PROHABA.CO, ACEH TIMUR – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Aceh memastikan fenomena semburan lumpur dan kebocoran gas yang terjadi di Gampong Meunasah Tingkeum, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, tidak membahayakan masyarakat.
Kepastian tersebut disampaikan setelah tim Dinas ESDM melakukan pengecekan lapangan, pengukuran langsung, serta pengambilan sejumlah sampel di lokasi untuk mengetahui karakteristik gas dan material yang keluar dari lubang sumur bor milik warga.
Kepala Dinas ESDM Aceh, Asnawi ST MSM, mengatakan hasil pengamatan sementara menunjukkan gas yang muncul merupakan gas dangkal (shallow gas) yang lazim ditemukan pada lapisan tanah tertentu dan kini intensitasnya terus menurun.
"Kami sudah mengambil sampel di beberapa titik.
Semburan lumpur juga sudah berhenti.
Hasil analisis sementara menunjukkan fenomena ini tidak membahayakan masyarakat sekitar," ujar Asnawi, Kamis (9/7/2026).
Menurutnya, tim ESDM masih melakukan pengujian laboratorium terhadap sejumlah sampel yang diambil dari lokasi, meliputi air dari lubang bor, air sumur milik warga, hingga air rawa di sekitar area persawahan.
Pengujian dilakukan untuk mengetahui kandungan kimia serta konsentrasi gas secara lebih rinci.
Baca juga: DLH Deteksi Gas Metana di Lokasi Semburan Lumpur Gas Aceh Timur, Ditemukan 10 Titik Rembesan Baru
Sementara itu, Kepala Bidang Minyak dan Gas Bumi (Migas) Dinas ESDM Aceh, Dr. Dian Budi Dharma ST MT, menjelaskan hasil pengukuran lapangan menunjukkan adanya kenaikan suhu di sekitar titik semburan.
Berdasarkan pemeriksaan menggunakan parameter fisika lapangan, suhu di area semburan tercatat mencapai sekitar 35 derajat Celsius, sedangkan suhu normal air sumur warga di sekitar lokasi berkisar 28 derajat Celsius.
"Kenaikan suhu ini dipengaruhi oleh gradien geotermal atau panas bumi. Sumur yang dibor warga memiliki kedalaman hampir 100 meter.
Secara teori, semakin dalam pengeboran, maka temperatur yang dijumpai juga akan semakin tinggi," jelas Dian.
Selain suhu, tim juga mengukur tingkat salinitas atau kadar garam pada air di sekitar lokasi.
Mengingat posisi sumur berada tidak jauh dari kawasan pesisir, kandungan garam di dalam air tergolong cukup tinggi.
Hasil pengukuran menunjukkan salinitas air pada lubang bor mencapai sekitar 3.000 ppm (parts per million), sementara di area persawahan tercatat sekitar 10.000 ppm.
Baca juga: Sumur Bor Semburkan Gas dan Api di Aceh Utara, Puluhan Warga Masih Mengungsi
Dian menegaskan karakteristik gas yang keluar dari sumur tersebut berbeda dengan gas yang berasal dari sumur minyak dan gas bumi komersial yang umumnya ditemukan pada pengeboran dengan kedalaman ribuan meter.
Menurutnya, gas yang muncul di Meunasah Tingkeum berupa gas dangkal atau gas rawa dengan konsentrasi yang jauh di bawah ambang batas berbahaya.
"Uap gas di sini tidak pekat dan tidak mencapai ambang batas berbahaya.
Kesimpulan sementara kami, ini merupakan semburan gas dangkal atau gas rawa.
Biasanya dalam beberapa hari tekanan gas akan berkurang dan berhenti dengan sendirinya," katanya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, semburan lumpur yang sempat muncul akibat pengeboran sumur air bawah tanah kini telah berhenti.
Namun, suara desisan gas masih terdengar pelan di sekitar titik semburan, sementara gelembung-gelembung kecil masih terlihat muncul di area persawahan di sekitar lokasi.
Meski demikian, ESDM Aceh telah mengamankan seluruh sampel material, mulai dari air lubang bor, air sumur warga, hingga sampel air rawa di area persawahan untuk mengukur kadar kimia dan konsentrasi gas secara mutakhir.
(Serambinews.com/Maulidi Alfata)
Baca juga: 15 Jam Melawan Kobaran Api, Damkar Padamkan Kebakaran Sumur Minyak Tradisional di Aceh Timur
Baca juga: Sumur Minyak Tradisional Ilegal di Aceh Timur Meledak dan Terbakar, Polisi Selidiki Penyebabnya
Baca juga: WNA China Gagal Selundupkan Emas 900 Mayam ke Malaysia, Ditangkap di Bandara SIM