TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU -- Penanganan bencana tidak hanya bergantung pada kesiapan personel dan peralatan, tetapi juga pada efektivitas komunikasi antarpemangku kepentingan.
Atas dasar itu, tim peneliti Pusat Studi Industri dan Perkotaan (PSIP) Universitas Riau menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan berbagai instansi dan media massa di Hotel The Zuri Pekanbaru, Jumat (10/7/2026), guna menghimpun masukan dalam penyusunan model mitigasi risiko bencana berbasis komunikasi krisis.
Ketua Tim Peneliti PSIP Universitas Riau, Dr. Nur Laila Meilani, M.Si., mengatakan, FGD tersebut sengaja menghadirkan berbagai pemangku kepentingan agar tim peneliti memperoleh data, pengalaman lapangan, serta masukan yang komprehensif mengenai karakteristik bencana di Riau, pola komunikasi saat kondisi darurat, hingga strategi mitigasi yang telah diterapkan oleh masing-masing instansi.
Menurut Nur Laila, hasil diskusi ini akan menjadi bahan penting dalam penyusunan model mitigasi risiko bencana yang tidak hanya berbasis teori, tetapi juga sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah. Dengan demikian, rekomendasi yang dihasilkan diharapkan dapat memperkuat sistem komunikasi krisis dalam penanggulangan bencana di Riau.
Ia menjelaskan, pembahasan dalam FGD difokuskan pada persepsi para peserta terhadap risiko bencana, penyelenggaraan komunikasi krisis di Riau, serta bagaimana komunikasi risiko bencana dapat dibangun secara lebih efektif melalui kolaborasi lintas sektor.
Selain Nur Laila, kegiatan tersebut juga dihadiri anggota tim riset Dr. Rumyeni bersama sejumlah anggota tim peneliti lainnya yang turut memfasilitasi jalannya diskusi dan menggali berbagai informasi dari para peserta.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi diskusi. Perwakilan dari masing-masing instansi menyampaikan pengalaman dalam menghadapi berbagai jenis bencana di wilayahnya, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, banjir, cuaca ekstrem, hingga tantangan dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat saat situasi darurat.
Melalui FGD ini, tim peneliti berharap dapat merumuskan model komunikasi krisis yang lebih efektif sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko bencana di Riau. Masukan dari pemerintah, akademisi, praktisi, dan media diharapkan menjadi landasan dalam menghasilkan rekomendasi yang dapat mendukung kebijakan penanggulangan bencana secara lebih terintegrasi. (Tribunpekanbaru.com/Alexander)