Oleh : Ridha Risma Yunita, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi - Universitas Muhammadiyah Jakarta
Kata “efisiensi” hampir mendominasi pidato pejabat negara dari pusat, daerah hingga ke desa-desa dari awal 2026 hingga saat ini. Berbagai kebijakan Pemerintah akhirnya diwarnai pemangkasan, penyederhanaan dan transfer anggaran ke daerah terus ditekan.
Maka ketika suasana RTH Lalong berubah menjadi panggung cahaya, formasi indah yang dibentuk drone menari memukau ribuan warga yang memadati RTH malam itu.
Disusul upacara resmi dengan seremonial pemotongan tumpeng dan peluncuran aplikasi Banggai Digital Service pada hari berikutnya. Pertanyaan muncul “Ke mana wacana efisiensi itu?”
Sebetulnya perayaan HUT ke-66 Banggai yang berlangsung spektakuler sepanjang pekan ini menunjukan sisi lain yang menarik.
Ia memperlihatkan bagaimana sebuah wacana nasional yang sebelumnya nyaring terdengar bisa meredup di hadapan pemerintah kabupaten Banggai untuk tampil “membanggakan” di ruang digital.
Baca juga: Polres Tojo Una Una Gelar Latihan Dalmas, Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Unjuk Rasa
Efisiensi yang Berpindah
Dalam beberapa narasi di media, Panitia HUT Banggai menegaskan bahwa pembiayaan keseluruhannya tidak berasal dari APBD melainkan dari sponsorship perusahaan, perbankan, Hotel dan lainnya. Memang ini terdengar sebagai kabar baik, secara teknis artinya publik boleh percaya bahwa tak ada dana dari Pemerintah. Namun disinilah makna efisiensi berpindah pengurangan, penyederhanaan, ketepatan bergeser menjadi pengalihan sumber pembiayaan.
Artinya panggung harus tetap berdiri, acaranya tetap spektakuler, toh yang biayai pihak ketiga.
Padahal, perayaan ini tidak membuat legitimasi politik berpindah mengikuti siapa yang membiayai kegiatan. Publik tidak akan melihat ada siapa saja yang menjadi sponsorship, narasi keberhasilan pemerintah dalam sambutan kepala daerah di atas podium akan mengalir sebagai citra pemerintah itu sendiri terlepas dari siapa yang membayar.
Akhirnya, efisiensi anggaran negara berhasil dilakukan secara administratif, namun semangatnya kesederhanaan, ketepatan di tengah kondisi fiskal yang ekstrem redup sebelum benar-benar dipraktikan.
Baca juga: Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pemkab Poso Luncurkan Program JUMPA BERSERI
Di sela perayaan ini, panggung lain menyuguhkan angka-angka statistik pertumbuhan ekonomi, indeks pembangunan manusia yang naik, angka kemiskinan turun.
Semua itu dibacakan sebagai bentuk keberhasilan pembangunan. Benar saja jika itu berasal dari BPS tetapi penyajian yang disandingkan di tengah acara spektakuler membuat publik sulit memverifikasi drone dan artis lebih menarik dari keabsahan informasi itu mungkin. Publik dengan mudah menerima klaim keberhasilan beriringan dengan menyusutnya budaya kritis.
AWK dan Redupnya Wacana Efisiensi
Wacana efisiensi yang meredup ini jika ditarik dalam perspektif media dan komunikasi politik dapat dibedah melalui kerangka Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough yang terdiri dari tiga dimensi; teks, praktik wacana dan praktik sosial.
Fenomena HUT Banggai akan mengisi kekosongan sejumlah kajian AWK yang didominasi oleh subjek media massa nasional ketimbang komunikasi pemerintahan daerah (Anjayani & Hudiyono, 2023; Pribadi et al., 2024).
Kata “efisiensi” dalam level teks nyaris tidak muncul dalam liputan tentang HUT Banggai, namun disampaikan secara tidak langsung berganti menjadi “sinergi”, sponsorship”, “kolaborasi” dan “bergerak maju”. Ini bukan kebetulan linguistik, melainkan pola yang dalam riset komunikasi politik dimana diksi yang dipilih pejabat publik untuk menonjolkan narasi keberhasilan dan citra kedekatan sembari meredupkan kerangka yang dinilai dapat mengundang kritik (Azmi et al., 2022; Prana Wukir et al., 2023).
Baca juga: Festival Danau Lindu 2026 Masuk 125 Karisma Event Nusantara, Digelar 23–25 Juli di Sigi
Level selanjutnya yaitu wacana dan praktik sosial. Hampir seluruh liputan HUT Banggai dikutip dari rilis dan dokumentasi resmi Pemkab, misalnya pidato gubernur dan bupati, semuanya nyaris identik di berbagai media tanpa suara pembanding dari siapapun baik dari DPRD, akademisi atau masyarakat sendiri.
Hal inilah yang membuat wacana efisiensi kehilangan ruang untuk dikritisi bukan dilarang, tetapi tidak ada yang memulai, tidak ada media yang memproduksi kerangka dan sudut pandang tanding. AWK menggambarkan relasi kuasa membuat media bergantung dalam hal akses serta hubungan baik dengan narasumber resmi.
Dominasi wacana semacam ini akhirnya dinaturalisasi, situasi semacam seremoni acara spektakuler tampil sebagai hal yang wajar tanpa perlu dipertanyakanapalagi soal konsistensi efisiensi?
Bukan Soal Menentang Perayaan, Tapi Soal Narasi yang Konsisten.
Baca juga: 16 Mahasiwa UIN Datokarama Palu Anjangsana ke TribunPalu.com, Pelajari Kerja Jurnalistik Digital
Tak ada yang salah dari merayakan hari jadi daerah. Masyarakat Banggai berhak atas hiburan, silaturahmi dan rasa bangga kepada daerahnya—sah-sah saja untuk didapatkan, baik acara ini disponsori atau tidak. Yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana wacana efisiensi ini berjalan beriringan dengan praktik, bukan hanya seruan dalam forum resmi. Ketika perayaan ini berjalan seolah efisiensi tak pernah diucapkan, publik berhak bertanya.
Bisa jadi acara ini memang murni dibiayai sponsor, dan capaian ekonomi yang disebut memang riil serta terverifikasi BPS.
Tapi tugas kritik publik bukan menerima klaim apa adanya melainkan terus bertanya: siapa sponsornya, apa kepentingannya, dan apakah semangat efisiensi yang katanya sedang diperjuangkan bersama benar-benar hidup, atau justru meredup pelan-pelan di balik kerlip drone dan gegap gempita panggung.
Wacana efisiensi tidak selalu mati karena dilanggar terang-terangan ia lebih sering meredup karena dialihkan diam-diam ke pos yang tak lagi terlihat oleh publik.
Bisa jadi perayaan ini murni dibiayai sponsor dan capaian-capaian Pemerintah Banggai memang riil serta terverifikasi. Tetapi tugas publik mengkritisi bukan menerima klaim apa adanya— melainkan terus mempertanyakan apakah efisiensi adalah semangat yang sama-sama hidup dan dijalankan, ataukah telah meredup di balik kerlip drone dan gegap gempita panggung. Tidak dilanggar terang-terangan melainkan berpindah. (*)