Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Dugaan intimidasi berujung kematian yang dialami dr. Icha Pakaenoni, seorang tenaga kesehatan (nakes) di RS Leona Kefamenanu, Timor Tengah Utara (TTU) 13 Juni 2026 masih menyimpan duka.
Pada Kamis, (9/7/2026) sore, ratusan nakes dari berbagai organisasi profesi melakukan aksi damai di depan kantor DPRD NTT.
Mereka membawa spanduk bertuliskan kecaman terhadap orang yang melakukan intimidasi.
Nakes yang tergabung dalam Koalisi Tenaga Kesehatan Provinsi NTT itu turut membawa foto almarhumah dr. Icha Pakaenoni. Mereka mengenakan pita hitam di lengan kanan.
Baca juga: BREAKING NEWS: Dokter RSU Leona Meninggal Dunia, Diduga Sebelumnya Jadi Korban Intimidasi DPRD TTU
Lima anggota DPRD NTT dari Komisi IV dan V kemudian menemui peserta aksi. Dalam orasinya, Salah satu perwakilan IDI NTT dr. Thamara Umbu Zasa, CPS menyebut, kehadiran para nakes di DPRD NTT bukan untuk membuat gaduh.
Nakes di NTT, khususnya di Kota Kupang ingin menyuarakan hari nurani pasca meninggalnya seorang rekan sejawat dr. Icha Pakaenoni. Padahal, menurut Thamara, dr. Icha sedang menangani pasien.
"Kepergian itu suka mendalam bagi keluarga dan sejawat tenaga kesehatan. Setiap intimidasi dan perilaku merendahkan martabat seseorang tidak boleh mendapat tempat di Negara ini. Seorang tidak boleh kebal hukum," katanya.
Dokter Thamara Umbu Zasa mengatakan, semua nakes ingin bekerja tanpa tekanan dan layak akan kesejahteraan. Tuntutan ini bukan sekadar hal biasa.
Keadilan bagi dr. Icha mesti ditegakkan dan dibuka secara transparan dan secara obyektif serta tidak ada intervensi.
"Negara harus benar-benar hadir bagi kami nakes dan memberikan perlindungan bagi tenaga kesehatan yang setiap hari melayani masyarakat. Jika nakes libur sehari, siapa yang akan menolong pasien. Silahkan direnungkan, diresapi dalam hati," katanya.
"Jangan biarkan luka kami tanpa perubahan sedikitpun. Jadikan ini sebagai momentum perubahan dan memperkuat perlindungan bagi tenaga kesehatan," katanya.
Dokter Thamara Zasa menyatakan, semua nakes akan mengawal proses ini. Apalagi, menurut dia, banyak masyarakat yang pernah ditolong dr. Icha pun menyampaikan kesan baik selama mendiang masih bertugas.
"Kami hidup untuk mengabdi dan menolak segala bentuk intimidasi," kata dr. Thamara Zasa.
Perwakilan dari PPNI NTT yang ikut dalam orasi itu mengatakan, kehadiran nakes dalam aksi damai itu menyatakan, kehadiran mereka di tempat itu masih dalam suasana berkabung.
Ia bercerita, ia sendiri pernah mengalami tindakan intimidasi. Meski tetap melanjutkan layanan kesehatan saat kejadian, ia merasa tindakan itu memang sangat memilukan.
"Lu sonde kenal beta. Kita sakit dian-diam, ini momen tepat, stop intimidasi," kata dia mengulang ucapan yang ia pernah terima. Ucapan yang diulang itu, langsung disambut riuh masaa aksi.
Dia mengatakan, aturan yang ada justru memberi ruang bagi nakes untuk menghentikan layanan ketika merasa ada tekanan. Baginya itu merupakan hal keliru dan berdosa.
Untuk itu, perlu ada aturan yang justru membuat orang yang melakukan intimidasi menjadi jerah. Kehadiran mereka di tempat ini, mengaku sangat terpukul dengan kejadian dr. Icha Pakaenoni.
"Kami minta agar kasus ini diusut tuntas. Aturan tetap yang melindungi nakes yang sedang bertugas," katanya.
Aksi damai itu dijaga aparat Kepolisian dari Polresta Kupang Kota dan Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi NTT. (fan)