TRIBUNJABAR.AID, CIREBON - Musim kemarau yang seharusnya menjadi masa paling dinanti para petani garam di Kabupaten Cirebon justru membawa kegelisahan.
Saat hamparan tambak mulai dipenuhi kristal garam putih, para petani malah dihadapkan pada dua persoalan sekaligus, yakni harga garam yang terus menurun dan hasil panen yang sulit terjual karena minimnya pembeli.
Kondisi tersebut dirasakan para petani garam di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon.
Produksi garam tahun ini tergolong baik berkat cuaca yang mendukung proses kristalisasi.
Namun, melimpahnya hasil panen belum mampu mendongkrak pendapatan petani.
Warno (55), salah seorang petani garam di desa tersebut mengatakan, harga garam krosok kini hanya berkisar Rp 1.200 per kilogram.
Baca juga: Manipulasi KK dan Piagam, 100 Calon Siswa SMP Negeri di Kota Bandung Didiskualifikasi dari SPMB
Padahal, pada awal Juni 2026 harga garam sempat mencapai Rp 1.500 per kilogram.
"Mulai stabil garam sih, tapi harganya agak merosot sedikit. Sekarang Rp 1.200 per kilo. Dulu sempat Rp 1.500. Sekarang banyak petani yang sudah mulai ngerok atau panen, jadinya harga turun," ujar Warno saat ditemui di tambaknya, Rabu (8/7/2026).
Menurutnya, penurunan harga dipicu melimpahnya pasokan garam dari berbagai daerah yang memasuki masa panen secara bersamaan.
Akibatnya, pembeli memiliki banyak pilihan sehingga harga di tingkat petani ikut tertekan.
"Awal bulan enam sempat Rp 1.500 per kilo. Waktu itu yang panen masih sedikit. Saya biasanya termasuk yang paling awal ngerok. Sekarang sudah banyak yang panen, jadi harganya turun," ucapnya.
Bukan hanya harga yang menurun, Warno mengaku hingga kini hasil panennya juga belum banyak terserap pasar.
Kondisi tersebut membuat sebagian petani memilih menyimpan garam sambil menunggu harga kembali membaik.
Di tengah terik matahari, aktivitas memanen garam tetap berlangsung.
Dengan menggunakan penggaruk berbahan kayu yang dipasang pada gagang bambu panjang, Warno perlahan mengumpulkan kristal garam yang mengendap di atas alas geomembrane berwarna hitam.
Butiran-butiran garam putih kemudian membentuk gundukan memanjang yang siap diangkut ke karung.
Dalam satu kali pengerokan yang dilakukan setiap dua hari, satu petak tambak mampu menghasilkan sekitar empat hingga lima karung garam.
Sementara dalam satu musim kemarau, produksi dari satu petak tambak dapat mencapai sekitar 80 hingga 90 ton, bergantung pada kondisi cuaca.
Meski produksinya cukup tinggi, melimpahnya hasil panen tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan petani.
Mereka berharap pemerintah hadir untuk menjaga stabilitas harga ketika panen raya berlangsung.
Para petani mengusulkan agar pemerintah menetapkan harga acuan atau harga eceran tertinggi (HET) untuk komoditas garam, sebagaimana yang diterapkan pada komoditas gula.
Kebijakan tersebut dinilai dapat melindungi pendapatan petani ketika pasokan garam melimpah di pasaran.
Selain itu, petani juga berharap pemerintah memperkuat penyerapan garam lokal agar hasil panen tidak menumpuk di tingkat petani.
Dengan begitu, roda usaha tambak garam tetap berjalan dan kesejahteraan petambak dapat lebih terjamin.
Saat ini, sebagian besar garam produksi petani di Kabupaten Cirebon telah menggunakan teknologi alas geomembrane yang mampu menghasilkan garam dengan kualitas lebih baik.
Garam tersebut umumnya dipasarkan ke berbagai kota untuk memenuhi kebutuhan industri, sementara garam berkualitas tinggi juga diolah menjadi garam konsumsi.(*)