SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Ancaman diabetes kini tidak lagi hanya mengintai orang dewasa. Meningkatnya konsumsi minuman dan makanan tinggi gula pada anak dan remaja menjadi perhatian serius karena dapat meningkatkan risiko diabetes, obesitas, dan berbagai penyakit tidak menular di kemudian hari. Menjawab tantangan tersebut, Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) bersama Tim Penggerak PKK Gampong Geuceu Iniem dan Akademi Analis Farmasi dan Makanan (AKAFARMA) Banda Aceh menyelenggarakan edukasi bertajuk Mengenal Informasi Nilai Gizi untuk Pencegahan Diabetes serta Pemanfaatan Tanaman Herbal sebagai Pangan Fungsional bagi Kesehatan Keluarga di Gampong Geuceu Iniem, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh, Rabu (8/7/2026). Kegiatan yang diikuti 25 ibu ini bertujuan membekali keluarga dengan kemampuan membaca informasi nilai gizi agar lebih bijak mengendalikan konsumsi gula anak dan remaja.
Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah penyandang diabetes terbanyak di dunia menurut International Diabetes Federation (IDF). Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko diabetes adalah tingginya konsumsi gula sejak usia dini. Padahal, konsumsi gula harian memiliki batas yang perlu diperhatikan, yaitu maksimal 30 gram atau sekitar tujuh sendok teh untuk orang dewasa, 24 gram atau enam sendok teh bagi anak usia 7–10 tahun, serta 19 gram atau sekitar empat sendok teh untuk anak usia 2–6 tahun. Oleh karena itu, keluarga memiliki peran penting dalam mengendalikan pola konsumsi gula anak melalui pemilihan makanan dan minuman yang lebih sehat.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Banda Raya, Yonanda, S.T., yang menyampaikan bahwa ibu merupakan garda terdepan dalam membangun kebiasaan makan sehat di rumah. Menurutnya, edukasi mengenai informasi nilai gizi menjadi bekal penting agar keluarga mampu mengambil keputusan yang lebih bijak dalam memilih pangan sehari-hari.
Suasana pelatihan diawali dengan permainan edukatif mengenai diabetes yang dipandu oleh apt. Nurfaizah, S.Farm. Melalui pendekatan belajar sambil bermain, peserta diajak mengenali faktor risiko, gejala, serta langkah-langkah pencegahan diabetes sehingga suasana belajar menjadi lebih interaktif dan mudah dipahami.
Pada sesi pertama, dr. Imam Maulana, Edukator GEN-A sekaligus Duta Pemuda Indonesia Aceh 2025, mengajak peserta mempraktikkan cara membaca Informasi Nilai Gizi (ING) pada berbagai produk minuman kemasan. Menurutnya, banyak masyarakat hanya melihat jumlah gula per sajian tanpa memperhatikan jumlah sajian dalam satu kemasan, sehingga tanpa disadari mengonsumsi gula jauh lebih banyak dari yang diperkirakan.
Sebagai contoh, peserta diajak menganalisis salah satu minuman kemasan berukuran 240 ml yang mencantumkan 22 gram gula per sajian, namun satu botol sebenarnya berisi 1,5 sajian. Artinya, apabila satu botol dihabiskan oleh satu orang, total gula yang dikonsumsi mencapai 33 gram, melebihi batas konsumsi gula harian untuk anak maupun remaja. Kondisi seperti ini sering terjadi karena sebagian besar remaja menghabiskan satu botol minuman sekaligus tanpa menyadari bahwa kandungan gula yang dikonsumsi lebih tinggi daripada yang tercantum pada bagian depan kemasan.
"Membaca informasi nilai gizi bukan sekadar melihat angka gula per sajian. Kita juga harus memperhatikan jumlah sajian dalam satu kemasan. Banyak minuman yang tampak aman, padahal ketika satu botol dihabiskan oleh satu orang, kandungan gulanya sudah melampaui batas konsumsi harian anak dan remaja. Di sinilah peran ibu sangat penting dalam mendampingi anak memilih makanan dan minuman yang lebih sehat," ujar Imam.
Pada sesi berikutnya, apt. Nurmalia Zakaria, M.Farm., memperkenalkan pemanfaatan tanaman herbal Nusantara sebagai bagian dari pangan fungsional untuk mendukung kesehatan keluarga. Ia menjelaskan bahwa berbagai tanaman lokal dapat dimanfaatkan menjadi produk pangan bergizi apabila diolah secara tepat dan tetap dipadukan dengan pola makan seimbang.
Kemudian, peserta dilatih dan mempraktekkan langsung cara pengolahan pangan fungsional, seperti cookies daun kelor, mi ubi ungu, dan gummy jelly, yang menunjukkan bahwa pangan lokal memiliki potensi menjadi alternatif camilan yang lebih sehat bagi keluarga. Peserta didampingi ditempat untuk mengolah bahan mentah hingga menjadi produk siap makan.
"Tanaman herbal Nusantara merupakan kekayaan hayati yang dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pola makan sehat. Namun, manfaatnya akan lebih optimal apabila diimbangi dengan kebiasaan membaca informasi nilai gizi, mengurangi konsumsi gula berlebih, dan menerapkan pola hidup sehat secara menyeluruh," jelas Nurmalia.
Baca juga: Edukasi Bahaya Rokok Lewat EKSIS, GEN-A Perkuat PKPR Remaja di Posyandu Deah Raya
Ketua Tim Penggerak PKK Gampong Geuceu Iniem, Ir. Herlina, mengapresiasi kolaborasi antara PKK, GEN-A, dan AKAFARMA dalam menghadirkan edukasi yang mudah dipahami dan langsung dapat diterapkan oleh para ibu dalam kehidupan sehari-hari.
Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme tinggi melalui praktik membaca label pangan, permainan edukatif, diskusi, dan sesi tanya jawab. Pendekatan tersebut membantu peserta memahami bahwa pencegahan diabetes tidak hanya dimulai ketika seseorang sakit, tetapi sejak keluarga memilih makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari.
Sebagai langkah sederhana, masyarakat dianjurkan membiasakan membaca Informasi Nilai Gizi secara menyeluruh, memperhatikan jumlah sajian dalam setiap kemasan, membatasi konsumsi minuman berpemanis, serta memilih dan memasak camilan berbahan pangan lokal yang lebih sehat. Langkah-langkah sederhana tersebut dapat membantu menurunkan risiko diabetes sejak usia dini.
Direktur Eksekutif GEN-A, dr. Imam Maulana, menegaskan bahwa edukasi mengenai informasi nilai gizi merupakan investasi kesehatan jangka panjang bagi keluarga. "Mencegah diabetes tidak dimulai di rumah sakit, tetapi dimulai di meja makan keluarga. Ketika para ibu mampu membaca label pangan dengan benar dan lebih bijak memilih makanan untuk anak-anaknya, mereka sedang membangun generasi yang lebih sehat di masa depan," katanya.
Kegiatan pengabdian masyarakat yang merupakan kolaborasi PKK Gampong Geuceu Iniem, GEN-A, dan AKAFARMA Banda Aceh ini diharapkan dapat meningkatkan literasi gizi keluarga, mendorong pemanfaatan tanaman herbal Nusantara sebagai pangan fungsional, serta membangun kebiasaan memilih pangan yang lebih sehat guna mencegah diabetes pada anak dan remaja sejak dini.(rel/*)