TRIBUNMATARAMAN.COM, NGANJUK - Duka menyelimuti perlintasan kereta api langsung (JPL) 103 di Jalan Raya Surabaya-Madiun, Desa Banaran Kulon, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, setelah sebuah truk ekspedisi JNT dihantam Kereta Api Logawa pada Kamis (9/7/2026) siang.
Benturan yang terjadi dalam hitungan detik itu tidak hanya merenggut nyawa seorang sopir truk berusia 21 tahun, tetapi juga menyeret seorang pengendara motor yang berada di sekitar lokasi hingga mengalami luka berat.
Seiring berjalannya penyelidikan, satu per satu fakta baru mulai terungkap.
Polisi menemukan adanya dugaan palang pintu perlintasan terlambat ditutup, sementara rekaman CCTV yang beredar memperlihatkan momen krusial ketika palang baru bergerak turun sesaat sebelum kereta menghantam truk.
Di sisi lain, kesaksian penumpang KA Logawa yang semula mengira kereta hanya melindas batu di rel ikut menggambarkan betapa mendadaknya insiden tersebut.
Baca juga: Kesaksian Penumpang KA Logawa saat Tabrakan dengan Truk, Berguncang Dikira Lindas Batu
Hingga kini Satlantas Polres Nganjuk masih memeriksa petugas penjaga perlintasan, mengumpulkan keterangan para saksi, serta mendalami rekaman CCTV untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan.
Berikut empat fakta terbaru kecelakaan KA Logawa menabrak truk JNT di Bagor Nganjuk yang berhasil dihimpun.
Fakta paling menyita perhatian adalah dugaan palang pintu perlintasan terlambat ditutup sesaat sebelum KA Logawa melintas.
Kanit Gakkum Satlantas Polres Nganjuk, Ipda Wahby Irfan Izzudin, menyebut identifikasi awal mengarah pada kemungkinan adanya kelalaian petugas penjaga perlintasan. Namun, polisi masih belum menyimpulkan penyebab pasti karena proses penyelidikan masih berlangsung.
"Identifikasi awal, kemungkinan petugas penjaga jalan lintasan telat menutup palang pintu," kata Wahby.
Polisi kini memeriksa sejumlah saksi, termasuk petugas penjaga perlintasan, untuk memastikan rangkaian kejadian sebelum tabrakan terjadi.
Penyelidikan diperkuat dengan rekaman CCTV di lokasi perlintasan JPL 103 Bagor.
Dari rekaman yang dihimpun, terlihat palang pintu belum tertutup ketika truk JNT memasuki perlintasan. Palang justru mulai bergerak menutup hampir bersamaan dengan datangnya KA Logawa.
Akibatnya, truk tidak memiliki cukup waktu untuk keluar dari jalur rel hingga akhirnya dihantam kereta api.
Polisi memastikan rekaman CCTV menjadi salah satu alat bukti penting untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan.
Benturan keras tidak hanya menghancurkan bagian depan truk ekspedisi JNT.
Setelah tertabrak KA Logawa, badan truk terpental hingga mengenai pengendara Honda Supra AG 3530 XA yang berada di sekitar lokasi.
Akibatnya, sopir truk Tabah Nur Arriski (21), warga Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, meninggal dunia karena mengalami luka berat di kepala, tangan, dan kaki.
Sementara pengendara motor Djamiran (64), warga Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk, mengalami patah tangan kanan serta luka pada kaki dan kini menjalani perawatan intensif di RSUD Nganjuk.
Di dalam kereta, sebagian penumpang ternyata tidak langsung menyadari telah terjadi kecelakaan.
Muhammad Zidan (20), salah satu penumpang KA Logawa tujuan Surabaya-Yogyakarta, mengaku hanya merasakan guncangan dan suara pengereman mendadak.
Awalnya ia mengira kereta hanya melindas batu yang berada di atas rel.
"Saya kira guncangan itu imbas roda kereta melindas batu di rel. Saya kira ada orang iseng meletakkan batu di atas rel. Ternyata kecelakaan. Kereta juga sempat mengerem," ungkap Zidan
(Danendra Kusuma/TribunMataraman.com)