TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara tengah menjalankan agenda akbar 10 tahunan, yakni Sensus Ekonomi 2026.
Selama satu hingga dua bulan ke depan, petugas sensus akan mendatangi rumah-rumah warga serta para pelaku usaha di Bumi Nyiur Melambai.
Untuk membahas seberapa penting sensus ini dan bagaimana masyarakat harus menyikapinya, jurnalis Tribun Manado, Maksimus Jinewa (Aco), berkesempatan berbincang langsung dengan Kepala BPS Provinsi Sulawesi Utara, Bapak Wateki dalam Tribun Podcast.
Baca juga: Kepala BPS Sulut Sambangi Kantor Tribun Manado, Bahas Sensus Ekonomi 2026 dalam Tribun Podcast
Berikut petikan wawancara lengkapnya:
Tribun Manado (TM): Bisa dijelaskan sebenarnya apa sih Sensus Ekonomi 2026 ini, tujuan, serta manfaatnya untuk masyarakat?
Kepala BPS Sulut (WE): Sensus Ekonomi adalah agenda besar 10 tahunan yang merupakan amanah Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik.
BPS itu menggelar tiga jenis sensus: Sensus Penduduk, Sensus Pertanian, dan Sensus Ekonomi.
Jadi tahun 2026 ini adalah Sensus Ekonomi yang kelima sejak pertama kali tahun 1986.
Tujuannya adalah agar pemerintah mendapatkan data dasar terkait seluruh aktivitas ekonomi di Indonesia, termasuk di Sulawesi Utara.
Data ini penting sebagai landasan kebijakan pembangunan ekonomi.
Secara khusus, kita ingin melihat struktur ekonomi, karakteristik usaha besar maupun kecil, serta yang terbaru di tahun 2026 ini adalah memetakan aktivitas ekonomi digital dan ekonomi lingkungan yang belum ada di sensus sebelumnya.
Tribun Manado (TM): Berarti sasarannya siapa saja? Apakah semua rumah tangga didatangi?
Kepala BPS Sulut (WE): Sasarannya adalah seluruh pelaku usaha dan keluarga.
Mengapa keluarga atau rumah tangga juga didatangi?
Karena era sekarang sudah bergeser ke digital sejak pandemi COVID-19.
Banyak usaha yang tidak kelihatan fisiknya atau tidak punya warung.
Kami mendata semuanya untuk melihat potensi aktivitas ekonomi di dalam rumah tangga.
Tribun Manado (TM): Sekarang kan lagi tren petani atau warga biasa yang nyambi jadi konten kreator atau influencer. Apakah itu juga ikut didata sebagai aktivitas ekonomi?
Kepala BPS Sulut (WE): Iya, didata! Misalnya dalam satu keluarga, bapaknya bertani dan hasilnya dijual, itu dihitung usaha.
Lalu malam hari anaknya membuat konten digital yang viral dan menghasilkan uang, itu juga dihitung sebagai usaha.
Jadi dalam satu keluarga bisa ada beberapa aktivitas usaha.
Tujuannya bukan untuk mengorek pendapatan mereka demi pajak, melainkan untuk memetakan potensi.
Jadi suatu saat pemerintah punya program pelatihan atau bantuan untuk konten kreator, petanya sudah ada.
Tribun Manado (TM): Khusus untuk di Sulawesi Utara sendiri, berapa banyak petugas yang diterjunkan untuk menyisir 15 kabupaten/kota?
Kepala BPS Sulut (WE): Untuk pendataan lapangan di kabupaten/kota, total ada 2.401 petugas.
Mereka terdiri dari petugas pendata (PPL) dan pengawas (PML) yang direkrut dari masyarakat melalui seleksi administrasi, tes, hingga wawancara.
Kami juga melatih mereka secara online dan offline agar memiliki kompetensi statistik dan komunikasi yang baik.
Sistem pendataannya sudah online lewat gadget, jadi progresnya langsung ter-update di dashboard kami secara real-time.
Mitra petugas ini bekerja mulai 15 Juni sampai 31 Agustus 2026.
Tribun Manado (TM): Sejauh ini, bagaimana respons warga Sulut? Apakah ada tantangan unik yang dialami petugas di lapangan?
Kepala BPS Sulut (WE): Secara umum, masyarakat Sulawesi Utara menerima petugas dengan sangat baik.
Dukungan dari Pemerintah Provinsi, Pak Gubernur, Wakil Gubernur, hingga jajaran Forkopimda sangat luar biasa melalui Surat Edaran.
Per hari ini, progres pendataan kita sudah mencapai sekitar 36 persen.
Tantangannya paling masalah ritme waktu kerja.
Petugas mendata siang hari, sementara warga atau petani sedang bekerja di kebun atau di luar rumah.
Jadi petugas harus punya effort lebih untuk datang sore atau malam hari sesuai perjanjian.
Tribun Manado (TM): Kadang ada warga yang sensitif kalau ditanya soal kepemilikan barang seperti kulkas atau jumlah penghasilan. Bagaimana petugas mengatasi hal ini?
Kepala BPS Sulut (WE): Itu memang tantangan komunikasi.
Saya selalu sampaikan saat pelatihan, 30 detik pertama kedatangan petugas adalah penentu diterima atau tidaknya mereka.
Pertanyaan soal kulkas atau penghasilan bukan untuk urusan pajak, melainkan untuk memetakan status dan kondisi ekonomi riil masyarakat.
Jika komunikasinya baik dan sopan, masyarakat pasti akan menjawab dengan terbuka.
Tribun Manado (TM): Ada juga warga yang khawatir datanya bocor atau disalahgunakan. Bagaimana jaminan dari BPS?
Kepala BPS Sulut (WE): Masyarakat tidak perlu khawatir.
Berdasarkan UU Statistik, data individu responden dijamin 100 % rahasia.
Kami tidak akan pernah mempublikasikan bahwa si A atau si B penghasilannya sekian.
Yang kami publikasikan ke publik nantinya adalah data agregat atau data makro (global).
Misalnya, berapa persen warga Manado yang bergerak di sektor perdagangan. Jadi, datanya sangat aman.
Tribun Manado (TM): Pak Eki sendiri kalau boleh tahu sudah berapa lama bertugas di BPS dan bagaimana kesan pertamanya tentang Manado?
Kepala BPS Sulut (WE): Saya sudah 31 tahun mengabdi di BPS.
30 tahun di Jakarta, lalu sempat jadi Kepala BPS Gorontalo, dan per April kemarin diamanahkan memimpin BPS Sulawesi Utara.
Kesan saya, orang Manado itu ramah-ramah.
Saya sebagai orang Jawa merasa sangat cocok tinggal di sini.
Kulinernya juga luar biasa, saya sangat suka Rahang Tuna yang segar, asalkan sambalnya dipisah karena saya tidak terlalu kuat pedas (tertawa).
Tribun Manado (TM): Di tengah kesibukan mengawal Sensus Ekonomi, bagaimana bapak menjaga kebugaran tubuh?
Kepala BPS Sulut (WE): Saya menerapkan prinsip disiplin hidup. Setiap pagi saya sempatkan jalan kaki atau jogging minimal 6.000 langkah.
Selain itu, menjaga keseimbangan rohani dengan ibadah dan menyempatkan membaca buku minimal 5 menit sehari untuk terus meng-update ilmu.
Tribun Manado (TM): Apa pesan yang ingin disampaikan kepada petugas di lapangan dan seluruh masyarakat Sulawesi Utara?
Kepala BPS Sulut (WE): Untuk teman-teman petugas, tetap jaga kesehatan karena tugas kita masih panjang.
Laksanakan SOP dengan baik dan selalu kedepankan komunikasi yang sabar dan santun kepada masyarakat.
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini