Piala Dunia 2026: Empat Superstar Berebut Sepatu Emas yang Bisa Mengubah Sejarah
Agus Firmansyah July 09, 2026 06:49 PM

·9 Juli 2026

Perburuan Sepatu Emas menjadi salah satu kisah paling menarik dalam Piala Dunia 2026.

Bukan satu pemain yang melesat meninggalkan pesaingnya, melainkan empat penyerang terbaik dunia yang mencatat angka luar biasa — jumlah yang biasanya sudah cukup untuk meraih gelar pencetak gol terbanyak turnamen. Namun kali ini, mereka masih bersaing ketat menjelang babak-babak terakhir.

Lionel Messi memimpin dengan delapan gol, disusul Kylian Mbappe dan Erling Haaland dengan tujuh gol, sementara kapten Inggris Harry Kane berada satu tingkat di bawah dengan enam gol.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa angka tersebut biasanya sudah cukup untuk memenangkan Sepatu Emas.

Kane meraih gelar itu dengan enam gol di Rusia delapan tahun lalu, sementara Miroslav Klose dan Thomas Muller memenangkannya dengan masing-masing lima gol pada 2006 dan 2010. Delapan gol Mbappe di Qatar empat tahun lalu bahkan dianggap sebagai pencapaian luar biasa.

Namun musim panas ini, angka-angka tersebut justru menjadi standar baru.

Prestasi Langka

Mencetak delapan gol dalam satu edisi Piala Dunia merupakan pencapaian yang sangat jarang terjadi dalam sepak bola.

Sebelum turnamen ini, hanya delapan pemain yang pernah melakukannya: Just Fontaine, Sandor Kocsis, Gerd Muller, Ademir, Eusebio, Guillermo Stabile, Ronaldo, dan Mbappe.

Messi kini telah bergabung dengan daftar eksklusif tersebut, sementara Mbappe, Haaland, dan Kane masih berpeluang besar untuk menyusulnya.

Dengan beberapa pertandingan tersisa, bahkan ada kemungkinan lebih dari satu pemain bisa mencapai dua digit gol — sesuatu yang hampir tak terpikirkan di awal turnamen.

Setiap Gol – dan Setiap Menit – Bisa Menentukan

Sepatu Emas ditentukan pertama-tama oleh jumlah gol, kemudian jumlah assist, dan jika masih imbang, waktu bermain menjadi penentu.

Faktor-faktor penentu ini bisa menjadi sangat penting.

Saat ini Mbappe memimpin dalam jumlah assist dengan dua, sementara Messi dan Kane masing-masing memiliki satu. Haaland belum mencatatkan assist, namun memiliki rasio menit per gol terbaik di antara keempat pesaing utama.

Artinya, setiap kontribusi hingga final pada 19 Juli bisa berdampak besar terhadap hasil akhir.

Kylian Mbappe (Prancis)

Tujuh gol dan dua assist kembali menegaskan pentingnya peran Mbappe bagi Prancis.

Ia mencetak empat gol di fase grup dan menambah tiga lagi di babak gugur, melanjutkan catatan luar biasa yang telah menempatkannya di antara penyerang terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia.

Mbappe telah melepaskan 26 tembakan, 17 di antaranya tepat sasaran, dengan tingkat konversi hampir 27 persen.

Yang paling mengesankan, ia berusaha menjadi pemain pertama yang mencetak setidaknya delapan gol di dua edisi Piala Dunia yang berbeda.

Erling Haaland (Norwegia)

Piala Dunia ini merupakan debut Haaland di panggung terbesar sepak bola, namun ia tampil seolah sudah berpengalaman lama.

Striker Norwegia tersebut mencetak tujuh gol hanya dalam 360 menit, menghasilkan tingkat konversi terbaik di antara para pesaing dengan 38,9 persen.

Ia hanya membutuhkan 18 tembakan untuk mencetak tujuh gol, menegaskan efisiensi luar biasa yang telah menjadi ciri khas karier klubnya dan kini terbawa ke level internasional.

Haaland juga jauh melampaui angka expected goals-nya, membuktikan ketajaman penyelesaian yang menjadikannya salah satu penyerang paling berbahaya di dunia.

Lionel Messi (Argentina)

Pada usia 39 tahun, Messi terus mendobrak batas ekspektasi.

Delapan gol yang ia ciptakan datang bersama serangkaian penampilan berpengaruh lainnya, dengan Argentina kembali mengandalkan sang kapten di momen-momen penting.

Ia telah melepaskan 29 tembakan — lebih banyak dari pemain lain di daftar teratas — dan delapan gol tersebut datang dari angka expected goals sedikit di atas lima.

Setelah membawa Argentina meraih gelar juara dunia empat tahun lalu, Messi sekali lagi menunjukkan performa yang pantas dikenang sepanjang masa.

Dan yang lebih menakjubkan, ia bahkan gagal mengeksekusi dua penalti!

Harry Kane (Inggris)

Kane masih menjadi pesaing kuat setelah tampil konsisten sepanjang turnamen ini.

Kapten Inggris tersebut telah mencetak enam gol dan satu assist, dengan tingkat konversi lebih dari 31 persen.

Penyelesaiannya di dalam kotak penalti sangat efisien, mencetak lebih dari setengah peluang bersih yang ia dapatkan, sambil tetap berkontribusi dalam membangun serangan dari posisi lebih dalam.

Setelah memenangkan Sepatu Emas pada 2018, Kane tahu persis apa yang diperlukan di tahap akhir Piala Dunia.

Perlombaan Sepatu Emas yang Tak Ada Duanya

Statistik menunjukkan bahwa ini adalah salah satu persaingan Sepatu Emas paling ketat sepanjang sejarah Piala Dunia.

Empat penyerang elit, empat kandidat sejati, dan hampir tidak ada yang benar-benar unggul saat pertandingan-pertandingan terbesar masih menanti.

Pada akhirnya, hanya satu yang akan mengangkat trofi Sepatu Emas.

Tiga lainnya akan berharap mendapatkan hadiah hiburan yang sesungguhnya diimpikan setiap pemain — mengangkat trofi Piala Dunia pada 19 Juli.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.