TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027, pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial yang berfokus pada pengenalan lingkungan sekolah.
Momentum tersebut dinilai dapat dimanfaatkan sebagai langkah awal membentuk karakter peserta didik agar tumbuh menjadi generasi yang disiplin, sehat, cerdas, dan berakhlak sejak hari pertama mereka memasuki dunia pendidikan.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Komisi IV sekaligus Ketua Fraksi PKS DPRD Kabupaten Kubu Raya, M. Amri, yang menilai bahwa MPLS memiliki peran strategis dalam menanamkan kebiasaan positif kepada para siswa baru.
Menurutnya, penguatan karakter peserta didik dapat dilakukan melalui penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, sebuah konsep yang mendorong pembentukan karakter melalui pembiasaan aktivitas positif dalam kehidupan sehari-hari.
"MPLS merupakan momentum emas. Jangan hanya diisi dengan yel-yel atau sekadar berkeliling mengenal lingkungan sekolah. Ini adalah saat yang tepat untuk menanamkan pondasi karakter sejak hari pertama anak masuk sekolah," ujar Amri kepada TribunPontianak.co.id, Kamis, 9 Juli 2026.
• Makna Sumpit Dayak Terungkap, Dari Senjata Berburu hingga Olahraga Tradisional di Sanggau
Amri menjelaskan bahwa tujuh kebiasaan tersebut meliputi tidur lebih awal, bangun pagi, beribadah sesuai keyakinan masing-masing, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, gemar belajar, serta aktif bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
Ia meyakini, apabila kebiasaan-kebiasaan tersebut diterapkan secara konsisten sejak dini, maka akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan fisik, mental, maupun kemampuan sosial peserta didik.
"Kalau anak terbiasa tidur lebih awal dan bangun pagi, mereka akan belajar disiplin. Rajin beribadah dan berolahraga akan membentuk fisik dan mental yang kuat. Sementara kebiasaan belajar dan bersosialisasi akan melahirkan generasi yang berilmu sekaligus memiliki empati. Ini merupakan investasi sumber daya manusia Kubu Raya untuk 10 hingga 20 tahun ke depan," jelasnya.
Agar penerapan program tersebut tidak hanya menjadi wacana, Amri mengusulkan tiga langkah yang dapat diterapkan oleh setiap satuan pendidikan selama pelaksanaan MPLS.
Pertama, sekolah diminta mengintegrasikan tujuh kebiasaan tersebut ke dalam seluruh rangkaian kegiatan MPLS melalui praktik secara langsung.
Menurutnya, peserta didik perlu memperoleh pengalaman nyata, bukan sekadar menerima materi dalam bentuk teori atau ceramah.
"Kegiatan selama satu pekan MPLS harus memberikan pengalaman nyata kepada siswa agar kebiasaan baik itu mulai terbentuk sejak awal," katanya.
Kedua, Amri menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendukung pembentukan karakter anak. Ia menilai keberhasilan pembiasaan positif tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga memerlukan kesinambungan di lingkungan keluarga.
"Pembentukan karakter tidak cukup dilakukan di sekolah. Orang tua harus ikut mendukung di rumah sehingga sekolah dan keluarga berjalan dalam satu irama," ujarnya.
• Doa Buka Puasa Sunnah Muharram 1448 Hijriyah, Kesempurnaan Jalankan Ibadah Puasa di Bulan Mulia
Selain itu, ia juga menilai komunikasi yang baik antara sekolah dan orang tua perlu terus dibangun agar perkembangan peserta didik dapat dipantau secara bersama-sama.
Ketiga, Amri mendorong sekolah melakukan evaluasi dan pendampingan secara berkelanjutan setelah MPLS berakhir.
Menurutnya, seluruh kebiasaan positif yang diperkenalkan selama masa orientasi harus terus diterapkan dalam aktivitas belajar sehari-hari sehingga menjadi budaya sekolah yang melekat pada diri peserta didik.
"Jangan sampai setelah MPLS selesai, kebiasaan baiknya juga ikut selesai. Harus ada pendampingan dan evaluasi sehingga menjadi budaya yang terus hidup di lingkungan sekolah," pungkasnya.
Amri berharap seluruh satuan pendidikan di Kabupaten Kubu Raya dapat menjadikan MPLS tahun ajaran 2026/2027 sebagai titik awal membangun karakter generasi muda.
Dengan membiasakan pola hidup sehat, disiplin, gemar belajar, aktif bersosialisasi, serta melibatkan keluarga dalam proses pendidikan, ia optimistis akan lahir sumber daya manusia yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan masa depan. (*)