TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Iran memutuskan menunda prosesi pemakaman terakhir sekaligus penguburan mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Kota Mashhad, Iran timur laut, Kamis (9/7/2026).
Penundaan dilakukan setelah jutaan pelayat memadati rangkaian penghormatan terakhir yang berlangsung di sejumlah kota suci di Irak.
Awalnya prosesi pemakaman terakhir Khamenei dijadwalkan berlangsung pada Kamis pagi waktu setempat.
Namun, otoritas Iran akhirnya menggeser jadwal pelaksanaan menjadi pukul 14.00 waktu setempat karena upacara penghormatan terhadap Khamenei di Irak berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan.
Media pemerintah Iran, Press TV, melaporkan bahwa membludaknya jumlah pelayat di Kota Najaf dan Karbala di Irak menjadi alasan utama perubahan jadwal tersebut.
Pemerintah Irak memperkirakan sedikitnya empat juta orang menghadiri upacara pemakaman di Kota Najaf, salah satu pusat spiritual terpenting bagi umat muslim Syiah di dunia.
Setelah rangkaian acara di Najaf selesai, iring-iringan jenazah melanjutkan perjalanan menuju Karbala. Kota yang menjadi lokasi makam Imam Hussein tersebut kembali dipenuhi lautan manusia yang datang dari berbagai wilayah Irak maupun negara-negara lain di kawasan Timur Tengah.
Meski suhu udara dilaporkan sangat tinggi, jutaan pelayat tetap bertahan di sepanjang jalan untuk menyaksikan prosesi dan memberikan penghormatan terakhir kepada Khamenei.
Di sejumlah titik, situasi sempat menjadi tidak terkendali akibat banyaknya warga yang berusaha mendekati peti jenazah yang dibungkus kaca dan diselimuti bendera nasional Iran.
Baca juga: Nyatakan Gencatan Senjata Berakhir, AS Langsung Bombardir Iran Lagi, Bandara Jadi Sasaran
Para pengusung jenazah bahkan beberapa kali terpaksa menghentikan perjalanan dan menurunkan peti agar tidak terjatuh akibat desakan massa yang ingin menyentuh atau ikut memikul peti sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terakhir.
Situasi ini yang membuat pejabat setempat menunda acara pemakaman, mereka menilai seluruh rangkaian penghormatan harus berjalan dengan tertib mengingat besarnya antusiasme masyarakat yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama puluhan tahun memimpin Republik Islam Iran.
Kendati demikian, suasana duka yang mendalam masih menyelimuti rangkaian prosesi penghormatan terakhir Ayatollah Ali Khamenei di Irak.
Di sepanjang jalur iring-iringan jenazah di Najaf dan Karbala, ribuan pelayat terlihat mengibarkan bendera Iran berwarna merah dan hitam yang menjadi simbol berkabung sekaligus lambang perlawanan yang selama ini identik dengan gerakan pendukung Republik Islam Iran.
Tidak hanya itu, sejumlah pelayat juga menjalankan ritual berkabung yang umum dilakukan oleh sebagian komunitas muslim Syiah, termasuk aksi memukul dada dan pencambukan diri sebagai bentuk ekspresi kesedihan dan penghormatan terhadap tokoh yang dianggap memiliki pengaruh besar dalam perjalanan politik dan keagamaan Iran.
Ritual tersebut berlangsung di tengah lantunan doa dan seruan penghormatan yang terus menggema sepanjang prosesi berlangsung.
Banyak pelayat yang datang dari berbagai wilayah Iran, Irak, hingga negara-negara lain di Timur Tengah terlihat menangis saat iring-iringan jenazah melintas di hadapan mereka.
Besarnya partisipasi masyarakat dalam prosesi ini menunjukkan kuatnya ikatan emosional antara Ayatollah Ali Khamenei dengan para pendukungnya.
Tidak hanya di Iran tetapi juga di berbagai komunitas Syiah di kawasan Timur Tengah yang selama ini memandangnya sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia Islam Syiah.
Penundaan pemakaman terjadi di tengah situasi geopolitik Timur Tengah yang masih memanas.
Konflik regional yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel masih menyisakan ketegangan meskipun sejumlah upaya diplomatik terus dilakukan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Dalam beberapa pekan terakhir, kawasan Teluk Persia kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah muncul laporan mengenai serangan terhadap jalur pelayaran komersial serta aksi balasan militer di beberapa negara kawasan.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa stabilitas yang mulai terbentuk pasca gencatan senjata dapat kembali terganggu apabila tidak ada solusi diplomatik yang segera tercapai.
Sementara itu di tengah rangkaian prosesi pemakaman, perhatian publik juga tertuju kepada Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Hingga saat ini, Mojtaba Khamenei belum terlihat menghadiri acara pemakaman secara terbuka. Sejumlah laporan menyebutkan dirinya masih menjalani pemulihan setelah diduga mengalami cedera akibat serangan udara yang menewaskan ayahnya.
Ketidakhadirannya memunculkan berbagai spekulasi mengenai kondisi kesehatannya serta arah kepemimpinan Iran ke depan di tengah situasi regional yang masih penuh ketidakpastian.
Meski demikian, pemerintah Iran menegaskan bahwa proses transisi kepemimpinan tetap berjalan dan negara akan terus menjaga stabilitas politik serta keamanan nasional selama masa berkabung berlangsung.
(Tribunnews.com / Namira)