Seorang pejabat senior Gedung Putih menyatakan bahwa campur tangan Perdana Menteri Sir Keir Starmer terkait waktu kick-off pertandingan antara Meksiko dan Inggris dianggap "jauh lebih serius" dibandingkan dengan upaya Presiden Donald Trump melobi FIFA dalam kasus kartu merah, yang melibatkan Folarin Balogun.
Andrew Giuliani, Direktur Eksekutif Satuan Tugas Piala Dunia Gedung Putih, membuat perbandingan tersebut dan menegaskan bahwa tindakan Perdana Menteri memiliki dampak yang lebih besar.
Diketahui, Sir Keir mendukung langkah Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) yang berupaya mencegah FIFA mengubah waktu kick-off pertandingan di Kota Meksiko dari pukul 18.00 menjadi pukul 12.00 siang.
Perubahan jadwal tersebut dinilai akan sangat mengganggu persiapan Timnas Inggris menghadapi laga babak 16 besar di ketinggian yang ekstrem.
Giuliani berpendapat bahwa hal ini lebih signifikan dibanding dengan panggilan Presiden Trump kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk meminta "tinjauan ulang" atas keputusan pengusiran Balogun.
Setelah intervensi tersebut, FIFA melalui komite disiplin menangguhkan larangan bermain bagi penyerang Amerika Serikat itu.
Giuliani menjelaskan, “Saya melihat keterlibatan Starmer sebagai situasi yang jauh lebih serius, mengingat alasan di balik rencana untuk memajukan jadwal pertandingan adalah karena tiga warga Meksiko kehilangan nyawa setelah laga babak 32 besar melawan Ekuador. Pertandingan tersebut selesai larut malam dan menyebabkan lebih dari satu juta orang berkumpul di pusat kota.”
Ia menambahkan, “Alasan pembahasan itu dilakukan berkaitan dengan keselamatan dan nyawa manusia. Saya pikir di situlah fokus diskusi seharusnya — bukan pada permainan di lapangan.”
“Satu intervensi terkait dengan keselamatan jiwa, sementara yang lain hanya soal permainan di lapangan. Perbedaannya sangat jelas,” tegas Giuliani.
FIFA sempat menghadapi tuduhan adanya campur tangan politik — hal yang secara tegas dilarang dalam peraturannya — terkait kasus Balogun. Namun, Gianni Infantino menegaskan bahwa seluruh komite di organisasinya bekerja secara independen.
Juru bicara resmi Perdana Menteri berusaha membedakan kedua insiden tersebut ketika ditanya pada hari Selasa. Ia berkata, “Perdana Menteri dengan jelas menyatakan bahwa ia mendukung langkah yang diambil oleh Asosiasi Sepak Bola Inggris terkait dampak praktis dari usulan perubahan jadwal terhadap persiapan tim.”
“Keputusan akhir mengenai waktu pertandingan tetap menjadi kewenangan FIFA.”
“Namun, sebagaimana telah kami sampaikan berulang kali, keputusan mengenai masalah disiplin dan penerapan peraturan permainan merupakan tanggung jawab FIFA serta otoritas sepak bola terkait.”
Giuliani juga kembali membela keputusan Presiden untuk turun tangan dalam kasus Balogun. Ia mengatakan, “Inilah kenyataannya tentang Presiden Trump. Presiden Trump menginginkan permainan yang adil.”
“Permainan yang adil baik di kotak suara maupun di lapangan. Saya rasa keputusan akhir yang diambil sudah tepat (dalam menangguhkan larangan bermain Balogun).”
“Salut untuk Belgia. Presiden mengatakan, ‘jika Belgia menang dan mereka memang lebih baik, maka kita harus mengakuinya’. Kami menurunkan pemain terbaik kami, mereka juga menurunkan pemain terbaik mereka, dan pada hari Senin mereka memang tampil jauh lebih baik. Pertandingannya tidak seimbang,” pungkasnya.