TRIBUNJOGJA.COM- Pernah merasa ada yang berbeda setelah menamatkan sebuah film?
Rasanya seperti kehilangan sesuatu, hampa, suasana hati mendadak berubah, bahkan muncul keinginan untuk terus memikirkan alur cerita dan para tokohnya.
Bagi sebagian orang, pengalaman ini mungkin terdengar berlebihan.
Namun, tidak sedikit juga yang mengaku merasakan kesedihan atau kehampaan setelah cerita yang mereka ikuti selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, akhirnya selesai.
Fenomena terserbut sering kali dibicarakan di media sosial.
Banyak warganet membagikan pengalaman sulit move on setelah menonton drama tertentu.
Ada yang langsung memutar ulang episode favorit, mencari video di balik layar atau behind the scene, hingga mengikuti akun media sosial para pemerannya untuk mengurangi rasa kehilangan.
Psikologi menjelaskan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk terhubung secara emosional dengan sebuah cerita, termasuk karakter fiksi yang hanya ada di layar.
Ketika Penonton “Masuk” ke Dalam Cerita
Salah satu konsep yang menjelaskan pengalaman tersebut adalah Narrative Transportation Theory yang diperkenalkan oleh Melanie Green dan Timothy Brock pada tahun 2000.
Teori ini menggambarkan bagaimana seseorang dapat “terbawa masuk” ke dalam sebuah cerita hingga perhatian, emosi, dan imajinasinya seolah menyatu dengan dunia yang sedang ditonton.
Saat seseorang benar-benar larut dalam sebuah film ataupun drama, otak tidak hanya memproses alur cerita sebagai hiburan.
Penonton juga ikut merasakan ketegangan, kebahagiaan, bahkan kesedihan yang dialami para tokohnya.
Itulah sebabnya adegan perpisahan, kegagalan, atau akhir cerita yang emosional dapat meninggalkan kesan mendalam.
Semakin kuat seseorang tenggelam dalam cerita, semakin besar pula kemungkinan munculnya rasa kosong ketika kisah tersebut berakhir.
Penelitian Green dan Brock menunjukkan bahwa pengalaman transportation dapat membuat penonton lebih mudah terhubung dengan narasi, mengingat isi cerita, hingga merasakan emosi yang muncul selama mengikuti alurnya.
Dengan kata lain, seseorang tidak hanya menonton, tetapi juga seperti “mengalami” cerita tersebut.
Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa sebuah film atau drama terkadang tetap terbayang bahkan beberapa hari setelah selesai ditonton.
Bukan karena sulit membedakan kenyataan dengan fiksi, melainkan karena otak masih memproses pengalaman emosional yang baru saja dialami.
pengalaman emosional yang baru saja dialami.
Merasa Dekat dengan Tokoh Film, Padahal Tidak Pernah Bertemu
Selain karena larut dalam cerita, rasa hampa setelah menonton film maupun drama juga dapat muncul karena penonton merasa memiliki kedekatan emosional dengan karakter yang mereka ikuti.
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai Parasocial Relationship atau hubungan parasosial.
Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh sosiolog Donald Horton dan Richard Wohl pada 1956.
Parasocial relationship menggambarkan hubungan satu arah yang terbentuk antara seseorang seseorang dengan figure di media, seperti tokoh film ataupun selebritas.
Meski tidak mengenal secara langsung, penonton dapat merasa akrab karena terus mengikuti kehidupan tokoh tersebut.
Perasaan ini pun dapat berkembang ketika seseorang menghabiskan waktu berjam-jam mengikuti alur cerita.
Penonton menyaksikan bagaimana karakter menghadapi konflik, menjalin hubungan, hingga menagalami kehilangan atau kebahagiaan.
Tanpa disadari, otak mulai memperlakukan karakter tersebut layaknya seseorang yang sudah dikenal.
Penelitian menjelaskan bahwa hubungan parasosial merupakan pengalaman yang umum terjadi dan dapat memberikan dampak emosional, baik maupun negatif.
Di satu sisi, hubungan ini bisa menghadirkan hiburan atau sumber inspirasi.
Namun di sisi lain, berakhirnya sebuah cerita atau kepergian karakter favorit juga dapat memunculkan rasa sedih dan kehampaan untuk sementara waktu.
Perasaan tersebut biasanya menjadi lebih kuat ketika cerita memiliki banyak episode.
Semakin lama seseorang mengikuti suatu karakter, semakin besar pula keterikatan emosionalnya.
Meski demikian, pengalaman ini merupakan bagian dari cara manusia merespons sebuah cerita.
Selama tidak mengganggu aktivitas sehari-hari atau membuat seseorang terus-menerus terjebak dalam emosi negatif, rasa redih setelah menamatkan film atau drama termasuk reaksi yang wajar.
Mengapa Rasa Hampa Itu Muncul
Saat sebuah film atau drama berakhir, otak tidak hanya kehilangan cerita yang dinikmati, tetapi juga rutinitas yang selama ini memberikan pengalaman emosional.
Penonton yang sebelumnya terbiasa mengikuti atau menantikan kelanjutan alur cerita harus menerima bahwa hal tersebut telah selesai.
Pengalaman ini dapat menimbulkan perasaan kehilangan sementara karena oak membutuhkan waktu untuk beralih dari dunia fiksi ke aktivitas sehari-hari.
Terlebih jika cerita yang diikuti memberikan kesan mendalam atau memiliki alur yang emosional.
Fenomena ini sering disebut sebagai Post-Series Blues atau Post-Series Blues Syndrome di media dan kalangan penggemar.
Perlu dipahami bahwa post-series blues bukanlah diagnosis gangguan mental yang diakui dalam dunia medis maupun psikologi klinis.
Istilah ini lebih digunakan untuk menggambarkan rasa sedih, kosong, hampa atau kehilangan yang dirasakan sebagian orang setelah menamatkan sebuah film atau drama yang sangat disukai.
Pada umumnya, perasaan tersebut hanya berlangsung sementara dan akan berangsur menghilang ketika seseorang kembali menjalani rutinitas atau menemukan aktivitas lain yang menarik perhatian.
Cara Menyikapi Rasa Hampa setelah Menonton Film
Merasa sedih setelah menatmkan sebuah cerita menunjukkan bahwa film atau drama tersebut berhasil membangun keterlibatan emosional dengan penontonnya.
Agar perasaan tersebut tidak berlarut-larut, ada beberapa cara yang bisa dilakukan.
Misalnya, memberi jeda sebelum langsung mencari drama baru, berdiskusi dengan teman mengenai cerita yang baru ditonton, atau membaca ulasan untuk melihat sudut pandang lain terhadap akhir cerita.
Mengembalikan fokus pada aktivitas sehari-hari juga dapat membantu otak untuk beradaptasi setelah selesai mengikuti sebuah cerita.
Berolahraga ringan, membaca buku, atau melakukan hobi pun bisa menjadi cara untuk mengalihkan perhatian tanpa harus menghilangkan kenangan terhadap film yang disukai.
Jika suatu saat Tribunners merasakan kehampaan setelah menonton film atau drama favorit, tidak perlu buru-buru menganggapnya sebaga sesuatu yang aneh.
Selama hal tersebut bersifat sementara dan tidak mengganggu aktifitas sehari-hari, kondisi tersebut merupakan respon emosional yang wajar.
Tertawa, menangis, atau merasa kehilangan setelah mengikuti sebuah cerita menunjukkan bahwa manusia memiliki empati dan imajinasi yang kuat.
Itulah yang membuat sebuah film tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga pengalaman emosional yang dapat membekas bahkan setelah cerita berakhir.
(MG- Mayumi Cinta Mahesi)