TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,SINTANG - Gagal menembus perguruan tinggi negeri bukanlah akhir bagi Novalinda Nuraini.
Di tengah kekecewaan itu, lulusan MAN 1 Sintang ini memilih membuka lembaran baru dengan mencari peluang beasiswa di internet. Keputusan sederhana itu perlahan mengubah arah hidupnya.
Beberapa pekan lagi, gadis berusia 17 tahun itu akan meninggalkan pekerjaannya sebagai Waiters di sebuah kafe di Kota Sintang untuk terbang ke Tiongkok.
Di Negeri Tirai Bambu, ia akan menempuh pendidikan Teknik Mesin di Xuzhou College of Industrial Technology melalui program beasiswa dari Xuzhou Construction Machinery Group (XCMG), perusahaan produsen alat berat dan mesin konstruksi ternama asal Tiongkok.
Di sela kesibukannya menyajikan pesanan pelanggan di Li Tiam Cafe, Baning Kota, Kecamatan Sintang, tak banyak yang mengetahui bahwa pelayan muda yang ramah itu tengah menghitung hari menuju babak baru dalam hidupnya.
Akhir Agustus nanti, Nova akan meninggalkan kampung halaman demi mengejar cita-cita di salah satu negara dengan perkembangan teknologi paling maju di dunia.
Baca juga: Kemenkes Resmi Perpanjang Pendaftaran Beasiswa Sehat 2026, Simak Syarat Lengkapnya
Nova, gadis kelahiran 18 November 2008, merupakan anak pertama dari empat bersaudara, putri pasangan Fahrul Armaini dan M. Melly. Sejak awal Juni 2026, ia memilih bekerja paruh waktu di Li Tiam Cafe sambil menunggu jadwal keberangkatannya.
Keberhasilan itu bukan datang secara kebetulan. Sebelum menemukan kesempatan kuliah ke Tiongkok, Nova sempat mengikuti Seleksi Mandiri Bersama Perguruan Tinggi Negeri (SMBT) di Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Tanjungpura (Untan). Namun hasilnya belum sesuai harapan.
Alih-alih menyerah, ia justru mencari peluang lain melalui internet.
"Saya cari informasi beasiswa luar negeri. Ketemu yang sesuai dengan saya, lalu saya langsung daftar dan ikut wawancara. Ternyata saya lulus," katanya.
Program beasiswa tersebut mensyaratkan nilai akademik di atas delapan serta kemampuan berbahasa Inggris. Berbekal prestasi akademik selama menempuh pendidikan di MAN 1 Sintang dan kemampuan bahasa Inggris yang dimilikinya, Nova berhasil melewati seluruh tahapan seleksi.
Meski berstatus beasiswa internasional, pembiayaan yang diberikan tidak sepenuhnya menanggung seluruh kebutuhan mahasiswa.
"Yang ditanggung itu biaya pendidikan dan tempat tinggal. Untuk biaya hidup kami tanggung sendiri," jelasnya.
Setibanya di Tiongkok nanti, Nova akan mengikuti program kursus Bahasa Mandarin selama satu tahun tanpa dipungut biaya. Sementara itu, proses perkuliahan akan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Perempuan yang sejak SMA mengambil jurusan IPA itu mengaku tidak pernah ragu memilih Teknik Mesin. Baginya, dunia teknologi telah lama menjadi bidang yang ingin ia tekuni.
"Saya memang minat di bidang IPA, apalagi teknologi. Di Tiongkok perkembangan teknologinya sangat maju, jadi saya tertarik belajar di sana," ungkapnya.
Pendidikan yang akan ditempuh diperkirakan berlangsung selama tiga hingga empat tahun. Setelah lulus, Nova juga telah terikat kontrak kerja selama dua tahun dengan perusahaan pemberi beasiswa. Artinya, sedikitnya lima tahun ke depan akan ia habiskan di negeri yang dikenal sebagai salah satu pusat industri dan inovasi teknologi dunia.
Keputusan melepas anak pertama pergi seorang diri ke luar negeri tentu bukan perkara mudah bagi kedua orang tuanya.
Pada awalnya, mereka diliputi rasa khawatir. Berulang kali mereka mencari informasi untuk memastikan kampus tujuan benar-benar ada dan program beasiswa tersebut bukan penipuan.
Setelah memperoleh kepastian, rasa cemas itu perlahan berubah menjadi dukungan penuh.
"Orang tua awalnya takut karena saya berangkat sendiri ke luar negeri. Tapi setelah mereka cari tahu tentang universitasnya dan ternyata memang benar, mereka akhirnya mendukung," tutur Nova.
Meski mengaku sedih harus berpisah jauh dari keluarga, Nova memandang kesempatan itu sebagai pintu menuju masa depan yang lebih baik.
"Kalau sudah di sana saya harus benar-benar bisa. Ini langkah pertama menuju kesuksesan. Walaupun berat meninggalkan Indonesia dan orang tua, saya harus bertanggung jawab dengan pilihan ini. Minimal saya harus bisa Bahasa Mandarin," katanya penuh keyakinan.
Kepala MAN 1 Sintang, Ahmad Yani menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kerja keras dan dedikasi yang ditunjukkan oleh Novalinda. Prestasi ini dianggap sebagai bukti nyata bahwa siswa-siswi madrasah memiliki daya saing yang mampu menembus level global.
“Kami sangat bangga dan bersyukur atas capaian ini. Novalinda adalah bukti bahwa dengan kemauan, ikhtiar, dan doa, siswa dari daerah pun mampu bersaing di kancah internasional. Semoga pencapaian ini dapat menjadi motivasi bagi siswa-siswi lainnya di MAN 1 Sintang untuk terus mengejar mimpi setinggi mungkin,” ujarnya.
Novalinda sendiri dikenal sebagai siswi yang tekun dan aktif selama masa studinya di MAN 1 Sintang.
Pemilihan Jurusan Teknik Mesin menunjukkan minat dan kesiapan dirinya untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi industri global yang saat ini berkembang pesat di Tiongkok.
Dengan keberhasilan ini, Novalinda diharapkan dapat menjadi duta pendidikan yang membawa nama baik MAN 1 Sintang dan Indonesia di lingkungan akademik internasional.
Setelah menyelesaikan urusan administrasi dan persiapan keberangkatan, ia dijadwalkan akan memulai studinya di Tiongkok dalam waktu dekat.
Keluarga besar MAN 1 Sintang mendoakan agar seluruh proses studi Novalinda berjalan lancar dan ilmu yang ia peroleh di sana nantinya dapat bermanfaat bagi kemajuan bangsa, khususnya dalam bidang teknik dan industri di tanah air.
Ketua Komite MAN 1 Sintang, Usmandy mengaku bangga atas keberhasilan Novalinda. Menurutnya, prestasi internasional ini merupakan bukti nyata bahwa alumni MAN 1 Sintang memiliki kualitas, daya saing yang tinggi, dan mampu menembus ketatnya seleksi pendidikan di kancah global. Keberhasilan ananda Novalinda tidak hanya mengharumkan nama keluarga dan madrasah, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Sintang.
"Atas nama seluruh pengurus Komite dan keluarga besar MAN 1 Sintang, saya mengucapkan selamat dan rasa bangga yang setinggi-tingginya kepada ananda Novalinda Nuraini atas capaian luar biasanya meraih beasiswa kuliah ke China," kata Usmandy.