Ancaman Bencana Meningkat, Menko PMK Pratikno Minta Operasi SAR Tinggalkan Cara Lama
Wahyu Aji July 09, 2026 11:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Meningkatnya ancaman bencana akibat perubahan iklim, ditambah posisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di kawasan Ring of Fire, membuat kemampuan pencarian dan pertolongan (Search and Rescue/SAR) menjadi semakin vital. 

Kondisi tersebut menuntut transformasi operasi SAR melalui pemanfaatan teknologi, penguatan sumber daya manusia (SDM), serta kolaborasi yang lebih luas.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengatakan Indonesia harus bersiap menghadapi tingkat ketidakpastian yang semakin tinggi, baik akibat perubahan iklim maupun tingginya risiko bencana alam.

"Karena kita harus selalu siaga menghadapi ketidakpastian yang semakin tinggi. Ada perubahan iklim yang semakin meningkat, Indonesia juga merupakan negara kepulauan dan berada di Ring of Fire. Bencana hidrometeorologi juga terus menghantui kita," kata Pratikno saat membuka Indonesia International Search and Rescue (IISAR) 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, Banten, Kamis (9/7/2026).

Ajang yang diikuti peserta dari 28 negara itu menjadi forum kolaborasi internasional untuk berbagi pengalaman, memperkuat kapasitas personel, serta memperkenalkan teknologi terbaru di bidang pencarian dan pertolongan.

Pratikno menilai operasi SAR kini memiliki peran yang semakin strategis karena setiap menit sangat menentukan peluang korban untuk diselamatkan.

Karena itu, kemampuan SAR tidak lagi cukup mengandalkan metode konvensional, melainkan harus didukung teknologi modern yang diimbangi peningkatan kualitas SDM dan nilai-nilai kemanusiaan.

"Teknologi menjadi penting karena kita tidak bisa menggunakan cara-cara yang lama. Kita harus menggunakan teknologi yang baru. Tetapi lebih dari itu, kemampuan SDM dan empati untuk menyelamatkan nyawa juga sangat penting," ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa keberhasilan operasi penyelamatan bergantung pada sinergi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga para relawan.

"Dalam penyelamatan, hitungan menit sangat berharga untuk menyelamatkan nyawa. Karena itu semua pihak harus mampu bergerak cepat," tegasnya.

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mohammad Syafii mengatakan IISAR 2026 merupakan penyelenggaraan perdana yang digagas sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi pameran teknologi, tetapi juga forum komunikasi, edukasi, koordinasi, dan kolaborasi bagi komunitas SAR nasional maupun internasional.

"IISAR menjadi sarana komunikasi, edukasi, koordinasi, dan kolaborasi seluruh kementerian, lembaga, organisasi internasional, hingga potensi SAR nasional yang selama ini terlibat dalam operasi kemanusiaan," ujar Syafii.

Sebanyak 28 negara berpartisipasi dalam IISAR 2026 dengan berbagai bentuk keterlibatan, mulai dari forum diskusi, pameran teknologi, hingga kompetisi kemampuan penyelamatan.

Forum tersebut juga menjadi ajang pertukaran pengetahuan mengenai standar operasi internasional yang diterapkan organisasi seperti International Civil Aviation Organization (ICAO), International Maritime Organization (IMO), dan International Search and Rescue Advisory Group (INSARAG).

Selain seminar dan diskusi, IISAR 2026 menghadirkan hampir 57 stan yang menampilkan berbagai inovasi teknologi pencarian dan pertolongan, mulai dari sistem komunikasi darurat hingga peralatan penyelamatan udara, laut, darat, dan bawah air.

Sejumlah perusahaan, termasuk PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Bell Helicopter, turut memperkenalkan teknologi terbaru yang dapat mendukung operasi penyelamatan.

Founder IISAR 2026 Candra Tri Saktiyanto mengatakan penyelenggaraan forum tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa industri SAR memiliki peran penting dalam berbagai situasi kedaruratan, tidak hanya saat terjadi bencana besar.

"Search and Rescue sangat penting dalam konteks kegawatdaruratan di mana pun kita berada. Walaupun ini merupakan niche market, industri SAR memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan karena berkaitan langsung dengan keselamatan di rumah, gedung, maupun berbagai aktivitas masyarakat," ujarnya.

Ia berharap IISAR 2026 dapat memperluas kolaborasi internasional, mempercepat transfer teknologi, meningkatkan kapasitas SDM, sekaligus memperkuat sinergi global dalam menghadapi berbagai situasi darurat.

"Batas wilayah hanya memisahkan negara, tetapi nilai kemanusiaan selalu menyatukan tujuan kita. Semoga IISAR menjadi tonggak penting dalam memperkuat kolaborasi global di bidang search and rescue," kata Candra.

Baca juga: Awal Desember, WNI di Jepang Dijadwalkan Ikut Pelatihan Bencana Alam di Tokyo

Area pameran IISAR 2026 dibuka untuk masyarakat umum setiap hari pukul 11.00 hingga 19.00 WIB. Basarnas mencatat sekitar 1.500 pengunjung telah melakukan registrasi secara daring pada hari pertama penyelenggaraan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.