TRIBUNLOMBOK.COM - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) terus memperkuat sistem layanan kesehatan bagi calon jemaah haji.
Kolaborasi ini menyoroti pentingnya persiapan medis jemaah yang dimulai jauh sebelum hari keberangkatan ke Tanah Suci.
Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenhaj, Dani Pramudya, menegaskan bahwa pelayanan kesehatan haji merupakan bagian krusial dalam penyelenggaraan ibadah haji yang harus dipersiapkan sejak dini, bukan hanya menjelang keberangkatan.
"Pelayanan kesehatan haji dimulai sejak pembinaan di dalam negeri. Karena itu, kami terus memperkuat kolaborasi agar setiap jemaah benar-benar siap secara medis untuk menjalankan ibadah haji," ujar Dani dalam audiensi bersama Pusat Kesehatan TNI, Selasa (7/7/2026).
Baca juga: Jemaah Haji Berangkat Tahun 2027 Diusulkan Bayar Rp42,8 Juta, Daftar Tunggu NTB 155 Ribu Orang
Salah satu fokus utama pembahasan dalam audiensi tersebut adalah penguatan implementasi istithaah kesehatan sebagai syarat mutlak keberangkatan jemaah.
Kemenhaj saat ini tengah menyiapkan sistem pembinaan kesehatan yang memungkinkan kondisi fisik jemaah dipantau secara berkala mulai satu tahun sebelum jadwal keberangkatan.
Menurut Dani, pemantauan berkesinambungan ini akan membantu mendeteksi dan mengendalikan berbagai faktor risiko kesehatan sejak dini, sehingga jemaah memiliki kesiapan fisik yang lebih optimal saat menjalankan ibadah di Tanah Suci.
"Dengan pemantauan yang berkesinambungan, berbagai faktor risiko kesehatan dapat dideteksi dan dikendalikan lebih dini sehingga jemaah memiliki kesiapan fisik yang lebih baik saat berada di Tanah Suci," jelasnya.
Audiensi tersebut turut membahas skema penanganan bagi jemaah dengan kondisi kesehatan berisiko tinggi, seperti penderita penyakit jantung, hipertensi berat, dan gagal ginjal.
Sejumlah masukan disampaikan oleh Pusat Kesehatan TNI, meliputi penguatan layanan promotif dan preventif, pengembangan layanan khusus bagi penderita gagal ginjal, pengaturan skema keberangkatan bagi jemaah berisiko tinggi, hingga optimalisasi pemeriksaan kesehatan tahap akhir di embarkasi sebelum jemaah diberangkatkan.
Selain itu, kedua pihak juga membahas penguatan pembinaan melalui program manasik kesehatan, guna meningkatkan pemahaman jemaah akan pentingnya menjaga kebugaran fisik, mengendalikan penyakit penyerta, serta mempersiapkan diri secara matang menghadapi kondisi cuaca dan aktivitas fisik yang berat di Tanah Suci.
Pusat Kesehatan TNI turut mengusulkan penguatan kerja sama dengan Dinas Kesehatan di daerah, serta optimalisasi pelayanan kesehatan melalui jejaring kemitraan rumah sakit.
"Kami menyambut baik berbagai masukan dari Pusat Kesehatan TNI. Sinergi ini menjadi langkah strategis untuk membangun sistem kesehatan haji yang lebih terintegrasi, mulai dari pembinaan, pemeriksaan kesehatan, hingga pelayanan selama penyelenggaraan ibadah haji," kata Dani.
(*)