TRIBUNLOMBOK.COM — Komisi X DPR RI melakukan kunjungan kerja spesifik ke SMAN 1 Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (9/7/2026).
Kunjungan dalam rangka memastikan realisasi bantuan revitalisasi senilai Rp794.203.000 dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berjalan optimal.
Atap ruang kelas SMAN 1 Lingsar roboh pada 7 Juni 2026.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani itu bertujuan meninjau langsung kondisi bangunan sekaligus mendorong percepatan proses revitalisasi demi menjamin keselamatan dan kenyamanan peserta didik.
Kepala SMAN 1 Lingsar, Efendi Agung Bijaksana, mengungkapkan kejadian robohnya atap berlangsung sekitar pukul 02.00 dini hari, jauh sebelum aktivitas belajar mengajar dimulai, sehingga tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Baca juga: SMAN 7 Mataram Dapat Rp1,7 Miliar untuk Perbaikan Gedung, SMAN 1 Lingsar Menyusul
"Bangunan kami memang sudah cukup tua. Kejadian robohnya atap terjadi pada 7 Juni 2026 sekitar pukul 02.00 dini hari. Kami bersyukur karena tidak ada korban jiwa. Kalau kejadian itu terjadi pada hari aktif sekolah, tentu ceritanya akan berbeda," ungkap Efendi.
Ia menjelaskan, sebagian besar bangunan sekolah telah berdiri sejak 1999, sementara gedung yang roboh dibangun pada 2006.
Sebelum insiden, pihak sekolah sebenarnya telah menemukan retakan pada bagian kuda-kuda bangunan yang diduga dipengaruhi faktor usia serta dampak gempa kecil beberapa waktu sebelumnya.
Setelah kejadian, sekolah segera berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Dinas PUPR, dan aparat kepolisian untuk mengamankan lokasi.
Efendi meminta agar revitalisasi menjangkau seluruh bangunan sekolah yang mulai mengalami penurunan kualitas akibat usia.
"Kami berharap seluruh bangunan sekolah ini dapat direhabilitasi karena sebagian besar sudah tidak layak," tuturnya.
Lalu Hadrian menyebut kondisi SMAN 1 Lingsar juga terjadi di sekolah lain di NTB maupun daerah lain yang membutuhkan rehabilitasi lantaran bangunannya telah berusia puluhan tahun tanpa pernah mendapatkan perbaikan menyeluruh.
"Kita bersyukur karena musibah ini terjadi pada tengah malam sehingga tidak ada korban jiwa. Namun, kejadian ini menjadi peringatan bagi kita semua agar lebih serius memperhatikan kondisi bangunan sekolah, khususnya sekolah-sekolah yang usianya sudah puluhan tahun," ujarnya.
Ia menegaskan, revitalisasi sekolah merupakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto, sehingga pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk mempercepat rehabilitasi sekolah-sekolah yang membutuhkan.
Pemerintah daerah pun didorong untuk aktif mengusulkan sekolah-sekolah yang layak menjadi sasaran program tersebut.
Komisi X juga mengevaluasi pelaksanaan Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang pendidikan.
Hadrian mengusulkan agar mekanisme penyaluran bantuan disederhanakan dengan mengalirkan dana langsung ke rekening sekolah, sehingga proses perbaikan dapat dikelola lebih cepat, transparan, dan sesuai kebutuhan lapangan.
"Kami mengusulkan agar bantuan revitalisasi langsung masuk ke rekening sekolah. Dengan begitu, sekolah dapat mengelola sendiri proses perbaikannya secara lebih cepat, transparan, dan sesuai kebutuhan di lapangan," tegasnya.
Ia juga berharap bantuan tidak hanya menyasar bangunan yang roboh, tetapi mencakup seluruh gedung yang kondisinya sudah tidak layak, sehingga lingkungan belajar secara keseluruhan menjadi lebih aman dan nyaman.
(*)