Kolaborasi Bali-Korea Selatan Tampilkan Drama Tari Godogan di PKB 2026
Ida Ayu Suryantini Putri July 09, 2026 10:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) pada Rabu, 8 Juli 2026 malam kehadiran penampilan kolaborasi Korea Selatan dan Bali.

Tampil di Gedung Ksirarnawa Art Center, mereka membawakan sebuah garapan drama tari berjudul "Pangeran Kodok atau I Godogan", garapan karya seni hasil kolaborasi Seoul Institute of the Arts, Korea Selatan dengan ISI Bali. 

Garapan ini melibatkan 40 orang personel, dengan rincian 25 seniman didelegasikan dari Korea Selatan dan 15 seniman dari Bali.

Selain menonjolkan unsur estetik-tematik, garapan ini sarat nilai filosofi yang diangkat dari cerita rakyat Bali. 

Baca juga: Jadwal PKB Rabu 8 Juli 2026, Rekasadana Dramatari Wayang Wong hingga Utsawa Wayang Kulit

Pementasan diawali dengan penampilan karya musik Bayu Nada, perpaduan gamelan gong kebyar Bali dan musik Korea. 

Tujuh penabuh Seoul Institute of the Arts, Korea Selatan dan sejumlah penabuh ISI Bali menunjukkan performa yang maksimal dalam memainkan alat musik.  
‎‎Alat musik, maupun kostum penabuh dan penari kedua kampus ini memang berbeda, tapi alunan dan warnanya serasi, menyatu dalam sebuah garapan drama tari. 

‎Garapan ini juga menarik karena ada unsur cak, dilengkapi unsur-unsur yang lain, memperkaya penampilan. 

Baca juga: Jadwal PKB Sabtu 4 Juli 2026, Pergelaran Mandolin hingga Pergelaran Wayang Cupak, Sanggar Wangked

Perpaduan gamelan ritmis dan rancak mengiringi  adegan demi adegan cerita, sungguh mempesona.

Mengisahkan seekor kodok melakukan penyucian diri untuk menemukan wujud aslinya sebagai manusia. 

Seorang Pangeran Jenggala yang terlahir sebagai seekor kodok, dari sebuah keluarga petani di Desa Magetan. 

‎Atas petunjuk Dewata Agung dia akhirnya berhasil membuang topeng kodoknya untuk kembali ke wujudnya semula sebagai Pangeran Jenggala. 

‎Suasana tegang digambarkan manakala ‎I Godogan  menyampaikan niatnya menikahi Putri Kerajaan Daha. 

Baca juga: Sanggar Seni Taksu Murti Kemanisan Pukau PKB 2026, Angklung Kebyar Legian Tampil Spektakuler

Ayah Godogan terperangah mendengar keinginan itu.  

Tetapi demi anak semata wayangnya, ayah Godogan kemudian mendatangi Raja Kerajaan Daha menyampaikan maksud Godogan. 

Raja marah karena putrinya mau dinikahi Godogan yang notabene seekor binatang.  

Sang Raja kemudian membinasakan ayah Godogan karena itu dianggap melecehkan.  

Mendapati ayahnya meninggal, I Godogan berupaya mengembalikan nyawa ayahnya. 

‎Raja terkejut mendapatkan ayah Godogan hidup lagi, dan menyuruh prajuritnya membunuh lagi dengan mencincang tubuhnya. 

Tetapi I Godogan berhasil menghidupkan ayahnya lagi.  

‎Sang Raja akhirnya menyerah bahwa itu pertanda sudah kehendak Dewata Agung. 

Godogan direstui menikahi putrinya, dan setelah mendapat restu, I Godogan berubah menjadi manusia, yang tiada lain adalah Pangeran Jenggala. 

‎Akhir cerita, I Godogan (Pangeran Jenggala) yang diperankan seniman ISI Bali melanjutkan pernikahan karena sudah berhasil meminang Putri Daha yang diperankan mahasiswa dari Seoul Institute of the Arts ‎Korea Selatan.  

‎Berbagai tarian dipentaskan, untuk memeriahkan pernikahan Pangeran Jenggala dengan Putri Daha tersebut, seperti Tari Cak, Tari Barong macan ala Bali dan tari Barong versi Korea. 

Pembina garapan sekaligus pakar seni Bali, Prof. Dr. I Wayan Dibia, mengungkapkan bahwa pemilihan cerita Godogan didasarkan pada popularitas cerita rakyat yang sangat tinggi di kedua wilayah tersebut.

"Mengapa Godogan? Karena di Korea sendiri cerita rakyat memang sangat populer dan kita mencari cerita-cerita yang memang napasnya sama. Oleh karena itu, kita pilih cerita rakyat ini," ujar Prof. Dibia.

Garapan kolaboratif ini tidak sekadar menampilkan seni peran, melainkan juga dirancang selaras dengan tema PKB tahun ini yang mengusung konsep penyucian diri. 

Ia menjelaskan bahwa fragmen yang diangkat berfokus proses ritual pembersihan.

"Kita mengacu kepada tema sentral PKB yaitu penyucian diri, di mana bagian Godogan yang kita tampilkan itu adalah bagian dari purification ceremony. Jadi, ritual penyucian dari Godogan agar dia bisa menemukan wujud aslinya, dari kodok menjadi pangeran yang tampan," tambahnya.

Melalui pementasan ini, penonton disuguhi perpaduan kaya dari berbagai jenis kesenian khas Korea dan Bali. 

Hebatnya, karya ini berhasil diwujudkan dalam waktu persiapan yang relatif singkat. 

Proses latihan intensif hanya memakan waktu dua minggu, yakni seminggu di Korea dan seminggu di Bali.

"Di Bali cuman seminggu, di Korea seminggu. Oleh karena itu, kita sangat berbangga ternyata ada sesuatu yang bisa kita tampilkan di PKB ini," tambahnya.

Selain menjadi tontonan yang menghibur, ia berharap kolaborasi ini dapat menjadi ruang belajar yang subur bagi generasi muda, khususnya mahasiswa seni dari kedua belah pihak.

"Harapan saya tentu mahasiswa kita, seniman-seniman muda kita dari Bali bisa belajar dari rekan-rekan mereka dari Korea, dan saya yakin mahasiswa Korea juga bisa belajar dari teman-teman mereka di Bali. Ini suatu kesempatan yang sangat baik untuk edukasi dan pertukaran budaya," tuturnya. 

Ia juga berharap ke depan, kerja sama budaya semacam ini dapat dijalankan dengan ritme yang lebih intensif.

Perwakilan Seoul Institute of the Arts mengatakan, Tarian Korea ini memang diwarnai unsur budaya Bali yang kental.

"Ada tari potong padi, saya ambil dari apa yang saya lihat, saya juga menggunakan pedang korea yang diputar-putar," katanya.

Ia mengaku tertarik memadukan pola ritme dan ekspresi penghayatan sehingga cerita Godogan tidaklah rumit.

Penampilan selama 65 menit ini pun berhasil memukau penonton. (*)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.