Laporan Wartawan TribunJatim.com, Anggit Pujie Widodo
TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG – Masa liburan sekolah kerap kali identik dengan waktu bersantai atau bermain gadget bagi anak-anak.
Namun, Rumah Merdeka Indonesia (Rudeka) Jombang memiliki cara unik dan produktif untuk memanfaatkan momen ini dengan menggelar kelas memasak kuliner tradisional ketan duren pada Rabu (8/7/2026).
Puluhan anak dari jenjang usia dini hingga sekolah dasar tampak antusias memadati kelas edukasi tersebut.
Mereka diajak mengenal lebih dekat Ketan Duren, yang merupakan salah satu kuliner ikonik dari kawasan lereng pegunungan Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Baca juga: Ban Tiba-tiba Pecah, Truk Tabrak Pengendara Motor hingga Tewas di Jalan Raya Perak Jombang
Tak tanggung-tanggung, Rudeka menghadirkan Alina Dini Adriani sebagai narasumber utama.
Alina merupakan pelaku usaha ketan duren sekaligus bagian dari jejaring Pemuda Pelopor Kabupaten Jombang yang sukses menorehkan prestasi di bidang pangan pada tahun 2025 lalu.
Di bawah bimbingan Alina, anak-anak diperkenalkan pada komposisi bahan, teknik mengukus ketan yang pas, hingga proses penyajian yang dipadukan dengan lumatan daging buah durian yang legit.
Founder Rudeka, Muhammad Alfan Suri—atau yang akrab disapa Alfan Tomim—mengatakan bahwa program ini bertujuan untuk menanamkan rasa bangga dan cinta terhadap kekayaan budaya lokal sejak usia sedini mungkin.
"Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya belajar cara membuat ketan duren secara teknis, tetapi juga memahami bahwa kuliner tradisional merupakan bagian dari warisan budaya leluhur yang perlu dijaga dan dilestarikan," ujar Alfan saat dikonfirmasi, Kamis (9/7/2026).
Pria yang populer dengan nama Alfan Tomim ini membeberkan bahwa kelas memasak tradisional ini merupakan bagian dari agenda berkala Rudeka. Selama masa libur panjang sekolah, pihak yayasan berkomitmen menghadirkan beragam variasi kelas edukasi pada setiap tanggal genap.
"Kami ingin mengisi liburan sekolah dengan kegiatan yang nyata manfaatnya. Hari ini anak-anak berkesempatan belajar langsung dari pelaku usahanya sehingga perspektif mereka tentang potensi daerah bisa lebih luas," tambahnya.
Suasana belajar di kelas kuliner ini berlangsung sangat interaktif. Anak-anak tidak sekadar duduk manis menyimak teori, melainkan diberi ruang penuh untuk memegang bahan makanan dan mempraktikkan setiap tahapan pembuatan secara langsung dengan pengawasan panitia.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan momen paling dinanti, yakni menyantap bersama ketan duren hasil olahan tangan mereka sendiri.
Melalui pendekatan berbasis edutainment (edukasi dan hiburan) ini, Rudeka berharap anak-anak di Jombang memiliki memori masa kecil yang kaya akan nilai-nilai lokalitas dan tidak melupakan identitas daerahnya di tengah gempuran tren makanan modern.
"Anak-anak harus mendapatkan pengalaman baru saat libur sekolah. Konsepnya diajak bermain tapi mendapatkan edukasi berat juga, sekaligus menyadarkan mereka bahwa ada kearifan lokal luar biasa di sekitar mereka," pungkas Alfan.