TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Rencana penerapan zona khusus pejalan kaki (full pedestrian) dan kawasan bebas kendaraan berbahan bakar minyak di Jalan Malioboro mulai November 2026 memicu kekhawatiran di tingkat akar rumput.
Para pedagang di sentra relokasi Teras Malioboro 1 khawatir, memutar arah kebijakan tanpa kesiapan kantong parkir yang memadai justru akan mengeringkan roda perputaran ekonomi di kawasan ikonik tersebut.
Kekhawatiran ini mengemuka seiring keluhan yang terus berdatangan dari para wisatawan.
Jauhnya letak lahan parkir kendaraan besar dan keharusan menggunakan transportasi lanjutan dinilai sangat membebani pengunjung, baik secara fisik maupun finansial.
Fauzi, seorang pedagang kuliner menilai wacana penerapan kawasan pedestrian secara penuh akan langsung berimbas terhadap tingkat kunjungan.
Menurutnya, pemandangan kawasan Malioboro yang sepi sangat mungkin terjadi apabila akses wisatawan dipersulit.
"Wisatawan pasti jadi malas masuk ke Malioboro karena tempat parkirnya jauh. Walaupun nanti disediakan shuttle, itu kan tidak gratis. Bayangkan wisatawan rombongan bus yang parkir di luar Malioboro harus bayar shuttle lagi, otomatis keluar biaya tambahan," kata Fauzi, Kamis (9/7/2026).
Fauzi juga menyoroti ketidakefisienan konsep itu bagi wisatawan yang berbelanja dalam jumlah banyak.
Berjalan kaki jauh sembari menenteng barang bawaan dari sentra oleh-oleh menuju area parkir atau titik tunggu shuttle membuat pengunjung kelelahan.
Jika hal ini terus dibiarkan, ia memprediksi imbasnya tidak hanya dirasakan oleh pedagang di Teras Malioboro.
"Kalau aturan pejalan kaki itu benar-benar terjadi, kawasan Malioboro pasti sangat lesu. Bukan hanya di Teras Malioboro yang sepi, toko-toko di sepanjang jalan hingga pasar-pasar tradisional di sekitarnya juga bisa kena imbasnya," tegasnya.
Fauzi menceritakan bahwa saat ini banyak rombongan bus wisata—seperti dari Kediri dan Tegal—yang dialihkan untuk parkir di kawasan Ngabean.
Hal ini berbeda dengan kondisi masa lalu di mana bus masih bisa menurunkan penumpang di titik yang dekat, seperti di sekitar Bank Indonesia (BI) atau Taman Parkir Abu Bakar Ali.
"Banyak pimpinan tur wisata yang nongkrong di angkringan saya mengeluh. Dulu kalau parkir di BI tinggal menyeberang, atau di Abu Bakar Ali bisa langsung masuk ke kawasan belanja. Sekarang keluhan wisatawan yang harus jalan jauh itu sudah banyak," tambahnya.
Baca juga: 127 Siswa SD hingga SMA di DIY Terima Beasiswa Mentari Lazismu UMY, Total Rp79,3 Juta
Jauh
Mira, pedagang suvenir, mengungkapkan, sudah banyak pengunjung yang mengeluh karena tempat parkir dan lokasi belanja oleh-oleh jauh.
Wisatawan terkadang juga enggan naik kendaraan shuttle.
Rasa lelah wisatawan berjalan kaki secara langsung memangkas omzet hariannya.
Wisatawan yang sudah harus menempuh jarak jauh dari lokasi parkir, umumnya akan menghabiskan uang dan energinya di deretan lapak bagian depan.
"Posisi saya di belakang. Pengunjung yang masuk dari depan sudah berbelanja dan membawa banyak tentengan. Begitu sampai di belakang, mereka sudah kelelahan dan tidak belanja lagi. Pendapatan kami sangat berkurang. Harapan kami sarana parkirnya dipikirkan supaya omzet pedagang bisa naik," ungkapnya.
Merespons keresahan itu, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengaku memahami ketakutan para pedagang terkait potensi penurunan omzet jika nantinya akses kendaraan pribadi bermotor di Malioboro semakin diperketat.
Pemkot Yogyakarta berkomitmen membedakan perlakuan serta regulasi di setiap sirip jalan berdasarkan karakteristik wilayahnya.
Ia mencontohkan, bisa saja ada skenario sirip jalan hanya ditutup di sisi timur, sementara sisi barat tetap dibuka untuk akses masuk dan mendukung mobilitas.
Termasuk, isu krusial mengenai ketersediaan lahan parkir dan ruang putar balik kendaraan yang menjadi keluhan utama bagi warga dan pedagang saat ini.
"Iya tentu, (rekayasa) putar balik dan area parkir. Itu maksud saya yang harus kita detailkan. Sekarang belum ada (pemetaan final). Kami akan rapat secara intens dengan Bu Sekda (DIY) dan jajaran di provinsi untuk secara bertahap menyelesaikan ruas demi ruas," kata Hasto. (han/aka)