Laporan Wartawan Tribunnews.com, Bayu Indra Permana
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia kini menghadapi tantangan serius dalam penanganan diabetes setelah tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah penyandang diabetes terbanyak di dunia.
Data International Diabetes Federation (IDF) Atlas 2025 menunjukkan sekitar 20,4 juta penduduk Indonesia berusia 20-79 tahun hidup dengan diabetes, menempatkan Indonesia di posisi kelima dunia setelah China, India, Amerika Serikat, dan Pakistan.
Secara global, jumlah penyandang diabetes diperkirakan telah mencapai 589 juta orang atau sekitar 11,1 persen populasi dunia, dengan tren yang terus meningkat setiap tahunnya.
Diabetes merupakan penyakit metabolik yang ditandai tingginya kadar gula darah akibat gangguan pengaturan gula dalam tubuh.
Penyakit ini dikenal sebagai silent killer karena sering berkembang tanpa gejala yang jelas, tetapi dapat memicu berbagai komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, hingga kebutaan.
Baca juga: Kasus Diabetes di Indonesia Terus Tinggi, Dokter Ungkap Latihan Beban Bisa Bantu Turunkan Gula Darah
Berdasarkan data IDF 2025, sekitar 90 persen kasus diabetes di Indonesia merupakan Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2) yang erat kaitannya dengan pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, serta gaya hidup sedentari.
Persoalan diabetes di Indonesia tidak hanya terletak pada tingginya jumlah penderita, tetapi juga rendahnya tingkat deteksi dan pengendalian penyakit.
Di tengah tingginya angka kasus diabetes, berbagai inovasi mulai dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan penyakit.
Salah satunya mGanik, melalui ekosistem penanganan diabetes pendekatan 3R (Rescue, Reverse, dan Remission) dengan mengintegrasikan medikasi, nutrisi, serta monitoring pasien.
"Dengan ekosistem yang terintegrasi, dari segi medikasi, nutrisi, hingga monitoring, kami percaya remisi diabetes bukan sesuatu yang mustahil," ujar Pendiri mGanik, dr. Kelvin Candiago, M.M., MARS., DABRM, kepada awak media.
Sejak 2020, ekosistem menjangkau lebih dari satu juta orang dengan sekitar 5.000 pelanggan aktif setiap bulan. Sementara lebih dari 1.500 penyandang diabetes didampingi hingga kuartal pertama 2026.
Dalam pendampingan tersebut, tercatat 15–20 pasien setiap bulan berhasil mencapai tahap reverse, sementara sekitar 7–10 persen memenuhi kriteria klinis untuk dinyatakan masuk fase remisi diabetes.
Sementara itu, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan menyebut masih banyak masyarakat yang hidup dengan diabetes tanpa mengetahui kondisi kesehatannya.
Direktur P2PTM Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, mengatakan diabetes kerap dianggap tidak berbahaya karena gejalanya tidak langsung dirasakan pada tahap awal.
"Permasalahannya, yang belum didiagnosis masih banyak. Padahal diabetes melitus juga menjadi penyebab disabilitas," tuturnya.
"Jadi, kita jangan berpikir bahwa sakit DM itu tenang-tenang saja," ujar Siti.
Menurut Nadia, kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah kecil maupun besar sehingga memicu gangguan pada berbagai organ, termasuk ginjal, mata, saraf, dan jantung.
Baca juga: Bukan Cuma Diabetes, Hobi Makan Manis Picu Gangguan Hormon yang Berujung Kanker Endometrium
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa pada 2024 hanya sekitar 35,4 persen penderita diabetes yang berhasil terdiagnosis oleh tenaga kesehatan.
Dari jumlah tersebut, sekitar 68,1 persen memperoleh pengobatan, namun hanya 20,2 persen yang mampu mengendalikan kadar gula darah sesuai target.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar dalam pengendalian diabetes bukan hanya pengobatan, tetapi juga rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Nadia menilai perubahan gaya hidup menjadi faktor utama dalam meningkatnya kasus diabetes di Indonesia.
Pola makan tinggi gula, garam, dan lemak, kurang olahraga, serta kebiasaan merokok menjadi faktor risiko yang paling dominan.
Ia juga menyoroti meningkatnya konsumsi minuman berpemanis, seperti kopi susu, teh manis, dan minuman boba yang semakin populer, terutama di kalangan anak muda.
Selain mengancam kesehatan, diabetes juga menimbulkan beban ekonomi yang besar.
Penyakit ini menjadi salah satu penyebab utama kematian di Indonesia dan berkaitan erat dengan meningkatnya kasus gagal ginjal.
Bahkan, biaya penanganan penyakit terkait diabetes, termasuk gagal ginjal, tercatat meningkat hingga 478 persen dalam tujuh tahun terakhir.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif untuk menekan lonjakan kasus diabetes.
Mengurangi konsumsi gula, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, serta melakukan pemeriksaan gula darah secara berkala dinilai menjadi upaya penting agar masyarakat tidak terlambat mengetahui kondisi kesehatannya.