Minim Gerak dan Konsumsi Kafein Jadi Ancaman Utama Kualitas Tidur Kaum Urban
Hari Susmayanti July 10, 2026 09:02 AM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah tuntutan produktivitas kaum urban yang kian tinggi, tidur sering kali dikorbankan atau dipaksa tunduk pada standar kesempurnaan yang keliru. 

Banyak orang terjebak dalam obsesi durasi delapan jam atau kewajiban terlelap sebelum tengah malam tanpa memahami biologis tubuh sendiri. 

Padahal, kualitas pemulihan (recovery) yang buruk menjadi ancaman nyata bagi ketangguhan fisik dan mental, khususnya bagi perempuan modern yang bergerak aktif.

Menjawab tantangan tersebut, Garmin Indonesia menggelar ajang bertajuk Women of Endurance: Sleep & Recharge di Yogyakarta, Kamis (9/7/2026). 

Melalui kolaborasi bersama Alga, lifelabs, dan Tumbuh Yoga Space, acara ini dirancang untuk menyelaraskan pendekatan teknologi kesehatan modern dengan kearifan lokal Jawa. 

"Nilai kearifan lokal Yogyakarta ini menekankan pentingnya keselarasan, istirahat, dan pemulihan sebagai fondasi utama dalam menjalani kehidupan sehari-hari," Chandrawidhi Desideriani, Marketing Communications Senior Manager Garmin Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Certified Sleep & Recovery Coach, Vishal Dasani, menegaskan bahwa kemampuan untuk beristirahat sebenarnya bukanlah keterampilan rumit yang harus dipelajari dari nol, melainkan bakat bawaan manusia. Sejac berada di dalam kandungan, tubuh manusia telah dirancang dengan tiga bakat biologis dasar: mencari makan, bereproduksi, dan tidur. 

Namun, intervensi gaya hidup modern dan kesalahan pola pikir perlahan mematikan fungsi natural tersebut.

Menurut Vishal, kegagalan terbesar masyarakat modern dalam beristirahat berakar pada persepsi bahwa tidur yang berkualitas harus seragam. 

Banyak orang merasa cemas jika tidak mampu terlelap sebelum jam 11 atau 12 malam, sebuah kekhawatiran yang justru memicu insomnia psikologis.

"Mengharuskan semua orang tidur sebelum jam 12 malam agar berkualitas itu ibarat memaksa seluruh masyarakat memakai ukuran sepatu yang sama, misalnya ukuran 36. Aturan itu mungkin cocok untuk sebagian orang, tetapi tidak untuk semua orang," ujar pria kelahiran Yogyakarta lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

Baca juga: 127 Siswa SD hingga SMA di DIY Terima Beasiswa Mentari Lazismu UMY, Total Rp79,3 Juta

Secara biologis, tubuh dikendalikan oleh ritme sirkadian yang berfungsi sebagai pusat jadwal hormonal di otak. 

Jadwal ini mengatur kapan hormon melatonin diturunkan sebagai sinyal istirahat, serta bagaimana suhu tubuh disesuaikan. 

Karena ritme ini sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, usia, dan pola aktivitas harian, maka jendela tidur setiap individu dipastikan berbeda secara personal.

Analogi Baterai Ponsel Pintar

Sistem kedua yang tidak kalah krusial adalah sleep pressure atau tekanan tidur, yang digambarkan sebagai rasa lapar tubuh akan istirahat. 

Tekanan ini berakumulasi sejak manusia terbangun di pagi hari dan bergerak aktif. 

Di sinilah letak hubungan erat antara pergerakan fisik harian dengan kedalaman fase tidur seseorang.

Vishal memberikan analogi sederhana menggunakan gawai yang digunakan sehari-hari. 

Jika sebuah ponsel pintar diisi daya penuh hingga 100 persen di pagi hari namun hanya digunakan sesekali karena kesibukan rapat, maka daya baterai di sore hari mungkin hanya berkurang sedikit. 

Hal yang sama terjadi pada tubuh manusia yang tidak aktif bergerak atau terjebak dalam gaya hidup santai.

"Jika badan Anda tidak digerakkan atau terlalu banyak duduk, jangan kaget kalau tidur Anda menjadi dangkal dan singkat. Otak akan berpikir tidak perlu tidur lama karena energinya tidak terpakai sepanjang hari," jelasnya.

Sesi edukasi ini juga membongkar kebiasaan konsumsi minuman berkafein, seperti kopi, teh, boba, matcha, hingga minuman berenergi, yang kerap dijadikan kompensasi atas rasa lelah. 

Banyak orang urban merasa bangga dan mengklaim tubuh mereka kebal terhadap efek kafein karena tetap bisa langsung tertidur pulas meski mengonsumsi kopi di malam hari.

Secara medis, kafein bekerja dengan cara membajak reseptor adenosin (senyawa kimia otak yang memicu rasa lelah). 

Ketika kafein menempati "tempat parkir" adenosin tersebut, otak tidak akan menerima sinyal kelelahan fisik. 

Mengingat kafein memiliki waktu paruh yang panjang di dalam tubuh (berkisar antara 6 hingga 8 jam), dampaknya terhadap arsitektur tidur tetap terjadi secara masif meskipun seseorang berhasil terlelap.

"Banyak yang merasa kebal minum kopi malam hari lalu bisa langsung tidur. Padahal, kafein diam-diam memangkas total durasi tidur Anda hingga satu jam dan membuat fasenya jauh lebih dangkal. Itulah alasan mengapa Anda tetap merasa lelah dan tidak segar saat terbangun di pagi hari," tegas Vishal.

​Upaya menjaga keseimbangan kesehatan dan mental, khususnya bagi perempuan, juga menjadi perhatian serius Pemerintah Daerah DIY. 

Kepala DP3AP2 DIY, Erlina Hidayati, menekankan bahwa pihaknya berkomitmen penuh dalam mendukung kesejahteraan perempuan melalui berbagai layanan komprehensif. 

"Kami menyediakan layanan konseling, konsultasi, hingga terapi perubahan perilaku jika dibutuhkan melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) secara offline atau Telekonseling Sahabat Anak dan Keluarga (Tesaga) yang beroperasi 24 jam secara online," ujar Erlina. 

Layanan ini dipastikan profesional karena melibatkan psikolog dan konselor, serta dijamin kerahasiaannya dan tidak dipungut biaya.  

​Erlina menambahkan, dukungan terhadap perempuan dan ibu bekerja juga terus diperluas hingga ke tingkat kalurahan melalui program Desa Prima dan inisiatif kalurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak. 

"Kami mendorong kalurahan untuk memfasilitasi berdirinya Taman Pengasuhan Anak, Puspaga tingkat kalurahan, serta mengembangkan Kelompok Ekonomi Produktif Perempuan," jelasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.