TRIBUNSUMSEL.COM -- Perjalanan karier seorang wanita sering kali dihadapkan pada persimpangan jalan yang sulit antara ambisi profesional dan kehangatan keluarga.
Dilema nyata ini pernah dirasakan langsung oleh dr. Reny Puspita, MARS, MH., yang kini sukses menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Hermina Palembang.
Sebelum duduk di kursi pimpinan tertinggi rumah sakit, dr. Reny mengaku sempat melewati fase galau yang cukup berat dalam hidupnya.
Sebagai lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri) tahun 2007, cita-cita awalnya sama seperti dokter umum kebanyakan, yaitu melanjutkan pendidikan untuk menjadi seorang dokter spesialis.
Namun, ketika kesempatan sekolah spesialis itu terbuka lebar di depan mata, ia justru dihadapkan pada realitas keluarga.
Saat itu, anak-anaknya baru saja mulai memasuki bangku sekolah dan sangat membutuhkan kehadiran sosok ibu di sisinya.
Pengalaman ini ia ceritakan ketika menghadiri Podcast Women's Corner di Tribun Sumsel yang beralamat Jalan Letjen H. Alamsyah Ratu Perwiranegara No. 120, Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang, Sumatera Selatan.
"Itu dulu dengan segala kegalauan, Mbak Yeni. Karena awalnya kan saya memang pengin ini ya pengin menjadi seorang dokter spesialis. Berjalannya waktu, kesempatan ada, kemudian mungkin pertimbangan keluarga. Ya, pada saat itu anak masih ee mulai sekolah, baru awal-awal mulai sekolah saya mempertimbangkan kalau saya harus sekolah spesialis, mengambil spesialis, meninggalkan anak-anak gitu ya. Ini sebenarnya yang jadi prioritas saat ini hidup siapa gitu ya, anak-anak atau saya pribadi gitu," ungkap dr. Reny mengingat masa lalunya dalam tayangan Podcast Women Corner pada 7 Juli 2026.
Kegalauan dr. Reny bukan tanpa alasan.
Melanjutkan studi spesialis menuntut komitmen penuh waktu yang sangat menyita energi, waktu, bahkan mengharuskannya melepas pekerjaan yang sudah ada.
"Sebenarnya di UNSRI banyak sekali ya pendidikan spesialis yang terbuka. Tapi memang untuk sekolah itu kita harus full time. Karena pagi menjalani dunia pendidikan akademisnya, sore malam itu kan harus ada jadwal jaga ya sebagai residen. Jadi memang harus stop dari pekerjaan, bahkan resign," jelasnya.
Di tengah badai batin tersebut, restu dan pandangan dari sang suami juga menjadi penentu langkahnya.
Suami dr. Reny sempat melontarkan pertanyaan mendasar mengenai masa depan pengasuhan anak-anak mereka jika ia memilih pergi menempuh pendidikan spesialis.
"Suami sempat mempertanyakan sebetulnya nanti mama kalau sekolah siapa yang ngurusin anak-anak? Siapa yang ngurusin suami gitu ya. Nah, itu ada faktor itu juga saya merasa oke saya harus memprioritaskan. Jadi itulah tantangan yang dihadapi kita sebagai wanita pekerja membangun karir. Bagaimana bisa menyeimbangkan antara karir dengan keluarga. Karena tetap keluarga menjadi prioritas nomor satu," tuturnya.
Atas dasar prioritas keluarga itulah, dr. Reny mengambil keputusan besar untuk memendam sementara ego pribadinya.
Tuhan ternyata punya rencana lain.
Di tengah keputusan menunda sekolah spesialis, peluang di jalur manajemen struktural rumah sakit justru terbuka secara tidak terduga di RS Hermina.
Sambil menunggu anak-anaknya tumbuh besar, dr. Reny memilih mengambil S2 Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS).
Langkah tak terduga inilah yang kemudian menjadi garis balik yang mengantarkannya pada puncak karier manajerial.
Mulai merangkak dari dokter jaga IGD pada 2011, kariernya melesat menjadi Manajer Pelayanan Medis, Wakil Direktur Medis, hingga dipercaya memimpin pembangunan dan operasional RS Hermina Opi Jakabaring pada 2018 sebagai Direktur.
Karier cemerlang itu membawanya kembali ke RS Hermina Palembang sebagai direktur sejak tahun 2020 hingga sekarang.
Kini, setelah melewati semua fase pasang surut tersebut, dr. Reny memandang keputusannya di masa lalu dengan senyuman dan rasa syukur yang mendalam.
"Semua harus patut disyukuri ya, harus harus ada pilihan, harus dipilih ya, harus memilih gitu. Betul. Dan akhirnya ya inilah jalannya gitu ya. Tuhan menggiring saya gitu untuk menetapkan hati ke manajerial rumah sakit dan alhamdulillah saya bisa menikmati itu sampai sekarang," pungkas dr. Reny dengan penuh keikhlasan.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com