TRIBUNNEWS.COM - Memasuki pertengahan Juli 2026, sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan mengalami kondisi cuaca yang cenderung lebih kering seiring meluasnya musim kemarau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa cuaca selama periode 10–16 Juli 2026 secara umum akan didominasi oleh kondisi cerah hingga cerah berawan dengan potensi hujan yang semakin berkurang di banyak daerah.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada karena sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang akibat pengaruh dinamika atmosfer.
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, musim kemarau kini terus meluas di berbagai wilayah Indonesia.
Hingga awal Juli 2026, sebanyak 342 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,9 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode sebelumnya, menunjukkan bahwa kondisi kering semakin mendominasi di berbagai daerah.
Indikasi menguatnya musim kemarau juga terlihat dari meningkatnya jumlah wilayah yang mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori sangat panjang.
BMKG mencatat terdapat 329 titik pengamatan yang mengalami hari tanpa hujan selama 31 hingga 60 hari secara berturut-turut.
Kondisi ini menjadi salah satu indikator bahwa musim kemarau mulai mencapai puncaknya di sejumlah wilayah Indonesia.
Analisis citra satelit menunjukkan adanya aliran massa udara kering dari wilayah selatan Indonesia, terutama di kawasan Samudra Hindia sebelah selatan Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Sulawesi Barat Hari Ini Jumat, 10 Juli 2026: Mayoritas Berawan
Kehadiran udara kering tersebut menyebabkan peluang terbentuknya awan hujan semakin berkurang, khususnya di wilayah selatan Indonesia seperti Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Selain itu, kondisi ini masih diperkuat oleh fenomena El Niño yang bertahan di Samudra Pasifik.
Nilai indeks Niño 3.4 yang masih berada pada kategori positif menunjukkan bahwa pengaruh El Niño masih cukup signifikan dalam menekan pembentukan hujan di sebagian wilayah Indonesia.
Meski demikian, musim kemarau bukan berarti seluruh wilayah akan bebas dari hujan.
Dinamika atmosfer yang masih aktif menyebabkan peluang terbentuknya awan hujan tetap ada di beberapa daerah.
BMKG juga mencatat bahwa Siklon Tropis Bavi yang berada di kawasan Laut Filipina masih memberikan pengaruh terhadap kondisi cuaca di Indonesia, meskipun posisinya cukup jauh dari wilayah Tanah Air.
Siklon dengan tekanan minimum sekitar 925 hPa dan kecepatan angin maksimum mencapai 100 knot tersebut bergerak ke arah barat laut sehingga semakin menjauhi Indonesia.
Namun, keberadaannya masih mampu memicu terbentuknya daerah konvergensi, konfluensi, dan peningkatan kecepatan angin di wilayah utara Indonesia.
Selain pengaruh siklon, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan Gelombang Rossby Ekuatorial juga diprakirakan masih aktif di sejumlah kawasan, mulai dari Samudra Hindia bagian timur laut, Laut Cina Selatan, Laut Sulawesi, hingga wilayah Papua.
Kombinasi fenomena atmosfer tersebut dapat meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan di beberapa daerah meskipun musim kemarau sedang berlangsung.
BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan kategori rendah pada Dasarian II Juli 2026.
Sebanyak 92,64 persen wilayah diprakirakan berada pada kategori curah hujan rendah atau kurang dari 50 milimeter per dasarian.
Kondisi tersebut mencakup sebagian besar Pulau Sumatra, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga sebagian Papua.
Sementara itu, wilayah dengan curah hujan kategori menengah diperkirakan hanya mencakup sekitar 7,32 persen wilayah Indonesia, sedangkan kategori tinggi hanya sekitar 0,04 persen.
Mengutip dari laman bmkg.go.id, pada periode 10 hingga 13 Juli 2026, cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan cerah berawan hingga hujan ringan.
Namun BMKG mengingatkan adanya potensi hujan dengan intensitas sedang di beberapa wilayah berikut:
Sementara itu, wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat dengan status Siaga adalah:
BMKG juga mengeluarkan peringatan potensi angin kencang di:
Memasuki periode 14 hingga 16 Juli 2026, kondisi cuaca secara umum masih didominasi cerah berawan hingga hujan ringan.
Namun peningkatan hujan dengan intensitas sedang diprakirakan masih berpotensi terjadi di:
Sedangkan potensi angin kencang diprakirakan terjadi di wilayah:
Meluasnya musim kemarau membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak cuaca panas.
BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan pelindung diri seperti topi atau tabir surya ketika beraktivitas di luar ruangan serta memenuhi kebutuhan cairan tubuh agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan akibat paparan sinar matahari.
Di sisi lain, masyarakat juga diingatkan bahwa musim kemarau tidak berarti hujan akan berhenti sepenuhnya.
Pada kondisi atmosfer tertentu, hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang masih dapat terjadi secara tiba-tiba di sejumlah wilayah.
Karena itu, pengendara maupun masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan diminta mewaspadai potensi pohon tumbang, baliho roboh, genangan air, serta sambaran petir.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk menghindari berteduh di bawah pohon besar atau bangunan yang tidak kokoh saat hujan disertai angin kencang.
Untuk memperoleh informasi terbaru, masyarakat disarankan rutin memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini BMKG melalui situs resmi, aplikasi InfoBMKG, maupun kanal media sosial resmi BMKG.
Dengan mengikuti informasi cuaca secara berkala, masyarakat dapat merencanakan aktivitas sehari-hari dengan lebih aman serta mengantisipasi potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi di tengah musim kemarau.
(Tribunnews.com/Farra)