Belum Ada Paguyuban dan Sosialisasi, Rencana Integrasi Becak Listrik Wisata di Malang Masih Buram
Sudarma Adi July 09, 2026 07:33 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Benni Indo

TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Wacana besar Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk menyulap becak listrik sebagai salah satu ikon moda transportasi wisata modern tampaknya masih jauh panggang dari api.

Hingga pertengahan tahun ini, program tersebut dinilai baru sebatas seremonial pembagian unit, lantaran para pengemudi di lapangan sama sekali belum merasakan cipratan rezeki dari sektor pariwisata.

Pemandangan kontras itu terlihat di sekitar kawasan Bundaran Tugu dan koridor Kayutangan Heritage.

Para pengemudi becak kayuh berbasis daya baterai ini masih menarik penumpang secara konvensional dan belum pernah mendapatkan pesanan khusus untuk mengantar pelancong, apalagi wisatawan mancanegara.

Slamet, salah seorang pengemudi becak listrik yang telah menginjak usia kepala enam, menceritakan keluh kesahnya saat menyusuri aspal di pusat kota untuk mencari sesuap nasi.

"Sejak Januari 2026 lalu saya mulai beralih menggunakan becak listrik ini lewat program bantuan pemerintah. Kalau dari segi fisik, di usia tua seperti saya tentu sangat terbantu dengan adanya penggerak listrik ini. Becak konvensional yang lama juga sudah tidak bisa dipakai lagi," buka Slamet saat ditemui, Kamis (9/7/2026).

Baca juga: Meski Sudah Ditutup, Warga Keluhkan Aktivitas Pembuangan Sampah di Eks TPA Lowokdoro Kota Malang

Namun, kegembiraan Slamet di awal tahun tersebut perlahan luntur oleh realita ekonomi. Sudah berjalan berbulan-bulan, fungsi becak canggih tersebut tidak ada bedanya dengan armada lama karena minimnya strategi promosi dari instansi terkait.

"Sampai detik ini saya belum pernah membawa penumpang untuk tujuan wisata, jangankan turis asing, wisatawan lokal saja tidak ada. Saya juga belum pernah dihubungi oleh pihak hotel, pemandu wisata, atau organisasi pariwisata untuk pesanan rute wisata," akunya dengan nada kecewa.

Andalkan Penumpang Sekolah dan Pasar, Sehari Cuma Kantongi Rp20 Ribu

Tanpa adanya sistem integrasi pariwisata yang jelas, operasional keseharian Slamet masih bergantung pada dinamika kehidupan masyarakat kecil. Rute tarikannya hanya berkutat di seputar lingkungan pasar tradisional, pertokoan lokal, atau sesekali mengantar anak-anak sekolah.

Pendapatan yang dibawa pulang pun tergolong sangat miris untuk ukuran kota besar. Dalam sehari, Slamet rata-rata hanya mampu melayani sekitar lima orang penumpang dengan omzet harian berada di kisaran Rp20.000.

"Harapannya dengan adanya teknologi becak listrik ini, kami bisa lebih produktif dan pendapatan meningkat. Untungnya saat ini momentum liburan sekolah, jadi kondisi di jalanan agak sedikit ramai dari biasanya, kadang bisa melayani lebih dari lima orang," imbuhnya.

Minim Sosialisasi dan Ketiadaan Wadah Paguyuban Jadi Batu Ganjalan

Mandeknya program becak listrik wisata di Kota Malang ini disinyalir kuat akibat buruknya manajemen komunikasi pasca-proyek bergulir.

Slamet membeberkan bahwa pihak kedinasan maupun Pemkot Malang terkesan melepas begitu saja para pengemudi setelah unit diberikan.

"Sampai sekarang kami belum pernah diundang duduk bersama, diajak bicara, atau diberi sosialisasi oleh dinas terkait mengenai skema pengembangan wisata becak listrik itu jalannya seperti apa," urai Slamet.

Kondisi ini diperparah dengan belum adanya langkah konsolidasi di tingkat internal pelaku usaha informal tersebut. Tidak adanya koordinasi satu pintu membuat para pengemudi berjalan sendiri-sendiri tanpa standar tarif kepariwisataan yang baku.

"Kami di jalanan belum memiliki paguyuban resmi ataupun wadah koperasi yang bisa mengoordinasikan operasional becak listrik ini. Jadi, ya kami masih jalan sekadar bertahan hidup seperti biasa saja. Kami sangat berharap pemerintah turun tangan mempromosikan ini agar programnya tidak mubazir," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.