Saksi Lihat 2 Petugas Berdebat Sebelum Penggeledahan Kafe de'Clan, "Gak Tau Ada Apa"
Noval Andriansyah July 09, 2026 07:40 PM

Tribunlampung.co.id, Jakarta - Proses penggeledahan kafe de'Clan Signature di Jalan Cipete Raya, Cilandak, Jakarta Selatan, yang berujung pada penyitaan brankas rahasia berisi Rp60 miliar, ternyata diwarnai ketegangan internal.

Baca juga: Momen Polisi Bongkar Paksa Brankas Saat Geledah Kafe deClan, Panggil Tukang Kunci

Seorang saksi mata mengungkapkan adanya insiden perdebatan sengit antara petugas Kejaksaan dan personel Reserse Polri, sesaat sebelum operasi penggeledahan resmi dimulai.

Fakta tersebut dibeberkan oleh F, saksi luar yang ditunjuk penyidik untuk mendampingi jalannya penggeledahan maraton pada Rabu (8/7/2026).

F menceritakan, situasi di lokasi kafe sudah tampak memanas sejak dirinya menginjakkan kaki di restoran tersebut sekitar pukul 11.30 WIB.

"Ada orang Kejaksaan datang ke situ, belum ada wartawan sama Brimob. Cuma ada Reserse. Saya lihat sempat debat di situ, sebelum digeledah. Tapi saya enggak tahu ada apa."

"Terus saya merokok keluar, terus ada Brimob. Pas masuk lagi, orang Kejaksaan sudah enggak ada," ungkap F saat ditemui di dekat lokasi kejadian, Kamis (9/7/2026).

Setelah ketegangan mereda, puluhan penyidik kepolisian langsung merangsek masuk dan memusatkan penggeledahan di lantai dua kafe, tepatnya pada ruangan tertutup berlabel "Area Khusus Staf". 

Di dalam kantor manajemen yang dirancang menyerupai huruf 'L' itulah polisi menemukan berkas kepemilikan kafe serta membongkar brankas berlapis rahasia di balik lemari pajangan.

"Di dalam ruangan kantor bosnya itu, saya sempat melihat dokumen dokumen yang memuat nama pemilik kafe. Ada tiga nama pemilik di berkas itu, yang saya ingat jelas ada nama Febri sama Rifaldi," pungkas F menutup kesaksiannya.

Brankas Berlapis di Balik Lemari

Saat penggeledahan, F menyebut penyidik mencoba mencari ruangan rahasia, yang kemudian ditemukan di balik lemari.

"Di ruangan pintu kedua pokoknya. Di belakang buffet (lemari). Jadi buffet-nya dibuka, ada pintu lagi. Nah, itu dibongkar. Kondisi brankas diumpetin," kata dia.

Sistem pengamanannya pun disebut dirancang dengan sangat ketat dengan adanya sebuah brankas kecil di dalam brankas lainnya.

Kepolisian bahkan sampai harus mendatangkan ahli kunci untuk membongkar paksa kedua brankas tersebut.

"Dibongkar, bukan dibuka pakai kunci. Jadi polisi sudah bawa tukang buat bongkar brankas," lanjutnya.

Saat dibongkar, terungkap bahwa brankas tersebut memiliki sistem keamanan berlapis.

Di dalam kotak besi utama yang berukuran besar, masih terdapat brankas kecil lainnya yang dijadikan tempat penyimpanan uang.

"Di dalam brankas ada brankas lagi. Dua brankas kecil. Jadi brankas gede, di dalamnya brankas kecil. Ada dua, keamanannya ganda," ungkapnya.

Setelahnya, isi dari brankas rahasia itu kemudian langsung dihitung dan dibawa oleh penyidik menggunakan sebuah koper.

"Brankas sama duit dibawa. Duit ada di koper, ada pecahan dolar sama rupiah. Jumlahnya enggak tahu saya. Ada barang-barang lagi juga yang lain, kayaknya emas. Alat kafe ditinggal, cuma yang di lantai dua doang yang dibawa," jelas F.

Penggeledahan dan pembongkaran itu pun dilanjutkan hingga memakan waktu sekitar 12 jam dan baru berakhir sekitar pukul 23.00 WIB.

Sempat Ikut ke Polda Metro Jaya

Setelah penggeledahan selesai, F sempat dibawa untuk ikut ke Mapolda Metro Jaya sebagai saksi pemeriksaan administrasi barang bukti.

"Enggak di-BAP, cuma buat saksi. Kan awalnya disuruh ikut ke Polda nanti menyaksikan ini di Polda, pembukaan. Sampai sana saya nunggu di lobi. Duduk di situ. Sampai jam 7 pagi (baru) dipanggil untuk tanda tangan," kata F menutup ceritanya.

Ia mengaku suasana di Polda Metro Jaya pada dini hari itu cukup tegang karena banyak personel bersenjata yang berjaga.

Menurut F, sekitar pukul 04.00 WIB, area lobi dipenuhi aparat yang bersiaga sambil membawa senjata api.

"Jam 4 subuh di polda dari dalam lobi banyak juga bawa tembakan (senjata). Di dalam lobi sudah siap. Ramai lagi jam subuh ada," tutur F.

Sebagai warga, F berharap aparat penegak hukum dapat mengusut kasus tersebut secara tuntas dan memberikan sanksi tegas apabila terbukti berkaitan dengan tindak pidana korupsi.

Penggeledahan tersebut terkait kasus dugaan korupsi batu bara PLN, Asabri, dan Krakatau Steel.

Kepala Kortas Tipidkor Polri, Irjen Totok Suharyanto merinci 3.130.000 dollar Singapura, 889.965 dollar Amerika Serikat, dan Rp 259.159.000 ditemukan dalam brankas di restoran.

“Kemudian kita konversi dalam bentuk rupiah kira-kira hampir Rp 60 miliar di restoran de Clan,” kata Totok saat ditemui usai penggeledahan di lokasi, Rabu malam.

Sedangkan di money changer, polisi turut menyita 16 mata uang asing senilai Rp 7,2 miliar, dengan 71 barang bukti lainnya. Uang-uang tersebut disimpan dalam koper sudah dibawa ke Polda Metro Jaya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.