Dinas Lingkungan Hidup Respons Ada Pencemaran Kuat di Laut Pangandaran Akibat Batu Bara
ferri amiril July 09, 2026 01:20 PM

 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com Pangandaran, Padna


TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Kekhawatiran nelayan terhadap dampak tumpahan batu bara dari tongkang Nautica 22 di perairan selatan Pangandaran kini mendapat penguatan dari hasil kajian ilmiah. 

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat mengonfirmasi adanya dugaan kuat pencemaran air laut akibat material batu bara yang tumpah ke perairan tersebut.

Material tersebut tidak mudah terurai sehingga mengubah kondisi fisik maupun kimia perairan.

"Warna air laut cenderung menghitam dan tingkat kekeruhannya meningkat," ujar Ai Saadiyah dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Kamis (9/7/2026) pagi.

Baca juga: Jeje Wiradinata Kecewa Respons Dinas Soal Pencemaran Batu Bara: Banyak Benur Mati

Kondisi itu berdampak langsung terhadap kualitas lingkungan perairan, terutama dengan menurunnya kadar Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen/DO) hingga berada di bawah ambang batas normal.

Menurut Ai, rendahnya kadar oksigen terlarut akan mengganggu daya dukung ekosistem laut dan berpotensi menekan produktivitas sektor perikanan.

"Parameter DO ini mempengaruhi secara signifikan daya dukung makhluk hidup di dalam air. Kondisi ini berpotensi menurunkan hasil tangkapan nelayan atau menekan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) pada tambak maupun hatchery yang memanfaatkan air laut," katanya.

DLH Jawa Barat pun mengingatkan adanya ancaman jangka panjang dari endapan batu bara di dasar laut. 

Material itu berpotensi melepaskan berbagai logam berat melalui proses pelindian (leaching), seperti arsenik, merkuri, timbal, dan kadmium, yang dapat mencemari lingkungan perairan secara berkepanjangan.

Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh hasil pengujian sedimen dasar laut. Tim ahli menemukan akumulasi logam berat dalam konsentrasi yang tinggi, dengan kandungan arsenik, kromium, dan nikel sebagai unsur dominan, disusul timbal, kadmium, serta merkuri.

"Hal ini menunjukkan batubara mengendap di dasar laut dalam jumlah yang cukup besar. Kami menyimpulkan telah terjadi dugaan pencemaran air laut oleh tumpahan batu bara," ucap Ai.

Saat ini, DLH Provinsi Jawa Barat bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan tim ahli masih melakukan analisis lanjutan menggunakan pemodelan sebaran polutan.

Kajian tersebut bertujuan mengaitkan hasil pengujian fisik dan kimia perairan dengan pola arus laut, pasang surut, serta kondisi habitat fitoplankton untuk memetakan secara menyeluruh dampak pencemaran di perairan Pangandaran.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.