Dinas Keluarga ke LN: Antara Beton AS dan Batik  Eropa
Muhammad Ridho July 09, 2026 03:29 PM

Oleh: RHR Dodi Sarjana
(Positive Communication)

TRIBUNPEKANBARU.COM - Negeri kita ini tampaknya lagi musim “dinas keluarga”. Bukan dinas biasa. Ini dinas yang rombongannya lengkap: bapak, ibu, anak. Kop suratnya resmi. Tujuannya jauh. Alasannya mulia.

Saat ini dua surat yang jadi perbincangan.

Cerita Terkini: Menteri PU Dody Hanggodo dan New York

Namanya muncul di potongan surat yang viral: Dody Hanggodo.

Di kolom “ikut serta” tertulis rapi: Irma Hermawati - istri. Aurellia Tsabitha Meidirama - anak.

Tujuannya: Amerika Serikat. 

Waktunya: bertepatan dengan final Piala Dunia.

Alasannya pasti teknis. Mungkin mau studi banding stadion. Mungkin mau lihat bagaimana drainase di sekitar arena biar tidak banjir seperti beberapa ruas jalan kita.

Yang bikin publik mengernyit bukan perginya.

Yang bikin bertanya adalah kenapa harus istri dan anak "ikut"?

Apakah Ibu Irma ahli struktur jembatan? Apakah Aurellia konsultan tata kota?

Kalau iya, hebat. Berarti keluarga Menteri PU ini paket komplit. Bisa cor beton, bisa hitung RAB, bisa juga nonton bola.

Tapi kalau tidak... maka surat itu berubah fungsi. Dari surat dinas menjadi surat “izin jalan-jalan bareng yang dibiayai negara”.

Dan itu sakit. Sakitnya sama seperti melihat lubang di jalan, lalu di sebelahnya ada baliho “Indonesia Maju”.

Cerita Dahulu: Menteri UMKM Maman Abdurrahman dan Eropa

Dulu, Maman Abdurrahman juga pernah ke luar negeri bersama keluarga. Tepatnya, istri mendampingi anak dalam “misi budaya” ke Eropa.

Klarifikasi sudah disampaikan ke KPK pada Juli 2025. Isinya tegas: dana pribadi.

Ini patut diapresiasi. Karena jujur itu mahal. Pakai dana pribadi artinya tidak membebani APBN. Tidak ada kop surat. Tidak ada stempel. Tapi tetap saja publik bertanya, kenapa harus diumumkan?

Karena di saat yang sama, ada ribuan pelaku UMKM yang “misi budayanya” cuma ke pasar induk.

Dana mereka pribadi juga. Bahkan sering kurang.

Mereka tidak dapat klarifikasi ke KPK. Mereka dapatnya surat peringatan dari bank.

Benang Merah Dua Menteri, Dua Cara, Satu Rasa

Soal Kop Surat

Pak Dody pakai kop. Resmi. Tercatat. Bisa diaudit. Pak Maman pakai dana pribadi. Tidak resmi. Tapi tetap diklarifikasi.
Dua-duanya akhirnya sama-sama jadi sorotan. Artinya, di era media sosial, tidak ada perjalanan pejabat yang benar-benar pribadi.

Soal Timing

Satu berangkat pas final bola. Satu berangkat pas anak misi budaya. Timing itu penting. Karena rakyat sedang disuruh “efisiensi”.
Rasanya seperti disuruh diet, lalu lihat tetangga pesan catering prasmanan.

Soal Rasa Malu

Jabatan itu bukan hanya soal wewenang. Dia soal teladan. Kalau pejabatnya saja “aji mumpung”, bagaimana dengan staf di bawah?
Kalau menterinya saja bawa keluarga, bagaimana dengan camat, lurah, kepala dinas?

Pesan untuk Surat-Surat Berikutnya

Kepada Pak Dody Hanggodo, Kami titip jalan dan jembatan. Kalau mau ke New York, silakan. Tapi pergilah sendiri. Biar hemat. Biar fokus. Biar pulangnya bisa bawa pulang ilmu, bukan hanya foto.

Kepada Pak Maman Abdurrahman, terima kasih sudah pakai dana pribadi dan sudah lapor KPK. Itu langkah kesatria.
Tolong titip juga UMKM yang di kampung. Mereka juga punya anak yang ingin “misi budaya”. Bedanya, misinya ke Jakarta pun harus nabung setahun.

Kepada negara ini, kita tidak anti pejabat bahagia. Kita hanya minta, kebahagiaan itu jangan pakai seragam negara. Jangan pakai tinta negara. Jangan pakai uang rakyat.

Rakyat sudah cukup lelah. Lelah bayar pajak. Lelah macet. Lelah lihat surat dinas yang isinya nama keluarga.

Surat ini ditulis oleh warga yang tiketnya cuma cukup ke Blok M, bukan ke New York. *

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.