudah mencapai puncak, atau mengalami kemarau panjang?
Ketika berbicara mengenai iklim tentu pembahasan akan makin meluas. Kita mengalami kondisi ekstrem dimana saat musim penghujan banjir, sementara saat kemarau kekeringan. Dan ini kembali pada sejauhmana kita bisa menjaga lingkungan secara baik dan benar.
Isu tambang atau penggundulan hutan, sudah terlalu sering dan bahkan dinilai klise. Namun sering kali masyarakat baru benar-benar menyadari saat datang musibah.
Kembali ke matinya berton-ton ikan. Dinas terkait memang harus aktif menyosialisasikan dan memberi pemahaman kepada petambak agar kejadian serupa tidak terus berulang. Termasuk solusi apa yang bisa ditawarkan bagi petambak, karena ini terkait mata pencarian mereka.
Kerugian dari puluhan hingga ratusan juta rupiah, jelas bukan angka yang kecil. Nilai tersebut berdampak langsung pada ekonomi warga dan daerah.
Antisipasi karhutla memang penting, karena ada dampak ekonomi, lingkungan, kesehatan dan bahkan pendidikan. Tetapi pemerintah daerah pun perlu lebih luas melihat masalah akibat kemarau, agar semua sisi bisa diantisipasi. (*)