TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di sebuah rumah sederhana di Dusun Dayu, Kalurahan Gadingsari, Kapanewon Sanden, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, aroma gurih keripik pisang kerap menguar dari dapur.
Di rumah itulah, Ngalimah (53) merajut masa depan sembilan anaknya seorang diri sejak suaminya, Karyana, berpulang 15 tahun silam.
Dari teras rumah yang sekaligus menjadi tempat anak-anak kampung belajar mengaji, sebuah kabar baik datang membawa kelegaan luar biasa: putra keenamnya, Muhammad Nur Arifin (19), diterima di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 dengan beasiswa penuh 100 persen.
Kabar gembira itu kian terasa nyata ketika Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., melangkah masuk ke kediaman mereka pada Selasa (7/7/2026).
Kunjungan itu bukan sekadar silaturahmi formal birokrasi kampus, melainkan bentuk penegasan komitmen bahwa keterbatasan ekonomi tidak boleh memutus hak anak bangsa untuk mengenyam pendidikan tinggi di "Kampus Biru".
"Saya sangat bersyukur Arifin diterima di UGM. Semoga dia diberi kemudahan kuliah dan bisa mencapai cita-citanya," tutur Ngalimah.
Seingat Ngalimah, sejak ditinggal wafat oleh sang suami yang dahulu bekerja sebagai tukang kayu, ia praktis memikul beban domestik dan ekonomi keluarga sendirian. Untuk menyambung hidup dan membiayai sekolah anak-anaknya, ia mengandalkan pendapatan dari memproduksi keripik pisang berdasarkan pesanan.
Namun di sela-sela kepulan asap dapur, Ngalimah tidak pernah menutup mata dari lingkungan sosialnya. Ia mengabdikan diri mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) dan rutin mengadakan pengajian anak-anak setiap selesai salat Magrib di rumahnya.
Ketulusan itu mengundang empati masyarakat sekitar, yang kemudian bergotong royong memberikan bantuan rehabilitasi untuk memperlayak teras rumahnya.
Di tengah ruang hidup yang serbaterbatas itulah Arifin tumbuh. Remaja kelahiran Bantul, 17 Juli 2006 ini, membuktikan bahwa ketekunan dan kedisiplinan belajar adalah modal utama yang melampaui fasilitas mahal.
Sepanjang masa sekolahnya di SMAN 1 Bantul, Arifin tidak pernah sekalipun mengikuti les tambahan atau bimbingan belajar komersial di luar sekolah.
"Dia anak yang selalu fokus saat belajar di sekolah sehingga tidak perlu mengulang pelajaran secara berlebihan di rumah," kenang Ngalimah.
Cara belajar yang efektif itu membuat Arifin mampu menyerap ilmu dengan optimal. Menariknya, kecerdasan Arifin tidak melulu linier di jalur eksakta.
Ia juga memiliki kepekaan rasa yang tinggi di bidang seni, terbukti dengan raihan prestasi sebagai juara lomba musikalisasi puisi tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bakat literasi dan seni ini menjadi warna tersendiri bagi kepribadiannya yang kini mantap memilih jalur sains peternakan.
Pilihan Arifin untuk menambatkan masa depannya pada Program Studi Ilmu Peternakan UGM sebenarnya sempat menuai keraguan. Saat proses pengisian jalur SNBP bergulir, beberapa guru di sekolahnya sempat menyarankan agar ia memilih program studi lain yang dianggap memiliki prospek lebih konvensional atau prestise berbeda. Namun, keyakinan remaja ini sudah mengakar kuat.
Ketertarikannya pada dunia satwa bukan muncul secara instan, melainkan terpelihara sejak masa kanak-kanak.
"Sejak kecil saya suka memelihara hewan, terutama kambing. Dulu waktu SD, kambing saya pernah mati dan saya sedih sekali. Tapi, saya tetap suka dunia peternakan," ungkap Arifin.
Pengalaman emosional kehilangan hewan peliharaan di masa kecil tidak membuatnya surut, melainkan memicu rasa ingin tahu yang lebih besar mengenai tata cara pengelolaan ternak yang benar dan higienis. Arifin menaruh perhatian besar pada bidang nutrisi dan pangan ternak. Ia menyimpan cita-cita besar yang sangat spesifik yakni membangun dan mengembangkan usaha peternakan ayam broiler (pedaging) secara modern di masa depan.
Bagi Arifin, masa liburan menjelang mulainya perkuliahan pada Agustus mendatang bukanlah waktu untuk bersantai. Sejak awal Juni hingga akhir Juli nanti, ia memilih mengasah keterampilannya dengan membantu di THR Farm yang berlokasi di Karanganyar. Peternakan milik tetangganya tersebut kebetulan tengah menjadi lokasi praktik lapangan bagi mahasiswa peternakan UGM.
Setiap hari, Arifin melakoni rutinitas nyata seorang peternak, mengambil telur, memberikan formula pakan, hingga memantau fluktuasi suhu kandang. Di sana, ia tidak hanya bekerja, tetapi juga berdiskusi dengan para mahasiswa senior yang sedang magang.
"Pengalaman kerja ini membuat saya paham cara mengelola peternakan secara langsung. Saya jadi makin yakin dengan pilihan ini," katanya .
Langkah kaki Arifin kini dipastikan melenggang tanpa beban finansial. Melalui skema Beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen, UGM membebaskan seluruh biaya pendidikan Arifin hingga tuntas. Skema ini menjadi jaring pengaman yang krusial bagi keluarga prasejahtera agar anak-anak berbakat tetap mendapatkan hak pendidikan terbaik.
Saat mengunjungi kediaman Arifin, Dekan Fapet UGM Prof. Budi Guntoro menyampaikan pesan mendalam agar Arifin tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Kampus mengharapkan Arifin mampu bertumbuh secara seimbang, baik dalam ruang akademis maupun dinamika organisasi kemahasiswaan.
"Selamat, Mas. Nanti harus fokus kuliah dan aktif berorganisasi. Manfaatkan beasiswa kuliah gratis ini untuk masa depan yang lebih baik," pesan Budi Guntoro.
Budi menegaskan bahwa UGM berkomitmen penuh menjaga agar tidak ada mahasiswa yang gagal studi hanya karena persoalan biaya. Institusi siap hadir memberikan ketenangan bagi mahasiswa dalam menuntut ilmu melalui berbagai instrumen dukungan finansial dan pendampingan moral.