Mahasiswa dari Sembilan Negara Pelajari Budidaya Maggot di Kampung Pengampon Cirebon
taufik ismail July 09, 2026 07:32 PM

 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - Di tengah padatnya permukiman pesisir Kota Cirebon, sebuah kampung sederhana kini menjadi perhatian dunia.

Kampung Pengampon, RW 03, Kelurahan Lemahwungkuk, dipilih sebagai lokasi studi lapangan mahasiswa dari sembilan negara karena keberhasilan warganya mengubah sampah organik menjadi sumber ekonomi melalui budidaya maggot.

Kampung yang dihuni sekitar 703 jiwa itu menjadi salah satu lokasi kunjungan dalam rangkaian ITB Global Studio 2026 bertema Measuring Informality and Climate Adaptation in the Urban South pada Rabu (8/7/2026).

Program yang memasuki hari ketiga tersebut menghadirkan mahasiswa dari Indonesia bersama peserta dari Australia, Selandia Baru, Malaysia, Tiongkok, Mesir, Arab Saudi, Portugal dan Vietnam.

Di Sentra Kegiatan Masyarakat (SEGI) 3 Pengampon, para peserta tidak hanya mendengarkan paparan teori.

Mereka melihat langsung bagaimana sampah organik rumah tangga dipilah, diolah menjadi pakan larva Black Soldier Fly (BSF), hingga menghasilkan maggot sebagai pakan ternak dan kasgot yang dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Suasana kunjungan berlangsung interaktif. Mahasiswa tampak mengerumuni boks-boks budidaya maggot, mengamati proses pemeliharaan dari jarak dekat, berdiskusi dengan pengelola, hingga mengabadikan setiap tahapan menggunakan kamera.

Warga pun antusias menjelaskan pengalaman mereka mengelola sampah berbasis komunitas.

Lurah Lemahwungkuk, Fie Hasby Maulana mengatakan, dipilihnya Kampung Pengampon sebagai lokasi studi lapangan menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat.

"Kami merasa bangga karena RW 03 Pengampon dipercaya menjadi salah satu lokasi studi lapangan ITB Global Studio 2026. Ini menjadi bukti bahwa inovasi masyarakat dalam mengelola sampah organik melalui budidaya maggot memiliki nilai dan layak dipelajari oleh mahasiswa dari berbagai negara," ujar Hasby, saat berbincang dengan media, Kamis (9/7/2026).

Menurut Hasby, budidaya maggot yang dikembangkan warga tidak hanya mampu mengurangi volume sampah organik yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan akhir, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Maggot hasil budidaya dipasarkan sebagai pakan ikan maupun unggas, sedangkan kasgot dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang memiliki nilai jual.

"Harapan kami, kunjungan ini dapat memotivasi masyarakat untuk terus mengembangkan inovasi lingkungan. Selain itu, Kampung Pengampon dapat semakin dikenal sebagai kawasan percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan menjadi tujuan studi maupun penelitian dari berbagai pihak," ucapnya.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh penjelasan mengenai seluruh proses budidaya maggot, mulai dari pemanfaatan sampah organik sebagai pakan hingga pengolahan hasil budidaya yang memiliki nilai ekonomi.

Mereka juga berdialog langsung dengan warga untuk memahami bagaimana inisiatif lokal mampu menjadi solusi nyata dalam mengurangi sampah sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan.

Selain Kampung Pengampon, kawasan pesisir Cangkol juga menjadi lokasi penelitian dalam program internasional tersebut.

Camat Lemahwungkuk, Catur Wulan Anggraeni menyebut, dipilihnya wilayah tersebut merupakan sebuah kehormatan bagi Pemerintah Kecamatan Lemahwungkuk.

"Merupakan suatu kehormatan bagi kami karena wilayah Cangkol menjadi salah satu lokasi penelitian program studio global yang berkolaborasi secara internasional dan diselenggarakan oleh Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB," jelas Catur.

Ia menjelaskan, kawasan pesisir Cangkol memiliki potensi besar dari sisi ekosistem maupun kehidupan masyarakat.

Namun, wilayah tersebut juga menghadapi sejumlah tantangan lingkungan yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

"Program ini berfokus pada solusi inovatif dan desain inklusif untuk menjawab persoalan permukiman perkotaan serta adaptasi iklim yang sangat penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pelestarian lingkungan," katanya.

Menurut Catur, sinergi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan mitra internasional menjadi kunci dalam menghasilkan solusi yang dapat diterapkan di lapangan.

"Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan mitra internasional merupakan langkah penting untuk menghasilkan solusi inovatif. Kami berharap hasil penelitian ini tidak hanya bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi rekomendasi dalam penataan permukiman, pelestarian lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir," ujarnya.

Selain melakukan observasi mengenai pengelolaan permukiman dan adaptasi perubahan iklim, para peserta juga memberikan edukasi kepada masyarakat melalui pelatihan pembuatan sabun lerak, yaitu sabun pembersih alami serbaguna berbahan ekstrak buah lerak.

ITB Global Studio 2026 sendiri merupakan kolaborasi Institut Teknologi Bandung bersama sejumlah perguruan tinggi dunia, yakni The University of Sydney, The University of Auckland, Universiti Teknologi Malaysia, Hunan University, Renmin University of China, German University in Cairo, Umm Al-Qura University, University of Aveiro, University of Economics Ho Chi Minh City, serta Vietnam National University of Economics.

Seluruh hasil penelitian dan rekomendasi dari rangkaian kegiatan tersebut dijadwalkan dipresentasikan di Institut Teknologi Bandung pada 14 Juli 2026.

Bagi warga Pengampon, kunjungan mahasiswa dari berbagai belahan dunia bukan sekadar agenda akademik. 

Momen itu menjadi pengakuan bahwa inovasi sederhana yang lahir dari lingkungan permukiman mampu menjawab persoalan sampah sekaligus menarik perhatian dunia.

Kampung yang selama ini dikenal sebagai kawasan pesisir kini menjelma menjadi laboratorium hidup tentang pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.

Baca juga: Cerbon Menggawe Resmi Diluncurkan, 863 Lowongan Kerja Langsung Dibuka Untuk Warga Cirebon

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.